Budidaya padi pada lahan sawah pasang surut di Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone Propinsi Sulawesi Selatan perlu mendapat perhatian yang serius mengingat luas lahan sawah pasang surutnya mencapai 1.143,50 Ha. Hal-hal yang perlu diperhatikan meliputi aspek sosial, ekonomi, dan teknis seperti kondisi agro-ekosistem wilayah pasang surut terutama tipe luapan untuk beberapa daerah seperti Desa Nagauleng, Kelurahan Cenrana, Pallime dan Ajallasse. Gambaran Umum Kondisi agro-ekosistemPetani sawah pasang surut Kec. Cenrana Kab. Bone hanya mampu bertanam padi 1 kali dalam satu tahun (IP 100) yakni pada musim tanam Oktober-Maret dengan waktu tanam dipercepat pada bulan September hingga awal Oktober. Karena jika terlambat maka akan terancam gagal panen karena air asin akan naik ke sawah pasang surut pada akhir bulan Oktober hingga Nopember. Sementara itu pada musim tanam April-September, petani di Desa Naga Uleng tidak bisa bertanam padi karena curah hujan tinggi menyebabkan air di sepanjang sungai wellennai meluap dan menggenangi lahan sawah pasang surut tersebut. Selain itu bisa juga terjadi banjir kiriman dari danau tempe (Kab. Wajo) setiap 2 tahun. Dan untuk 2 tahun terakhir ini yakni 2017 dan 2018 untuk pertama kalinya terjadi banjir kiriman secara berturut-turut. Pengolahan Lahan Untuk pengolahan lahan pasang surut bergambut ?30 cm dapat dilakukan dengan traktor rotary, sedangkan untuk lahan sulfat masam potensial dengan kedalaman pirit ? 30 cm dilakukan tanpa olah tanah (TOT) untuk menghindari oksidasi pirit.Pemberian Bahan Organik Bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan, kimia dan biologi tanah. Bahan organic dapat berupa pupuk kandang, sisa tanaman, pupuk hijau dan kompos sebanyak 5 ton/ha. Jerami dikembalikan ke lahan dengan cara dibenamkan atau dalam bentuk kompos atau dijadikan pakan ternak yang kotorannya diolah menjadi pupuk kandang.Benih Benih yang diajurkan pada MT Gadu adalah: Varietas Inpara-1 untuk mengatasi kekeringan dan kemungkinan intrusi air asin. Namun yang paling banyak diminati adalah varietas yang berumur genjah.Penanaman Penanaman dianjurkan menggunakan bibit muda umur ? 21 hari. Atau menggunakan ATABELA dengan system Jajar legowo untuk memperbanyak populasi tanaman.Pemupukan Kebutuhan pupuk ditentukan berdasarkan hasil analisa tanah dengan perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Untuk Kecamatan Cenrana Kab. Bone menggunakan Urea 250 Kg/Ha, NPK, 300 Kg/Ha, dan Pupuk Organik 500Kg ha.Penyiangan Lakukan Penyiangan gulma pertama kali kurang dari 21 hari setelah tanam (HST) dan setelah itu dilihat dari banyaknya gulma.Panen Tanaman dipanen jika sebagaian besar gabah (90-95%) telah bernas dan berwarna kuning. Penulis : A. Sepalawan, S.Pt. (Penyuluh Pertanian Kecamatan Cenrana)