Loading...

Sosialisasi dan Pelatihan Teknologi Jajar Legowo Super di Kabupaten Gorontalo

Sosialisasi dan Pelatihan Teknologi Jajar Legowo Super di Kabupaten Gorontalo
Jajar legowo merupakan teknologi yang sudah diperkenalkan masyarakat sejak lama. Jajar legowo merupakan sistem tanam pindah dimana antara 2 baris padi terdapat lorong kosong sejajar dengan barisan tanaman padi. Sistem tanam jajar legowo dianggap memberikan jumlah populasi relatif lebih banyak dibandingkan sistem tegel dikarenakan terdapat sistem sisip. Seiring perkembangan teknologi Badan Litbang Pertanian memperkenalkan sistem Jajar Legowo Super. Jajar Legowo Super merupakan sistem produksi padi yang mengimplementasikan secara terpadu teknologi budidaya terbaik dari inovasi Balitbangtan berbasis cara tanam jajar legowo dengan menggunakan 5 komponen penting. Sistem ini sudah didiseminasikan melalui demarea di Kabupaten Indramayu dengan produktivitas mencapai 14,4 ton/ha. Karakteristik wilayah yang memiliki peluang tercapainya potensi hasil tinggi dengan jajar legowo super adalah : lahan sawah irigasi teknis, Tanah dengan kadar hara P dan K tinggi, dan panen dapat dilakukan dengan power threser. BPTP Gorontalo sebagai perwakilan Badan Litbang di daerah perlu melakukan diseminasi terhadap kegiatan yang telah dilakukan oleh Badan Litbang. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pelaksanaan Sosialisasi dan Pelatihan Teknologi Jajar Legowo Super di Kabupaten Gorontalo pada tanggal 11 Oktober 2016 di desa Sidoharjo, Kecamatan Tolangohula. Kegiatan Sosialisasi tersebut menyampaikan bahwa teknologi jajar legowo super yang sedang diujicobakan memiliki 5 komponen penting yaitu : 1. Penggunaan varietas unggul potensi hasil tinggi yang ditanam dengan sistem legowo 2:1. varietas yang dianjurkan antara lain Inpari 30, Inpari 32 HDB, dan Inpari 33 2. Penggunaan Biodekomposer, dimana biodekomposer merupakan perombak bahan organik dan penyedia hara tanaman dari sisa panen. Penggunaan biodekomposer dapat mempercepat proses pengomposan jerami dari 2 bulan menjadi 1-2 minggu. Kompos jerami dapat menekan biaya pemupukan KCl hingga 100%. 3. Penggunaan pupuk hayati agrimeth sebagai seed treatment. pupuk hayati adalah pupuk berbasis gabungan mikroba yang dapat menghasilkan fitohormon (Pemacu tumbuh tanaman), penambat N dan pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan kesuburan tanah. 4. Penggunaan pestisida nabati yang berbahan aktif eugenol, sitronelol, dan geraniol. Pestisida nabati memiliki daya racun rendah sehingga aman bagi manusia dan ternak. Aplikasi pestisida nabati dapat dilakukan setiap 1 minggu 1 kali aplikasi dengan dosis menyesuaikan serangan 5. Penggunaan alsintan saat tanam dan saat panen. Penggunaan alsintan diharapkan dapat mengurangi biaya tenaga kerja serta permasalahan kelangkaan tenaga kerja. Sehingga waktu tanam dan panen dapat menyesuaikan umur tanaman. Penggunaan alsintan saat panen juga dapat mengurangi kekurangan hasil mencapai 30%. Selain kegiatan sosilisasi dilakukan pula pengantar pengendalian OPT padi oleh BPTPH Provinsi Gorontalo. Kabupaten Gorontalo merupakan daerah endemis HDB, hama putih palsu, penggerek batang, dan wereng batang coklat. Petani harus melakukan pengamatan sejak padi masih dalam persemaian. cara yang paling mudah adalah membawa kumpulan telur penggerek kemudian telur tersebut diamati dan ketika telur sudah menjadi imago petani dapat melakukan pengendalian. Selain itu serangan HDB, kresek, ataupun blast dapat dilakukan dengan pemberian PGPR yang sudah pernah dilatihkan kepada kelompok tani. Untuk mewaspadai serangan wereng batang coklat petani harus melakukan pengamatan dan melakukan koordinasi dengan POPT di wilayah tersebut. Petani perlu juga melakukan pengamatan dikarenakan terbatasnya jumlah POPT di setiap wilayah.