Loading...

SUBAK JATILUWIH MENJADI WARISAN BUDAYA DUNIA

SUBAK JATILUWIH MENJADI WARISAN BUDAYA DUNIA
Subak merupakan tata kelola air irigasi sawah yang bersifat sosioreligius, unik dan satu-satunya di dunia hanya ada di Bali. Subak merupakan tata kelola air yang didasarkan atas falsafah Tri Hita Karana, yaitu menjaga keharmonisan terhadap Tuhan, terhadap sesama dan terhadap lingkungannya. Falsafah ini memang luhur dan secara nyata terlaksana dalam kehidupan sehari hari di masyarakat. Selain itu Subak juga bersifat otonomi, artinya organisasi subak mampu mengorganisasi dirinya sendiri untuk mengatur rumah tangganya sendiri menjadi mandiri. Seperti misalnya Subak Jatiluwih yang mendapat predikat Warisan Budaya Dunia. Subak Jatiluwih merupakan wilayah yang terletak dikaki Gunung Batukaru, dengan topografi yang berbukit-bukit dan beriklim sejuk dengan ketinggian 700 m diatas permukaan laut. Karena keagungan Tuhan dan sumber daya manusia yang handal maka para leluhur mampu membuat sawah dengan kontur terasering, sehingga dijaman pariwisata ini dapat menyajikan pemandangan yang sangat indah dan alami. Subak Jatiluwih melalukan aktivitas pertaniannya masih memegang teguh prinsip tradisional yaitu pengelolaan air secara adil dan merata, menggunakan varietas lokal/padi merah yang cocok dan tumbuh subur di daerah tersebut. Padi merah biasanya ditanam pada bulan Januari dengan masa tanam 4 bulan. Sedangkan padi putih (padi Mansur) ditanam pada bulan Agustus dengan masa tanam 3 bulan. Pengolahan tanah juga dilakukan dengan cara dibajak dan dicangkul. Kemudian dibiarkan kurang lebih dua minggu sambil menunggu bahan organik yang diambil dari bahan tanaman mengalami pelapukan atau fermentasi. Pemeliharaan tanaman dilaksanakan secara tradisional yaitu menggunakan pestisida organik/nabati, juga tanpa menggunakan pupuk kimia. Subak Jatiluwih terdiri dari tempek Telabah Gede, Besi kalung, Kedamaian, Ume Dwi, Uma Kayu, Kesambih dan Gunung Sari. Subak Jatiluwih harus bisa mempertahankan kawasan sawah terasering sekitar 635 ha untuk tetap bisa menjadi kawasan Warisan Budaya Dunia. Sedangkan Subak Jatiluwi sendiri memiliki luas areal 303,15 Ha, dengan jumlah anggota subak 355 orang, dengan rata-rata pemilikan luas lahan sawah sekitar 22 – 23 are.Organisasi subak ini dalam aktivitasnya selalu bernafaskan falsapah Tri Hita Karana, yang selalu diimplementasikan dalam kehidupan berorganisasi.Keharmonisan terhadap Tuhan-Nya diimplementasikan dengan membuat parahyangan yang berkedudukan di daerah hulu subak. Parahyangan ini dibuat untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewi Sri. Keharmonisan terhadap sesama diimplementasikan dengan jalan bekerja gotong royong memperbaiki saluran air, meperbaiki parahyangan, membuat sarana upakara/ritual, bekerjasama dalam panen dan kegiatan tani lainnya dengan membentuk kelompok manyi (panen) serta menghormati sesama anggota subak untuk memakai besaran air ke petak sawah tanpa boleh diganggu sesuai dengan hak dan kewajibannya. Petani yang tergabung dalam anggota subak tidak boleh mencuri air/atau memonopoli air untuk dimasukan kesuatu petak tanah tertentu, sehingga keadaan subak menjadi kondusif. Keharmonisan terhadap lingkungan dilakukan dengan dua cara yaitu kesatu dengan cara ritual, dan kedua yaitu perbaikan lingkungan secara lahiriah dengan kegiatan nyata seperti perbaikan irigasi, menjaga kebersihan lingkungan subak dari kotoran anorganik seperti plastik dan bahan-bahan lain yang susah mengalami pelapukan. Karena subak tersebut disucikan di Bali maka orang tidak boleh membuang kotoran ke sawah. Dengan adanya implentasi nyata keharmonisan terhadap, Tuhan, sesama manusia dan terhadap lingkungan, sampai sekarang bisa lestari, maka UNESCO menetapkan landscape Persubakan di Bali ditetapkan menjadi warisan Budaya Dunia. Untuk Daerah Tabanan yang ditetapkan menjadi landscape Persubakan untuk mendukung Subak Jatiluwih adalah disekitar lembah Batukaru, yaitu landscape Jatiluwih, Wongaya, Tengkudak, Penatahan, Pesagi dan Rejasa. Dengan diakuinya Subak sebagai warisan budaya dunia, hendaknya menjadi kebanggaan masyarakat Tabanan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Sebab perjuangan Indonesia untuk mendapatkan warisan budaya dunia dari UNESCO tidaklah mudah. Mari kita jaga dan lestarikan apa yang menjadi cita-cita leluhur yang dititipkan kepada kita untuk dikemudian hari bisa diwarisi generasi muda mendatang. (I Wayan Artanaya, BP4K Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali).