Kegiatan SLPHT di poktan Giat Bepakat Desa Teluk Mesjid ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 14 Agustus 2020 dengan judul materi tentang “OPT Tikus dan Pengendaliannya”. Narasumber dari kegiatan SL PHT ini adalah Farida Adriani, SP dan turut di damping oleh Dewi Rahmiyati. SLPHT dipilih sebagai metode pemberdayaan petani karena memiliki kelebihan-kelebihan diantaranya berprinsip pada pendidikan orang dewasa, cara belajar lewat pengalaman, perencanaan partisipatoris, keputusan bersama anggota kelompok, petani sebagai manajer usahataninya, materi pelatihan berdasarkan kebutuhan lapangan, pelatihan selama satu siklus perkembangan tanaman / satu musim tanam. Pada kegiatan SL PHT ini, petani secara mandiri diminta untuk menyampaikan tentang fakta tikus sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman mereka. Sambil dilaksanakan diskusi dan tukar pendapat dengan anggota lainnya. Beberapa informasi lain yang disampaikan kepada petani diantaranya adalah Tikus sawah merupakan hama utama penyebab kerusakan padi di Indonesia. Rata-rata tingkat kerusakan tanaman padi mencapai 20% per tahun. Serangan tikus sawah terjadi sejak pesemaian hingga panen, bahkan dalam gudang penyimpanan padi. Tikus selalu menjadi masalah yang disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah Penanganan terlambat → umumnya pengendalian tikus dilakukan setelah terjadi serangan. Monitoring lemah → sering terjadi ledakan populasi yang tidak diantisipasi sebelumnya sehingga menimbulkan kerugian besar. Tidak intensif → alat dan sarana pengendalian terbatas, tidak kompak, dan tidak berkelanjutan. Beberapa strategi PHT diantaranya adalah Kegiatan pengendalian diprioritaskan pada awal musim tanam, dilakukan petani secara bersama-sama dan terkoordinir dalam skala hamparan, intensif, dan berkelanjutan dengan menerapkan kombinasi teknik pengendalian yang sesuai. Untuk tikus lokal, pengendalian intensif dilakukan sebelum periode aktif perkembangbiakan tikus sawah yang bertepatan dengan stadia padi generatif. Untuk tikus migran yang berasal dari tempat lain, pengendalian intensif dilakukan sebelum tikus mencapai pertanaman di lokasi target pengendalian. Misalnya dengan pemasangan LTBS memotong arah migrasi, atau fumigasi dan gropyokan massal di lokasi asal tikus. Tentang gropyokan yang merupakan salah satu teknik pengendalian tikus sawah yang dilakukan dengan cara melakukan pemburuan langsung atau dengan cara membunuh tikus secara langsung (secara fisik), dengan melakukan pembongkaran lubang-lubang aktif serang tikus, kemudian diburu dan dibunuh (gropoyakan) secara massal dan biasanya melibatkan banyak orang seperti masyarakat umum, petani, penyuluh tani, perangkat desa, bahkan tentara dikerahkan. Sasaran dari kegiatan ini yakni habitat utama tikus seperti sepanjang pematang sawah, jalan-jalan sawah, lubang disekitaran sawah atau tempat yang di indikasi sebagai sarang tikus. Kelompok diharapkan mengetahui dan memahami kunci sukses pengendalian tikus yaitu Pengendalian Dini, Serentak, Massal, Terprogram, Berkesinambungan, Melibatkan partisipasi semua masyarakat tani dalam koordinasi pimpinan wilayah dan petugas terkait (Farida Adriani, SP)