Loading...

Standar Budidaya Tanaman Jamur

Standar Budidaya Tanaman Jamur
Tanaman jamur merupakan jenis sayuran yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, sehingga permintaan jamur terus meningkat di pasaran, hal ini disebabkan jamur merupakan sayuran yang bergizi tinggi, memiliki cita rasa yang lezat dan sebagai makanan alternatif untuk pengobatan. Tanaman jamur mengandung, antara lain : (a) Mengandung 9 jenis dari 10 asam amino essensial: arginin, histidin, isoleusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin, triptofan, dan valin, serta 72% lemaknya tidak jenuh; (b) Mengandung vitamin: B1 (thiamin), B2 (riboflavin), niasin dan biotin; (c) Mengandung elemen makro, antara lain K, P, Ca, Na, & Mg dan (d) Mengandung elemen mikro seperti Cu, Zn dan lain-lain, Jamur juga terbukti ampuh untuk menghambat HIV-AIDS, kolesterol, gula darah dan juga kanker. Prospek dan Peluang budidaya jamur Budidaya jamur menggunaan modal yang relatif kecil dan terjangkau oleh segala lapisan masyarakat, Teknologi tepat guna yang murah & sederhanasehingga lapisan masyarakat pedesaan bisa melakukan budidaya jamur. Budidaya jamur fleksibel sehingga dapat dilakukan siapa saja, dimana saja, kapan saja dan tidak mengenal musim, dapat dijalankan dalam skala rumah tangga /kecil, menengah bahkan dengan teknologi modern. Budidaya jamur mempunyai waktu panen yang singkat 1,5 bulan sudah memetik hasil, tidak membutuhkan biaya pakan, obat-obatan, dan pupuk. Jenis Jamur yang Potensial dibudidayakan : 1. Jamur Merang (Volvariella volvaceae) Banyak ditemukan ditumpukan jerami atau pada saat musim panen padi. Jamur merang memiliki citarasa yang nikmat dan kandungan gizi yang cukup baik untuk kesehatan, sehingga menjadi alternatif bahan pangan. 2. Jamur Tiram (Pleurotus sp) Jamur tiram banyak mengandung protein nabati 10-30%, dikonsumsi dalam bentuk segar sebagai campuran sup, salad, pepes atau diolah menjadi keripik . Jamur tiram mengandung protein, lemak, fospor, besi, thiamin dan riboflavin lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur lain. Jamur tiram mudah dikembangkan, media tumbuh & bahan spora mudah didapat, dan harga jual cukup tinggi. 3. Jamur Kuping (Auricularia polytricha) Jamur kuping memiliki bentuk tubuh yang melebar seperti bentuk daun telinga manusia Jenis-jenis jamur kuping yang banyak dibudidayakan adalah : • Jamur kuping hitam, • Jamur kuping merah, • Jamur kuping agar Jamur kuping hitam bermanfaat untuk obat sakit jantung, menurunkan kolesterol, juga sebagai anti-pendarahan. 4. Jamur Shitake (Lentinula edodes) Berasal dari negeri China, dikenal dengan sebutan “ Chinese Black Mushroom”. Jamur shiitake biasa diolah menja di sup miso, acar, digoreng seba gai tempura, keripik & campuran chawanmushi. Memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Harga jamur shiitake segar di pasaran bisa mencapai Rp 30.000,00-Rp 70.000,00 / kg. 5. Jamur Lingzhi (Ganoderma lucidum) Mengandung protein, polisakarida (ganodelan A, ganodelan B, & beberapa glukans), triterpenoid (asam ganodermi, ganodermadiol) yang strukturnya mirip hormon steroid, germanium, ergosterol, coumarin, mannitol, alkaloid, asam lemak tak jenuh, adenosin, & vitamin (B, C, D) serta mineral (Na, Ca, Zn, Fe &, P). Dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, mampu menjaga dan mengembalikan keseimbangan tubuh, dan aman dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa efek samping Persiapan Alat & bahan Bangunan untuk budidaya Jamur terdiri dari: 1. Ruang persiapan Ruang persiapan adalah ruangan yang berfungsi untuk melakukan kegiatan pengayakan, pencampuran, pewadahan, dan sterilisasi. 2.Ruang Inokulasi Ruang Inokulasi adalah ruangan yang berfungsi untuk menanambibit pada media tanam, ruang ini harus mudah dibersihkan, tidak banyak ventilasi untukmenghindari kontaminasi (mikroba lain). 3. Ruang Inkubasi Ruangan ini memiliki fungsi untuk menumbuhkan miselium jamur pada media tanam yang sudah diinokulasi (Spawning). Kondisi ruangan diatur pada suhu 22 – 28 derajat C dengan kelembaban 60% – 80%, Ruangan ini dilengkapi dengan rakrak bambu untuk menempatkan media tanam dalam kantong plastik (baglog) yang sudah 4. Ruang Penanaman Ruang penanaman (growing) digunakan untuk menumbuhkan tubuh buah jamur. Ruanganini dilengkapi juga dengan rak-rak penanaman dan alat penyemprot/pengabutan. Pengabutan berfungsi untuk menyiram dan mengatur suhu udara pada kondisi optimal 16 – 22 derajat C dengan kelembaban 80 – 90%. Alat dan bahan yang diperlukan: Peralatan yang digunakan pada budidaya jamur diantaranya: Mixer, cangkul, sekop, filler, botol, boiler, gerobak dorong, sendok bibit, kantong plastik, karet, kapas, cincin plastik dan centong. Bahan-bahan yang diperlukan dalam budidaya jamur adalah Serbuk kayu, bekatul (dedak), kapur (CaCO3 ), gips (CaSO4 ), tepung jagung (biji-bijan), glukosa. Standar Budidaya Tanaman Jamur 1. Persiapan Bahan Bahan yang harus dipersiapkan diantaranya serbuk gergaji, bekatul, kapur, gips, tepung jagung, dan glukosa. 2. Pengayakan Serbuk kayu yang diperoleh dari penggergajian mempunyai tingkat keseragaman yang kurangbaik, hal ini berakibat tingkat pertumbuhan miseliakurangmerata dan kurang baik. Mengatasi hal tersebut maka serbuk gergaji perlu di ayak. Ukuran ayakan sama dengan untuk mengayak pasir (ram ayam), pengayakan harus mempergunakan masker karena dalam serbuk gergaji banyak tercampur debudan pasir 3. Pencampuran Bahan-bahan yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan dicampur dengan serbuk gergaji selanjutnya disiram dengan air sekitar 50 – 60 % atau jika dikepal serbuk tersebut menggumpal tapi tidak keluar air. Hal ini menandakan kadar air sudah cukup. Formula A Serbuk gergaji kayu 78% Dedak 20% Kapur (CaCO3) 1% Sukrosa 1% Air 70% Formula B Serbuk gergaji kayu 78% Dedak 10% Kapur (CaCO3) 1% NPK (1:1:1) 0,5% Air 70% 4. Pengomposan Pengomposan adalah proses pelapukan bahan yang dilakukan dengan cara membumbun campuran serbuk gergaji kemudian menutupinya dengan plastik. 5. Pembungkusan (Pembuatan Baglog) Pembungkusan menggunakan plastik polipropilen (PP) dengan ukuran yang dibutuhkan. Cara membungkus yaitu dengan memasukkan media ke dalam plastik kemudian dipukul/ditumbuk sampai padat dengan botol atau menggunakan filler (alat pemadat) kemudian disimpan. 6. Sterilisasi Sterilisasi dilakukan dengan mempergunakan alat sterilizer yang bertujuan menginaktifkan mikroba, bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada suhu 90 – 100 derajat C selama 12 jam. 7. Inokulasi (Pemberian Bibit) Baglog ditiriskan selama 1 malam setelah sterilisasi, kemudian kita ambil dan ditanami bibit diatasnya dengan mempergunakan sendok makan/sendokbibit sekitar + 3 sendok makan kemudian diikat dengan karet & ditutup dengan kapas. Bibit Jamur yang baik, antara lain varitas unggul, Umur bibit optimal 45 – 60 hari, Warna bibit merata, Tidak terkontaminasi 8. Inkubasi (masa pertumbuhan miselium) Inkubasi Jamur dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan inkubasi dengan kondisi tertentu. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media berwarnaputih merata, biasanya media akan tampak putih merata antara 40 – 60 hari. 9. Panen Jamur Panen dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal, pemanenan biasanya dilakukan 5 hari setelah tumbuh calon jamur. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan kesegarannya & mempermudah pemasaran. Lebih baik tidak menggunakan kuku tangan, tetapi menggunakan pisau yang telah disterilkan. Tinggalkan / sisakan sedikit pangkal buah jamur yang di panen. • Media tidak boleh terangkat. Penulis : Ely Novrianty, SP., MP (BPSIP Lampung) Sumber: Prof. Dr. Ir. Bambang Hendro S., SU. Pelatihan Budidaya Jamur. Universitas Gajah Mada