Pengendalian Hama Walang Sangit Pada Tanaman Padi Sawah Dengan Dua Jenis Daun Oleh: Saparudin,SST Membasmi Walang Sangit atau bahasa latinnya Leptcorisa Oratourius bisa menjadi hal yang tidak menyenangkan dan menimbulkan kekacauan karena berbagai metode yang digunakan membuat serangga ini mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat. Metode yang paling sedikit menimbulkan kekacauan dan cukup efektif adalah menggunakan bahan-bahan alami atau pestisida organik dan kimia merupakan langkah terakhir untuk membasminya. Anda juga bisa membasmi walang sangit menggunakan cara fisik. Baca langkah praktis pengendalian hama walang sangit (Leptcorisa Oratourius) pada tanaman padi anda. Walang Sangit atau dalam bahasa latinnya Leptcorisa Oratourius adalah salah satu binatang yang senang terhadap tanaman padi terutama ketika padi sudah mulai berisi cairan seperti susu, karena pada saat itulah walang sangit hinggap untuk menghisap cairan susu tersebut. Dari pengalaman beberapa petani yang ada di Desa Arjangka Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah selama ini sering kali produksi hasilnya berkurang karena ulah hama walang sangit ini, saya dan petani mencoba membiarkannya tanpa ada perlakuan sama sekali ke satu petak kecil walang sangit ini berdatangan ke tanaman padi ketika malai sudah berisi cairan seperti susu itu. Dampaknya penghasilan berkurang dari lahan uji coba yang saya lakukan seluas kira-kira 100 m2 atau bahasa sasaknya 1 are, biasanya produksinya 60-70 kg pada menjadi 35 kg saja. Dari pengalaman tersebut saya dan petani pelaksana menghimbau kepada para petani padi lainnya di Desa Arjangka Kecamatan Pringgarata umumnya hendaknya mewaspadai tanman padi ketika malai sudah mulai pengisian, karena pada waktu itulah walang sangit mulai datang tanpa diundang kayak jelangkung. Saya dan petani pelaksana tidak lasung mengaplikasikan pestisida untuk membasmi walang sangit langsung hilang atau pada mati, namun karena saya ingin menghasilkan tanaman padi yang sehat dan menghasilkan beras yang sehat pula maka saya berupaya untuk tidak menggunakan pestisida kimia. Penggunaan pestisida organik saya rasa lebih bijak dan harus dilakukan dengan kesabaran serta ketelitian. Banyaknya pestisida organik yang disemprotkan ke tanaman harus disesuaikan dengan hama, waktu penyemprotan juga harus diperhatikan para petani sesuai dengan siklus perkembangan hama (Sudarsono. 2006). Tanaman srikaye bahsa sasaknya atau bahasa latinnya Annona muricata (sirsak) mengandung zat toksik bagi serangga. Serangga yang menjadi hama di lapangan maupun pada bahan simpan mengalami kelainan tingkah laku akibat bahan efektif yang terkandung pada daun sirsak. Disamping itu dapat juga menyebabkan pertumbuhan serangga terhambat, mengurangi produksi telur dan sebagai penolak (Gruber dan Karganilla, 1989). Kematian larva yang diakibatkan oleh ekstrak daun sirsak memperlihatkan indikasi tidak sempurnanya proses ekdisis terbukti dengan adanya sejumlah larva yang gagal melepaskan kutikula lamanya. Larva yang mengalami gejala ini lama-kelamaan akan mati dengan memperlihatkan gejala kematian akibat pengaruh simultan dari toksisitas ekstrak, kelaparan dan gagal melepaskan proses ganti kulit, terlihat adanya larva menjadi mengecil dan berwarna kegelapan (Gionar, 2004). Kandungan daun sirsak lainnya yaitu mengandung senyawa acetoginin, antara lain asimisin, bulatacin dan squamosin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa acetogenin memiliki keistimewan sebagai anti feedent. Dalam hal ini, serangga hama tidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya seperti cairan susu yang menjadi isi dari gabah. Sedangkan pada konsentrasi rendah bersifat racun perut yang mengakibatkan serangga menjadi mampus (Hartati, Z. 2002). Acetogenin adalah senyawa polyketides dengan struktur 30–32 rantai karbon tidak bercabang yang terikat pada gugus 5-methyl-2-furanone. Rantai furanone dalam gugus hydrofuranone pada C23 memiliki aktifitas sitotoksik, dan derivat acetogenin yang berfungsi sitotoksik adalah asimicin, bulatacin, dan squamocin (Kardinan, A. 2000). Hama walang sangit (Leptcorisa Oratourius) mengalami metamorfosis sederhana yang perkembangannya dimulai dari: 1) stadia telur, 2) nimfa dan imago. Imago berbentuk seperti kepik, bertubuh ramping, antena dan tungkai relatif panjang. Warna tubuh hijau kuning kecoklatan dan panjangnya berkisar antara 15 – 30 mm (Harahap dan Tjahyono, 1997). Telur berbentuk seperti cakram berwarna merah coklat gelap dan diletakkan secara berkelompok. Kelompok telur biasanya terdiri dari 10 - 20 butir. Telur-telur tersebut biasanya diletakkan pada permukaan atas daun di dekat ibu tulang daun. Peletakan telur pada umumnya pada saat padi mulai berbunga,telur akan menetas 5 – 8 hari setelah diletakkan. Perkembangan dari telur sampai imago adalah 25 hari dan satu generasi mencapai 46 hari (Baehaki, 1992). Adapun bahan-bahan sangat mudah di dapat : Daun srikaye bahasa sasaknya atau Sirsak (Annona muricata) dan Daun Mako atau daun Tembakau (Nicotiana Batacum)Cara Pembuatan: Siapkan 100 lembar daun srikaye (daun sirsak) atau hingga cukup 2 onsKemudian 100 lembar juga daun mako alias daun tembakau sampai 2 onsDitumbuk bersama-sama sampai halus dan lembutRendam dengan satu liter air hangat ataupun dingin selama 24 jamSaringlah air rendaman kemudianPeraslah sisa endapan rendaman sambil disaringTambahkanlah air sampai volumenya kira-kira 60 liter.Lalu racun ramah lingkungan untuk serangga siap disemprotkan ke tanaman padi anda yang dihinggapi walang sangit. Demikian sekilas pembahasan tentang tips praktis pengendalian hama Walang Sangit pada tanaman padi. Semoga bisa bermanfaat untuk sahabat petani dalam mengendalikan hama hama walang sangit. Terimakasih Selamat Mencoba........!!!