Kedelai merupakan salah satu contoh tanaman yang berkembang menjadi tanaman yang daerah distribusinya luas atau terdapat dimana-mana dan areal penyebarannya luas (terdapat di mana-mana). Tidak ada spesies tanaman yang menyebar begitu luas secara cepat seperti kedelai. Kedelai, yang asalnya diketahui dari Manchuria atau daratan Cina bagian timur laut, pada pertengahan abad XX telah menyebar ke seluruh dunia. Di Indonesia tanaman kedelai berasosiasi dengan usaha pertanian subsisten, sehingga usaha per keluarga tani selalu sempit. Belum pernah terjadi kedelai diusahakan secara luas dalam skala usaha perkebunan. Tanaman kedelai memerlukan kelembaban tanah yang cukup dan suhu yang relatif tinggi untuk pertumbuhan yang optimal. Curah hujan yang tinggi pada musim hujan sering berakibat tanah jenuh air, drainase buruk (water-logged), atau banjir, sehingga kurang ideal bagi pertumbuhan kedelai. Intensitas hujan yang tinggi mengakibatkan tanah menjadi basah secara terus-menerus, mengakibatkan alat-mesin pertanian sukar beroperasi di lapangan. Pada musim kemarau, bila tidak ada irigasi tanaman kedelai menderita kekeringan. Suhu yang tinggi juga mengakibatkan polong menjadi rontok atau biji abortus. Usaha produksi kedelai di Indonesia dilakukan pada musim tanam yang tidak selalu ideal untuk pertumbuhan tanaman, karena harus menyesuaikan dengan pola dan rotasi tanam. Hal ini disebabkan karena petani belum menilai kedelai sebagai tanaman utama, masih diposisikan sebagai tanaman penyelang bagi tanaman utama padi, jagung, tebu, tembakau, bawang merah atau tanaman lainnya. Sebaran areal tanam kedelai di Indonesia tidak semata-mata ditentukan oleh kesesuaian agroklimat, tetapi juga dipengaruhi oleh budaya dan kebiasaan bertani masyarakat. Disimpulkan bahwa penyebaran dan pengembangan kedelai di suatu wilayah tidak hanya ditentukan oleh kesesuaian faktor agroklimat dan lingkungan tumbuh, tetapi juga oleh keinginan masyarakatnya. Faktor kohesif-sinergis yang mendorong perkembangan tanaman kedelai adalah: ketersediaan lahan yang sesuai – ketersediaan air/iklim yang sesuai - insentif pasar – dan budaya bertani masyarakat.Komponen lingkungan yang menjadi penentu keberhasilan usaha produksi kedelai adalah faktor iklim. Faktor iklim yang menjadi penentu pertumbuhan tanaman kedelai adalah 1. Lama dan intensitas sinar matahari (panjang hari)2. Suhu3. Kelembaban udara dan curah hujan.Kemampuan adaptasi kedelai terhadap keragaman faktor iklim tersebut sebenarnya sangat luas, namun "kondisi iklim" yang sesuai perlu diidentifikasi (suhu, sinar matahari, curah dan distribusi hujan), dan kesuburan fisiko-kimia dan biologi tanah (solum, tekstur, pH, ketersediaan hara, kelembaban tanah, bahan organik dalam tanah, drainase dan aerasi tanah, serta mikrobia tanah). Gulma dan hama penyakit dapat hidup secara ko-habitasi dengan tanaman kedelai dan atau menjadi pembatas penting bagi produktivitas, tetapi dapat dikendalikan.Tanaman kedelai pada dasarnya sesuai untuk iklim agak kering, tetapi memerlukan kelembaban tanah yang cukup selama pertumbuhan. Oleh karena itu, diwilayah yang termasuk kategori iklim kering atau periode musim kemarau tidak ada hujan, tanaman kedelai dapat tumbuh normal dan berproduksi tinggi apabila tersedia pengairan yang cukup. Faktor lain yang sangat mempengaruhi produktivitas tanaman, di antaranya :1. Varietas2. Mutu benih3. Populasi tanaman4. Pengendalian hama penyakit5. Gulma6. Mutu pengelolaan tanaman7. Ketepatan waktu panen8. Penanganan pascapanen 9. Ketepatan waktu pada saat pemupukan P, K, Mg, Ca, dan inokulasi Rhizobium, apabila diperlukan juga menentukan tingginya hasil. (SARSITO, SP ; BALAI PENYULUHAN KEC. JERUKLEGI)