Dalam fenomena perubahan iklim dikenal dengan apa yang disebut dengan gas rumah kaca (GRK). Gas yang dikategorikan sebagai GRK adalah gas-gas yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap efek GRK yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Ada enam jenis gas yang digolongkan sebagai GRK yaitu Karbondioksida (CO2), gas methan (CH4), dinitrogen oksida (N2O), sulfurheksafluorida (SF6), perfluorokarbon (PFCs) dan hidrofluorokarbon (HFCs). Di Indonesia kontribusi terbesar GRK berasal dari karbodioksida (CO2), methan (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) yang sebagain besar dihasilkan oleh sektor kehutanan (sebagai akibat deforestasi dan hilangnya sebagian hutan di Indonesia yang disebabkan kebakaran dan penebangan hutan) dan sektor pertanian (sebagai akibat perubahan pertanaman dan intensifikasi pertanian). Berdasarkan data Kementerian Pertanian (2007), tahun 1994 tingkat emisi CO2 di Indonesia sudah lebih tinggi dari tingkat penyerapannya, yang sebelumnya pada tahun 1990 Indonesia masih mempunyai tingkat penyerapan lebih tinggi dari tingkat emisinya. Morphologi dan asal tanaman Kemiri sunan termasuk dalam divisi Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, ordo Malpighiales, famili Euphorbiaceae, yang memilki genus yang sempit yang sempit dan hanya memiliki lima spesies yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis (Asia sebelah timur dan kepulauan pasifik. Lima spesies yang telah dibudidayakan adalah: 1) A. Moluccana Wild; 2) A. trisperma Blanco; 3) A. Cordata R.Br; 4) A. Fordi Hemsl; 5) A. Montana Wilson. Kemiri sunan berasal dari Filipina dan telah tersebar hingga ke Jawa Barat. Kemiri sunan tumbuh sebagai tanaman tegakan dengan tinggi mencapai 15 meter atau lebih dengan umur tanaman mencapai 75-80 tahun. Tanaman mempunyai bentuk kanopi yang cukup rapat dan lebar. Iklim dan tanah Kondisi iklim yang cocok untuk pertumbuhan kemiri sunan adalah: suhu 18,7 - 20 derajat Celcius. Tanaman dapat tumbuh di daerah dataran rendah, sedang (0-800 m diatas permukaan laut) dan didataran tinggi di Jawa Barat kemiri sunan ditemukan di daerah dengan ketinggian > 1.000 m diatas permukaan laut (Hyne, 1987). Kemiri sunan dapat tumbuh baik di tanah yang kurang subur sampai tanah subur, dengan topografi datar, bergelombang sampai dengan bertebing curam. Manfaat kemiri sunan Kemiri sunan mempunyai banyak manfaat antara lain: 1. Mencegah erosi. Kanopi yang rapat dan lebar ini mampu menahan tetesan air hujan langsung jatuh ke permukaan tanah, sehingga dapat mengurangi erosi dan meningkatkan penyerapan air kedalam tanah. 2. Mencegah longsor. Akar tunggang yang kuat mampu mencegah terjadinya tanah longsor. 3. Rehabilitasi lahan kritis. Tanaman kemiri umumnya tidak membutuhkan biaya tinggi dan perawatan khusus karena petani biasanya menanam kemiri sunan di lahan-lahan terlantar dan kritis sehingga sangat bagus untuk rehabilitasi lahan kritis dan lahan terlantar. Sejak tahun 2003, upaya rehabilitasi lahan kritis di Indonesia baru mampu menjangkau 600.000 ha (luas lahan kritis di Indonesia mencapai 59,2 juta ha) 4. Penghasil bioenergi terbarukan. Endosperma biji kemiri sunan mengandung minyak dan dapat diprose menjadi minyak pengganti solar atau biodiesel. Komposisi minyak terdiri dari asam palmitat 10%, asam tearat 9%, asam oleat 12 %, asam linoleat 19% dan asam alpha-elaeostearat 51%. Minyak ini bila diekstraksi akan menghasilkan biodiesel. 5. Penghasil bahan industri. Kemiri sunan juga dapat menghasilkan bahan baku pernis, cat, sabun, minyak kain, kulit sintetis, pelumas, kompos dan bungkil ekstrasi minyak kemiri dapat diolah menjadi biogas (3 kg bungkil menghasilkan 1,5 m3 biogas setara dengan 1 liter minyak tanah. Mengurangi GRK dan penyuplai O2 dunia. Disebutkan dalam Canopy org (2006), setiap pohon besar mampu menghasilkan oksigen (O2) untuk 4 orang per hari. Disebutkan pula jumlah pohon yang ditanam dalam area 4.000 m2, mampu menyerap karbondopksida (CO2) yang dihasilkan oleh kendaraan yang berjalan sejauh 26.000 mil. Selain itu pohon dapat menurunkan debu dan asap rokok hingga 75% pada area yang dinaungi pohon tersebut. Pohon dapat pula mengurangi panas dan temperatur di wilayah setempat, karena penguapan pohon yang dapat menghasilkan efek dingin/sejuk. Penyerap emisi GRK (CO2) Umur pohon kemiri sunan dapat mencapai 75-80 tahun (Dinas Perkebunan Garut, 2011), tentunya merupakan pohon tegakan yang tinggi (mencapai 15 m), daun lebat (mencapai puluhan ribu helai daun per pohon) hal ini mampu mengikat CO2 dan akan menghasilkan O2 dalam jumlah yang cukup banyak. Jika pengembangan kemiri sunan ini dilakukan sebagai rehabilitasi di daerah lahan kritis yang di Indonesia mencapai 59,2 juta ha (berupa hutan dan lahan tidak produktif), dengan penanaman kemiri sunan maka akan tertanaman lebih dari 5 milyar pohon. Hal ini tentunya akan menghasilkan milyaran daun bahkan triliunan daun kemiri yang diharapkan dapat mengasilkan oksigen (O2) sangat besar di dunia dalam waktu cukup lama (75-80 tahun). Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Jurnal Tanah dan Iklim, BB Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor 2009; Dinas perkebunan Kabupaten Garut, Jawa Barat, 2011