Loading...

SUKSESKAN GP-PTT PADI, PENELITI SIAP DAMPINGI PETANI

SUKSESKAN GP-PTT PADI, PENELITI SIAP DAMPINGI PETANI
Peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Selatan siap mendampingi petani mensukseskan gerakan penerapan pengelolaan tanaman terpadu (GP-PTT) Padi. Komitmen ini disampaikan pada kegiatan Pelatihan PTT Padi Sawah di Aula Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Pinrang, Selasa (05/05/2014). Pelatihan diikuti 50 peserta yang merupakan perwakilan kelompoktani penerima manfaat program GP-PTT Padi di Kecamatan Mattiro Bulu. Pelatihan yang terlaksana atas kerjasama BPTP Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kabupaten Pinrang ini bertujuan untuk memberi penyegaran kepada kelompoktani tentang materi yang telah diterima pada program sebelumnya, yaitu sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SL-PTT). "Perubahan kata sekolah lapang menjadi gerakan penerapan bermakna bahwa petani dianggap telah mengetahui teknologi PTT padi dari kegiatan SL-PTT" kata Ir. Arafah, M.Si peneliti dari BPTP. "Olehnya, saat ini waktunya untuk melakukan gerakan bersama untuk penerapan teknologi PTT" sambungnya. Pelatihan yang dibuka oleh Kepala BP4K Kabupaten Pinrang yang diwakili oleh Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian Ir. Wahyuddin, M.Si ini dibagi dalam dua sesion. Pada sesion pertama diperkenalkan teknologi tanam menggunakan mesin tanam bibit padi (rice transplanter), menghadirkan pemateri dari pihak produsen. Pihak produsen menyampaikan secara detail tentang bagian-bagian dan fungsi dan cara mengoprasikan mesin. Bahkan beberapa ketua kelompoktani diberi kesempatan mencoba mesin tanam tersebut. Sesion kedua dilakukan penyampaian materi melalui ceramah oleh dua peneliti dari BPTP, masing-masing Ir. Arafah, M.Si dan Muh. Amin, SP. Pemateri menyampaikan tentang potensi Kabupaten Pinrang meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dari saat ini IP 200 menjadi IP 300 atau bahkan IP 400. "Namun banyak hal yang harus diperhatikan seperti ketersediaan air, sarana produksi, ledakan OPT termasuk juga dampak sosialnya" kata Ir. Arafah. Ketika dilakukan diskusi, salah seorang petani menyampaikan bahwa yang paling realistis dilakukan saat ini adalah IP 250, atau pertanaman lima kali dalam dua tahun. @Irsyam Syam, BP3K Mattiro Bulu