Loading...

STRATEGI PENCAPAIN SWASEMBADA GULA

STRATEGI PENCAPAIN SWASEMBADA GULA
Swasembada gula Nasional merupakan salah satu dari empat target sukses kementrian pertanian tahun 2014. Swasembada gula didefinisikan sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan gula nasional yang diprediksi mencapai 5,7 juta ton pada tahun 2014. Program swasembada gula Nasional ditujukan untuk: (a) memenuhi kebutuhan gula Naisonal secara keseluruhan baik untuk konsumsi langsung maupun industri, (b) memberdayakan/asset secara optimal berdasarkan prinsip keunggulan kompetitif wilayah dan efisisensi secara nasional, (c) meningkatkan kesejahteraan petani/produsen dan stakeholder lainnya, (d) memperluas kesempatan kerja dan peluang berusaha di kawasan pedesaan sehingga secara nyata berdampak positif terhadap pemberantasan kemiskinan (Ardiana,K., et al 2012)Untuk mencapai target produksi gula putih (GP) sebanyak 5,7 juta ton dengan perincian gula kristal putih (GKP) 2,9 juta ton dan gula kristal rafinasi (GKR) 2,8 ton, telah ditetapkan lima strategi, yaitu: (a) strategi peningkatan produktivitas, (b) perluasan areal, (c) revitalisasi dan pembangunan industri gula berbasis tebu, (d) kelembagaan dan pembiayaan, dan (e) strategi peningkatan kebijakan pemerintahBeberapa persyaratan untuk mendapatkan produksi gula kristal putih (GKP) 5,7 juta ton adalah: 1). Ada tambahan lahan seluas 350.000 – 500.000 Ha khususnya di luar Jawa, 2) Revitalisasi Pabrik Gula khususnya milik BUMN, 3) Ada tambahan pembangunan PG Baru 10 – 15 unit dengan kapasitas rata-rata 10.000 TCD. Permasalahan dalam pencapaian swasembada gula adalah: a) Sampai saat ini pelepasan areal dari kemenhut baru ada 37.000 Ha di Merauke.b) Revitalisasi Pabrik Gula khususnya milik BUMN belum berjalan sesuai dengan rencana, c) Adanya otonomi daerah perijinan dan tata ruang di Provinsi maupun Kabupaten belum berjalan dengan baik, e) Infrastruktur khususnya di luar Pulau Jawa masih jelek, sehingga menghambat pembangunan PG yang ada.Untuk mencapai produksi GKP 2,9 uta ton pada tahun 2014, diperlukan kiat-kiat dari semua pihak yang terkait. Badan Litbang Pertanian sebagai lembaga riset di Kementrian Pertanian mendukung pencapaian swasembada melalui penyediaan inovasi teknologi untuk peningkatan produktivitas dan rendemen gula melalui penyediaan bahan tanaman unggul, dan akselerasi adopsi teknologi budidaya. Mengacu kepada tugas pokok dan fungsi Kementrian Pertanian, dukungan pencapaian swasembada lebih difokuskan kepada upaya peningkatan produktivitas dan rendemen bagi peningkatan produksi tebu dalam rangka mendukung kebijakan swasembada gula tahun 2014, khususnya penyediaan GKP yang bersumber dari bahan baku (GKP eks tebu) (Ardana Ketut. et al., 2012). Peningkatan produktivitas tebu dan rendemen gula dilakukan melalui: (a) bongkar ratoon, dengan komponen inovasi penggunaan varietas unggul, bongkar tanaman keprasan (Ratoon Cane) lebih dari 6 kali dan penyediaan teknologi budidaya; (b) Rawat ratoon dengan komponen teknologi pedot oyot, penggunaan pupuk organik, kletek, dan pengairan. Disamping upaya instensifikasi tanaman diupayakan juga untuk melakukan upaya ekstensifikasi. Puslitbangbun menghasilkan 6 (enam) varietas tebu hasil kultur jaringan yaitu PS851, PS 862, PS 864, PS 881, PS 888, dan PSJT dan ditambah beberapa varietas yang belum direlease. Takaran pupuk yang direkomendasikan disesuaikan berdasarkan hasil analisis tanah dari BB Tanah dan Agroklimat. Sementara BB.Mektan memduking dalam penyediaan alat mesin pertanian (Alsintan).Untuk mempercepat proses adopsi teknologi, teknologi baru tersebut akan digelardalam bentuk Demarea di sebelas Provinsi pengembbangan. Kegiatan Demarea di setiap lokasi pengembangan direncanakan mencapai luas 4 (empat) ha, dilaksanakan di lahan tegalan, dan teknologi introduksi berupa: 1) Penanaman dengan sistem bongkar ratoon (Plant Cane) meliputi single dan double row, dan 2) Keprasan (Ratoon Cane) meliputi teknologi introduksi (teknologi baru) dan teknologi petani (existing technology) sebagai pembandingnya.Rencana kegiatan P2T3 dilaksanakan di 11 (sebelas) provinsi dan ditempuh melalui kegiatan perluasan areal dan perbaikan teknologi bongkar ratun, rawat ratun, dan pembangunan Kebun Bibit Datar (KBD). Perluasan areal ditargetkan sebanyak 6.900 ha tersebar di 66 kabupaten lokasi pengembangan, bongkar ratun seluas 36.000 ha tersebar di 70 kabupaten, rawat ratun seluas 80.300 ha di 73 kabupaten, dan pembangunan KBD 1.086 ha tersebar di 65 kabupaten. (Penulis: Nanik Anggoro P, SP / Penyuluh Pertanian Pertama BBP2TP/ Sumber: Puslitbangbun. 2012. Swasembada gula 2014. Makalah workshop swasembada gula 2014. Dalam rangka integrasi kegiatan dengan Unit Eselon 1 lingkup Kementrian Pertanian; Jakarta 10 p )