Loading...

TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN GAMBAS (Lufia acuantangula)

TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN GAMBAS (Lufia acuantangula)
Gambas atau Oyong (Lufia Acutangula) termasuk dalam famili cucurbitaceae, berasal dari india dan telah beradaptasi baik di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Bagian yg dapat dikonsumsi dari tanaman ini adalah buah muda, pucuk daun muda dan bakal bunganya. Selain untuk sayuran, buah gambas yang sudah tua dapat dijadikan sebgai spons untuk pembersih badan maupun cucian peralatan di dapur. Ciri-ciri morfologi tanaman gambas yaitu memiliki akar tunggang dan akar lateral. Batangnya berbentuk persegi dan terdapat bulu kasar di permukaannya. Arah pertumbuhan batang gambas yakni vertikal dengan dibantu oleh batang sulur sebagai batang pemanjat. Gambas memiliki daun tunggal dan tidak memiliki daun penumpu (stipula). Bentuk daun bulat, permukaan daun kasar terdapat bulu-bulu. Gambas juga memiliki bunga tunggal yang muncul di ketiak daun dengna mahkota bunga berwarna kuning. Gambas memiliki buah berwarna hijau, berbentuk lonjong, permukaan bersegi, panjang buah sekitar 20-30 cm. Di dalam buah terdapat biji. Ketika masih muda bijinya berwarna putih, dan kemudian akan menjadi hitam ketika sudah tua. Syarat Tumbuh Tanaman Gambas merupakan tanaman musiman yang dapat tumbuh di datara rendah hingga dataran tinggidan dapat ditanam dilahan sawah atau ditegalan. Tanaman ini termasuk tanaman merambat dan membutuhkan iklim kering dengan ketersediaan air yang cukup sepanjang musim. Lingkungan tumbuh yang ideal adalah di daerah yang bersuhu 18-24 °C dengan kelembaban 5—60%. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, tanaman ini membutuhkan tanah yang subur, gembur, banyak mengandung humus, aerase dan draenasinya baik, serta mempunyai pH 5,5-6,8. Tanah yang paling ideal untuk budidaya gambas adalah jenis tanah liat berpasir misalnya tanah latosol, aluvial dan podsolik merah kuning. Budidaya Tanaman Varietas Varietas yang dapat dibudidayakan adalah San-C, Ping-Ann, Miriam, san-C No. 2 (asal Known You Seed, Taiwan), dan Samson. Kebutuhan benih tiap hektar berkisar 5-10 kg. Produksi Benih Untuk memproduksi benih sendiri dapat dilakukan dengan melakukan panen gambas kurang lebih 110 hari setelah semai (di dataran tinggi) ditandai dengan buah yang telah berwarna coklat, kering, dan bijinya berwarna hitam. Buah dipotong melintang, bijinya dikeluarkan, dibungkus kertas dan dikeringkan hingga kadar air 8%. Biji disimpan dalam stoples yang tertutup rapat yang telah diisi desikan berupa arang atau abu sekam. Persemaian Gambas diperbanyak dengan biji. Benih gambas dapat ditanam langsung di lapangan dengan menggunakan para-para atau teralis untuk tempat merambatnya sulur. Apabila rambatan belum siap dan persediaan benih terbatas, benih dapat disemaikan dulu menggunakan kantung plastik hitam yang berdiameter 5 cm yang diisi 2 benih/ kantung. Media yang digunakan untuk persemaian berupa media pupuk kandang dicampur dengan tanah dengan perbandingan 1:1. Bibit dapat dipindah ke lapangan pada umur 15–21 hari atau setelah berdaun 3–5 helai. Pengolahan Tanah Sistem lubang tanam; Tanah dicangkul sampai gembur. Kemudian dibuat lubang tanam dengan ukuran 200 cm x 60 cm atau 200 cm x 100 cm. Masukkan pupuk kandang 1–2 kg/lubang tanam. Sistem bedengan Tanah dicangkul hingga gembur, kemudian dibuat bedengan dengan ukuran lebar 260 cm, panjang disesuaikan dengan keadaan lahan, tinggi ± 30 cm, dan jarak antar bedengan ± 60 cm. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 200 cm x 60 cm atau 200 cm x 100 cm kemudian masukkan pupuk kandang 1 – 2 kg/lubang tanam. Sistem guludan Tanah dicangkul sampai gembur, buat guludan selebar 60 cm, tinggi 30 cm, dan panjang disesuaikan dengan keadaan lahan dengan jarak antar guludan ± 140 cm, kemudian masukkan pupuk kandang 1 – 2 kg/lubang tanam. Penanaman dan Pemupukan Benih ditanam secara langsung atau melalui pesemaian. Bila ditanam secara langsung, masukkan biji oyong sebanyak 2–3 butir tiap lubang tanam, kemudian tutup dengan tanah setebal 1-1,5 cm. Selama satu musim tanam, dilakukan pemupukan dengan pupuk buatan NPK (16:16:16) 300 kg + Urea 100 kg per hektar. Pemupukan dilakukan pada saat tanam, 2, 4, 6 dan 8 minggu setelah tanam dengan dosis masing–masing seperlima takaran dari total dosis yang dianjurkan. Pemasangan rambatan atau para–para dilakukan saat tanaman berumur 10-15 hari setelah tanam. Para–para bisa berbentuk huruf A, setengah lengkung, lengkungan atau persegi panjang. Pemeliharaan Pemeliharaan tanaman gambas yang biasa dilakukan adalah pemangkasan daun, apabila daun terlalu rimbun, penyiraman dan penyiangan. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) OPT penting yang menyerang tanaman gambas antara lain kumbang daun, ulat grayak, ulat tanah, lalat buah, busuk daun, embun tepung, antraknos, layu bakteri dan virus mosaik. Pengendalian OPT dilakukan tergantung pada OPT yang menyerang. Bila harus menggunakan pestisida, gunakan pestisida yang relatif aman sesuai rekomendasi dan penggunaan pestisida hendaknya tepat dalam pemilihan jenis, dosis, volume semprot, waktu aplikasi, interval aplikasi serta cara aplikasinya. Panen dan Pascapanen Pemanenan gambas dapat dilakukan berulang–ulang. Panen pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 40–70 hari setelah tanam. Ciri–ciri umum buah gambas yang siap di panen antara lain adalah buah berukuran maksimum, tidak terlalu tua, belum berserat, dan mudah dipatahkan. Produksi gambas setiap tanaman mencapai 15-20 buah dan 8-12 ton per hektar. Buah gambas mudah rusak sehingga pengemasan yang baik sangat diperlukan untuk memperpanjang daya simpan, terutama jika untuk pengiriman jarak jauh. Pada suhu 12-160 C, buah gambas bisa disimpan sampai 2-3 minggu. Oleh; Religius Heryanto (Penyuluh Pertanian BSIP Sulawesi Barat) Sumber : Balai Penelitian Tanaman Sayuran