Loading...

STRATEGI PENGENDALIAN BLAS DAUN PADA PADI SAWAH

STRATEGI PENGENDALIAN BLAS DAUN PADA PADI SAWAH
STRATEGI PENGENDALIAN BLAS DAUN PADA PADI SAWAH Potensi lahan padi sawah di Kecamatan Cipeundey adalah seluas 1.525 ha. Permasalahan yang muncul pada musim tanam periode oktober-maret (Musim Hujan) adalah serangan penyakit blas (Pyricularia grisea). Secara umum tanaman padi sawah yang menggunakan varietas ciherang dibeberapa Kecamatan Cipeundeuy terserang penyakit blas daun dan blas leher. Kerusakan yang disebabkan oleh blas ini disetiap lokasi bervariasi dari penurunan hasil hingga puso. Desa yang sering terkena serangan blas adalah desa Wantilan. Penyakit blas dapat menginfeksi tanaman padi sawah pada semua stadium tumbuh dan dapat mengakibatkan tanaman puso. Pada tanaman stadium vegetatif biasanya menginfeksi bagian daun, disebut blas daun (leaf blast). Pada stadium generatif selain menginfeksi daun juga menginfeksi leher malai disebut blas leher (neck blast). Gejala penyakit blas dapat timbul pada daun, batang, malai, dan gabah, tetapi yang umum adalah pada daun dan pada leher malai. Gejala pada daun berupa bercak-bercak berbentuk seperti belah ketupat dengan ujung runcing. Pusat bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dan biasanya memmpunyai tepi coklat atau coklat kemerahan. Gejala penyakit blas yang khas adalah busuknya ujung tangkai malai yang disebut busuk leher (neck rot). Tangkai malai yang busuk mudah patah dan menyebabkan gabah hampa. Pada gabah yang sakit terdapat bercak-bercak kecil yang bulat. Penularan penyakit terutama terjadi melalui konidia yang terbawa angin. Konidia dibentuk dan dilepas waktu malam, meskipun serimg terjadi siang hari sehabis turun hujan. Konidium ini hanya dilepaskan jika kelembaban nisbi udara lebih tinggi dari 90%. Pelepasan terjadi secara eksplosif, karena pecahnya sel kecil di bawah konidium sebagai akibat dari pengaruh tekanan osmotik. Penetrasi kebanyakan terjadi secara langsung dengan menembus kutikula. Permukaan atas daun dan daun-daun yang lebih muda lebih mudah dipenetrasi. Patogen P. oryzae dapat mempertahankan diri pada sisa-sisa tanaman dan gabah dalam bentuk miselium dan konidium. Tingkat keparahan penyakit blas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kelebihan nitrogen dan kekurangan air menambah kerentanan tanaman. Diduga bahwa kedua faktor tersebut menyebabkan kadar silikon tanaman rendah. Kandungan silikon dalam jaringan tanaman menentukan ketebalan dan kekerasan dinding sel sehingga mempengaruhi terjadinya penetrasi patogen kedalam jaringan tanaman. Tanaman padi yang berkadar silikon rendah akan lebih rentan terhadap infeksi patogen. Pupuk nitrogen berkorelasi positif terhadap keparahan penyakit blas. Artinya makin tinggi pupuk nitrogen keparahan penyakit makin tinggi. Perkecambahan konidium Pyricularia grisea memerlukan air. Jangka waktu pengembunan atau air hujan merupakan kondisi yang sangat menentukan bagi konidium yang menempel pada permukaan daun untuk berkecambah dan selanjutnya menginfeksi jaringan tanaman. Bila kondisi sangat baik yaitu periode basah lebih dari 5 jam, sekitar 50% konidium dapat menginfeksi jaringan tanaman dalam waktu 6-10 jam. Suhu optimum untuk perkecambahan konidium dan pembentukan apresorium adalah 25-28 C. Pengendalian Kiat-Kiat Pengendalian Penyakit Blas : 1). Gunakan varietas tahan sesuai dengan sebaran ras yang ada di daerah. 2). Penggunaan Bakteri Phaeni Bacillus dalam perendaman benih 3). Hindarkan penggunaan pupuk N di atas dosis anjuran. 4). Hindarkan tanam padi terus-menerus sepanjang tahun dengan varietas yang sama. 5). Sanitasi lingkungan harus intensif, karena inang alternatif pathogen khususnya kelompok rerumputan sangat potensial sebagai inokulum awal. 6). Hindari tanam padi terlambat dari petani disekitarnya. 7). Penyemprotan fungisida sistemik minimum sekali pada awal berbunga untuk mencegah penyakit blas leher dapat dianjurkan untuk daerah endemik blas. 8). Hindarkan jarak tanam rapat (sebar langsung). 10). Pemakaian jerami sebagai kompos. Varietas Padi Tahan Blas Usaha pengendalian penyakit blas yang sampai saat ini dianggap paling efektif adalah dengan penggunaan varietas padi yang tahan seperti inpari 38, 39, 41, 42 dan inpari 42. Perlakuan Benih Pengendalian penyakit blas akan efektif apabila dilaksanakan sedini mungkin, hal ini disebabkan karena penyakit blas dapat ditularkan melalui benih. Perlakuan benih dapat dilakukan dengan penggunaan bakteri phaeni bacillus (corin). Perendaman Benih (soaking) Benih direndam dalam larutan bakteri phaeni bacillus selama 24 jam dan selama periode ini larutan diaduk selama merata setiap 6 jam. Perbandingan berat benih dan volume air adalah 1 : 2 (1 kg benih : 2 liter air). Benih yang telah direndam dianginkan dalam suhu kamar di atas kertas koran dan dibiarkansampai benih tersebut disebarkan di persemaian.