Tanaman padi, baik padi sawah maupun padi darat (gogo) merupakan tanaman pangan yang rentan terserang hama dan penyakit. Ada beberapa jenis hama dan penyakit pada tanaman padi yang memiliki efek serangan berbahaya dan sangat meresahkan para petani. Beberapa jenis hama dan penyakit utama tanaman padi tersebut antara lain, hama tikus, keong mas, penggerek batang, wereng coklat, tungro, dan hawar bakteri, blas. Hama dan penyakit tersebut jika tidak ditangani secara tepat dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar, bahkan menyebabkan gagal panen. Pengendalian Hamta Terpadu dengan pengamatan rutin perlu selalu dilakukan agar intensitas serangan hama dan penyakit bisa ditekan. Hama dan Penyakit tanaman padi yang sering menimbulkan banyak kerusakan dan kerugian bagi petani diantaranya : TIKUS Tikus (Rattus argentiventer) merupakan hama yang paling merusak pada budidaya padi. Karena hama tikus merusak pada semua fase dan tingkat pertumbuhan tanaman. Tikus menyerang mulai dari tahap penyemaian, pindah tanam hingga panen. Bahkan tikus masih saja menyerang sampai digudang penyimpanan. Kerusakan terparah akibat serangan tikus terjadi ketika hama tikus menyerang tanaman pada fase pertumbuhan generatif. Karena tanaman yang terserang pada fase tersebut tidak akan mampu lagi membentuk anakan baru. Hama tikus menyerang pada malam hari, dan pada siang hari tikus bersembunyi didalam lubang pada tanggul sawah, pematang dan daerah disekitar sawah. Serangan hama tikus akan lebih parah ketika hama tersebut menyerang secara berkelompok dalam jumlah yang sangat banyak. Pada sawah dan lahan padi darat yang berada dekat dengan perkebunan kelapa sawit, serangan hama tikus bahkan dapat menyebabkan gagal panen secara total. Hama tikus menyukai lokasi perkebunan sawit untuk bersembunyi dan memakan buah sawit ketika musim panen padi usai. Dan kembali kesawah atau lahan padi darat ketika tanaman padi memasuki fase generatif. Pengendalian : Sebaiknya pengendalian dilakukan sebelum musim tanam, agar saat memasuki musim tanam populasinya sudah berkurang. Pengendalian dapat dilakukan dengan perburuan atau gropyok masal, pemasangan perangkap dan sanitasi disekitar lahan. Membersihkan lingkungan lahan dari gulma dan rumput liar agar tidak dijadikan tempat persembunyian hama tikus. Pengendalian dengan pestisida nabati dapat dilakukan dengan menggunakan tanamangadung racun, atau buah jengkol. Cara penmbuatan nya : Bahan : Umbi gadung racun 1 kg, Dedak padi 10 kg, Tepung ikan 1 ons, Kemiri sedikit, air sedikit. Cara membuat: Umbi gadung dikupas dan dihaluskan, semua bahan dicampurkan tambah air untuk dibuat pelet. Sebarkan pelet dipematang sawah/sarang tikus. Bahan : Jengkol matang 1 kg, air 2 liter. Cara membuat : Buah jengkol ditebar dibeberapa titik dekat tanaman atau di depan lubang sarang tikus. Cara lain buat ekstrak dari 1 kg buah jengkol yang direndam dalam 2 liter air selama 2 hari. Semprotkan ekstrak itu ke areal sawah. Bau tajam jengkol membuat satwa pengerat itu enggan memasuki areal sawah selama 2-4 minggu. KEONG MAS Keong Mas (Pomacea canaliculata Lamarck), merupakan hama padi yang cukup meresahkan petani. Hama ini biasanya menyerang padi pada pagi dan sore hari pada fase pertmbuhan awal. Serangan dilakukan dengan cara memakan batang padi muda yang mengakibatkan tanaman rusak dan pertumbuhan terhambat. Pengendalian : Pengendalian dilakukan pada pagi dan sore hari saat keong tersebut dalam keadaan aktif. Pengendalian sebaiknya dilakukan sebelum musim tanam dimulai. Pengendalian dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain ; Memungut keong mas secara manual dan memusnahkannya. Keong mas dapat dimanfaatkan sebagai pakan bebek atau sebagai bahan pembuatan MOL untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Memasang tongkat pada beberapa titik agar keong mas tertarik untuk meletakkan telurnya. Kemudian telur-telur tersebut dihancurkan atau dimusnahkan. Menempatkan bebek dilahan selama proses persiapan lahan dan saat tanaman tumbuh cukup besar (30-35 HST). Bebek akan membersihkan keong mas dengan cara memakannya secara langsung. Membuat parit-parit kecil ditengah tanaman untuk memudahkan pengendalian secara manual. Parit-parit tersebut berguna sebagai titik fokus tempat berkumpulnya keong saat lahan dikeringkan sehingga memudahkan untuk mengambilnya. - Pestisida nabati yang dapat digunakan yaitu dengan cara diumpankan : Proses pembuatan: Belah batang pepaya menjadi beberapa bagian, ukurannya tidak terlalu kecil agar bisa digunakan sebagai wadah daun pepaya. Apabila tidak ada batang pepaya bisa juga digunakan daun papaya ataupun kayu. Hancurkan daun pepaya menggunakan tangan, lalu letakkan di atas batang pepaya/kayu. Letakkan umpan dengan jarak 1 meter atau tergantung dari persebaran keong mas. Umpan batang pepaya diletakkan pada sore hari sehingga pada pagi harinya, keong mas dapat segera di pungut. PENGGEREK BATANG Penggerek batang merupakan hama yang hidup dan menyerang di dalam batang padi. Penggerek batang adalah larva dari ngengat yang berwarna kuning atau coklat. Ngengat tersebut menempatkan telurnya pada setiap batang padi yang kemudian akan menetas dan menjadi larva. Larva-larva tersebut menyerang dengan memakan batang padi dari dalam dan menyebabkan tanaman rusak, menguning dan mati. Pengendalian : – Menggunakan varietas unggul yang memiliki kemampuan menumbuhkan anakan baru untuk mengkompensasi anakan yang mati, seperti PB36, IR77, PB32, atau IR66. – Mengolah dan menggenangi sawah setelah panen – Menghamparkan jerami dan menjemurnya agar larva yang ada pada jerami tersebut mati – Menyayat ujung helaian daun sebelum pindah tanam. Telur-telur hama penggerek batang kuning biasanya diletakkan dekat ujung helaian daun. Dengan demikian jumlah larva dapat dikurangi. – Menaburkan insektisida sistemik yang berbentuk butiran seperti furadan, karbofuran, atau curater. Insektisida tersebut akan diserap oleh akar dan masuk kedalam jaringan tanaman, sehingga larva akan mati ketika memakan batang padi. - Pengendalian dengan pestisida nabati sebagai berikut : Bahan: tanaman sereh (seluruh bagian) 250 gram, Air 4 gelas. Cara membuat: tanaman sere ditumbuk sampai halus ditambahkan air 4 gelas, kemudian disaring. Cara pemakaian: larutan dicampur dengan 13 liter air. Semprotkan pada tanaman padi yang terserang ulat (hama putih, penggulung daun, penggerek batang). Untuk penggerek batang satu minggu setelah dijumpai adanya telur. WERENG COKLAT Wereng Coklat Berkembang pesat pada musim hujan dan La nina, tetapi pada musim kemarau populasinya rendah. Pengamatan perlu dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan paling lambat 2 minggu sebelum panen terhadap 20 rumpun arah diagonal. Monitoring dini dan teknik pengendalian wereng coklat harus menerapkan perhitungan berdasarkan musuh alami. Wereng coklat juga dapat menyebabkan gagal panen. Pengendalian : Pada musim hujan sebaiknya ditanam varietas berumur genjah dan tahan wereng coklat seperti Ciherang atau Inpari – 1 Pola tanam harus serempak Pergiliran varietas dengan menanam varietas tahan seperti Ciherang, mekongga, tukad unda, singkil, cigeulis, pepe, cibogo, dll secara bergiliran, jika di tanam secara terus menerus pada satu lokasi sepanjang tahun maka akan menjadi rentan. Pengendalian dengan pestisida nabati Bahan-bahan ; batang brotowali segar 200 gram, air bersih 1 liter, blender atau alat penumbuk lainnya. Cara membuat ; batang brotowali dicincang/diiris kecil-kecil. Kemudian ditumbuk halus atau diblender, diamkan 1-2 jam lalu disaring. Semprotkan pada tanaman yang terserang di pagi atau sore hari. Bahan-bahan : daun dan bunga kenikir/tagetes sebanyak 2,5 kg, air secukupnya. Cara membuat ; daun dan bungakenikir diblender hingga halus kemudian dimasukkan kedalam wadah, tambahkan air hingga seluruhnya terendam. Diamkan selama kurang lebih 24 jam. Cara menggunakan ; saring ramuan tersebut kemudian ditambahkan 16 liter air dan disemprotkan keseluruh bagian tanaman. Bahan-bahan ; umbi gadung 1 kg, tembakau 2 ons, air secukupnya. Cara membuat ; Umbi gadung dikupas kemudian diparut dan direndam dengan 500 ml air, tembakau direndam dengan 500 ml air mendidih kemudian kedua ramuan tersebut direndam selama 24 jam. Saring kemudian keduanya dicampur rata. Cara menggunakan ; 400 – 500 ml ramuan dilarutkan dengan 16 liter air kemudian disemprotkan ketanaman padi yang terserang. TUNGRO Tungro merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus pada tanaman padi. Penyakit ini biasanya menyerang pada masa pertumbuhan vegetatif. Serangan penyakit ini menyebabkan tanaman tumbuh kerdil berkurangnya jumlah anakan. Pelepah dan daun memendek, daun yang terinfeksi berwarna kuning hingga kuning kemerahan. Daun muda berlurik atau strip memanjang sejajar dengan tulang daun, berwarna hijau pucat sampai putih. Penyebaran penyakit ini dibantu oleh dua spesies wereng hijau yaitu Nephotettix malayanus dan N. virescens. Pengendalian : Menggunakan varietas tahan, seperti Tukad Unda, Tukad Balian, Tukad Petanu, Bondoyudo, dan Kalimas. Mencabut dan membakar tanaman terinfeksi, jika serangan belum parah. Tanam benih langsung (Tabela): Infeksi tungro biasanya lebih rendah pada tabela karena lebih tingginya populasi tanaman (bila dibandingkan tanam pindah). Dengan demikian wereng cenderung mencari dan makan serta menyerang tanaman yang lebih rendah populasinya. Menanam padi saat populasi wereng hijau dan tungro rendah Menanam secara serempak Rotasi tanaman dengan tanaman lain selain padi. Mengendalikan wereng hijau sebagai vektornya dengan penyemprotan insektisida yang berbahan aktif abamectin. Pengendalian pestisida nabati yang digunakan sama dengan pengendalian wereng coklat. HAWAR BAKTERI (HB – Bacterial blight) Hawar bakteri merupakan penyakit yang dapat menyerang pada seluruh fase pertumbuhan tanaman. Yaitu mulai dari penyemaian sampai tanaman tua. Gejala serangan pada tanaman muda disebut dengan penyakit “Kresek” sedangkan serangan pada tanaman tua disebut “Hawar Daun”. Serangan pada semaian dapat menyebabkan daun berubah menjadi hijau keabu-abuan, menggulung dan mati. Serangan pada tanaman tua dapat menyebabkan gagal panen, karena tanaman yang terinfeksi akan menghasilkan gabah yang sedikit dan hampa. Pengendalian : - Menggunakan varietas tahan - Menghindari penggunakan pupuk Nitrogen secara berlebihan dan tambahkan pupuk kalium tinggi dan CALSIUM pada saat pemupukan - Penanganan bibit secara baik waktu pindah tanam. Bibit yang luka akan mudah terinfeksi penyakit hawar. - Pengairan dangkal pada persemaian - Membuat drainase yang baik ketika genangan tinggi - Menjaga kebersihan lahan Tambahkan pupuk MIKRODG DI semprot minimal 4 kali dan usahakan yg kandungan ZN , CU, MO tinggi. Perlakuan benih menggunakan bakteri khorin pada saat perendaman (bisa dibarengkan dengan PGPR & POC yang mengandung giberelin Pencelupan akar bibit padi yang akandi pindah tanamkan pada PGPR Penyemprotan bakteri khorin pada umur 20 dan 40 HST BLAS Penyakit Blas disebabkan oleh cendawan Pyricularia grisea. Infeksi terjadi pada buku batang tanaman padi menyebabkan bercak hitam dan bila berkembang batang menjadi patah. Bila infeksi terjadi pada malai akan menyebabkan blas leher yang dapat berakibat gabah hampa. Pengendalian : Perlakuan benih, sebab penularannya melalui benih. Oleh karena itu sangat dianjurkan perlakuan benih dengan fungisida seperti pemberian 5 – 10 gr pyroquilon untuk setiap 1 kg benih Aplikasi fungisida di pertanaman pada fase anakan maksimum dan fase awal berbunga (5 % berbunga). Fungisida yang direkomendasikan tetrachlorophthalide, benomyl, pyroquinol, difenoconazol, dll. Pengendalian Secara alami dapat dilakukan dengan : Perlakuan benih dengan Agens Hayati PGPR dan Corynebacterium sebelum disebar. Persemaian umur 10 hari diulangi lagi. Dosis 1 gelas Aqua ( 220 ml ) dilarutkan 14 liter air. Kebutuhan 2,5 liter setiap aplikasi. Penyemprotkan pada tanaman padi dilakukan pada umur 14, 28, dan 42 hst. Aplikasi Corynebacterium dapat dicampur dengan perekat. Perekat dapat terbuat dari tepung kanji atau tepung ubi kayu. Menggunakan pestisida nabati dari bahan sirih (ekstrak daun), jambu biji (ekstrak daun) dan lengkuas (ekstrak rimpang). Cara membuat : Hancurkan bahan tumbuhan (daun sirih, jambu biji dan rimpang lengkuas) dengan blender. Bahan tersebut direbus dalam air suling dengan perbandingan 1:10 (bahan : air suling). Tambahkan dengan sedikit detergen. Semua bahan yang sudah tercampur direbus hingga volume larutan tinggal sedikit dan mengental (Semangun, 1993). Sumber Pustaka : Tim Penulis BP4K, 2012. Petunjuk Teknis Pengelolaaan Tanaman dan Sumber Daya Terpadu (PTT) Padi Sawah. BP4K Kabupaten Kuningan. Penulis : Inah Sastinah, SP /Penyuluh Pertanian Pertama UPTD Pertanian (BPP) Kadugede Dinas Pertanian Kuningan