Agar budidaya/pemeliharaan ayam buras bisa berproduksi secara optimal, maka diperlukan bibit yang mempunyai mutu baik standar umum maupun standar khususnya. Bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi bagi keluarganya, maka kebutuhan akan bahan pangan bergizi khususnya daging, telur dan susu akan meningkat pula. Bahan pangan daging, telur dan susu (bahan asal ternak) berguna bagi kehidupan manusia karena mengandung protein hewani yang mempunyai nilai gizi sangat tinggi. Dalam hal ini, protein hewani mengandung asam amino esensial (yang tidak dapat dibuat oleh tubuh) yang lengkap dan seimbang yang sangat dibutuhkan oleh tubuh terutama bagi pertumbuhan dan fungsi susunan syaraf. Pada anak-anak, baik balita maupun usia sekolah yang sering mengkonsumsi makanan dengan protein hewani tinggi, akan memperlihatkan pertumbuhan yang cepat, cerdas, dan mempunyai daya tahan tubuh yang kuat. Salah satu ternak penghasil bahan pangan yang mengandung protein hewani adalah ayam buras.Di Indonesia, ternak ayam bukan ras (buras) mempunyai potensi yang cukup besar. Dimana ternak ayam buras tersebar hampir diseluruh rumah tangga memilikinya. Pada umumnya ternak ayam buras dikelola secara tradisional sehingga mengakibatkan produktivitas ayam buras masih rendah. Dilain pihak makin bertambahnya penduduk dan kebutuhan gizi bagi masyarakat, maka kebutuhan akan ayam buras, baik daging maupun telur semakin bertambah. Oleh karena itu, pemeliharaan ayam buras yang dilakukan secara tradisional (diumbar), perlu diintensifkan lagi dalam sistem pemeliharaannya.Agar budidaya/pemeliharaan ayam buras bisa berproduksi secara optimal, maka diperlukan bibit yang mempunyai mutu. Adapun Standar Mutu Bibit ayam buras, seperti berikut : Standar Umum. Standar Umum ayam buras bibit harus sehat, tidak cacat, bentuk dan warna seragam, bulu baik dan berasal dan ayam induk yang sehat. Standar Khusus. Standar Khusus ayam buras, sebagai berikut : 1) Bentuk fisik. Warna bulu : beranekaragam pada ayam yang jantan warnanya lebih indah. Warna kaki hitam campur putih dan warna kulit kuning pucat. Profil tubuh segi empat pada yang betina, sedangkan pada yang jantan lonjong. Bentuk kaki, berbentuk tegap pada yang betina, sedangkan untuk yang jantan tegap dan profosional. Jengger, pada ayam betina berbentuk kecil, tunggal, rose, bentuk kacang, bergerigi dan berwarna merah, sedangkan pada ayam yang jantan berbentuk sedang ada yang tunggal, rose, bergerigi, berwarna merah dan ada juga yang berbentuk kacang. Pial, pada ayam betina berbentuk kecil dan berwarna merah, sedangkan pada ayam jantan berbentuk sedang. Muka merah berisi; 2) Ayam bibit ayam buras dapat mencapai berat badan dengan pemeliharaan tradisional. Ayam betina berumur 8 minggu mempunyai berat badan sebesar 258 gram. Sedangkan ayam betina umur 20 minggu mempunyai berat badan sebesar 926 gram. Untuk ayam jantan umur 20 minggu mempunyai berat badan sebesar 1.062 gram; 3) Berat badan maximum dengan pemeliharaan tradisional ayam betina 1.450 gram, sedangkan ayam buras jantan maximum mempunyai Berat badan sebesar 1.700 gram; 4) Berat badan yang dapat dicapai dengan pemeliharaan intensif pada umur 8 minggu ayam buras betina mempunyai Berat badan sebesar 495 gram dan yang jantan mempunyai Berat badan sebesar 636 gram. Sedangkan pada umur 20 minggu ayam buras betina mempunyai Berat badan sebesar 1.579 gram dan yang jantan mempunyai Berat badan sebesar 2.147 gram; 5) Kapasitas peroduksi telur. Dengan pemeliharaan tradisional mempunyai produksi maximum 95 butir. Sedangkan dengan pemeliharaan secara intensif mempunyai produksi maximum 151 butir. (Penulis : Suwarna) Sumber : Pedoman "Budidaya Ternak Kecil dan Unggas di Pekarangan Kebun Sekolah", Direktorat Jenderal Peternakan Tahun 1996; 2) Pedoman "Standar Mutu Bibit Ternak di Indonesia, Direktorat Jenderal Peternakan Tahun 1991.