Embung atau tandon air hujan merupakan salah satu teknologi adaptasi terhadap perubahan iklim yang penting, khususnya di lahan sawah tadah hujan. Akibat perubahan iklim, distribusi dan intensitas hujan menjadi tidak menentu sehingga sering menyebabkan kekeringan. Pada pola tanam padi gogo rancah (Oktober-Januari) – padi walik jerami (Februari-Mei) – Palawija (Juni-Agustus), tanaman pada musim tanam kedua dan ketiga sering menderita kekeringan karena ketersediaan air terbatas. Teknologi embun telah diadopsi oleh petani di lahan sawah tadah hujan di Jawa Tengah. Pembangunan dan konservasi EmbungEmbung atau tandon air hujan dan air limpasan (aliran permukaan) adalah tempt untuk menampung kelebihan air pada musim hujan untuk dimanfaatkan pada musim kemarau. Pembuatan embung perlu memperhatikan kemiringan lahan dan tekstrur tanah. Embung sebaiknya dibuat pada lahan bergelombang dengan kemiringan 2-305 agar air limpasan 9aliran kemiringan) dapat mengalir ke dalam embung. Agar berfungsi sebagai penampungan air, sebaiknya embung dibangun pada tanah yang bertekstur liat, lempung, liat berlempung dan lempung liat berdebu. Embung tidak dianjurkan dibangun ditanah yang sarang karena air akan cepat hilang meresap ke dalam tanah. Untuk mengurangi kehilangan air dalam embung, dinding embung perlu dilapisi tembok, plastik atau kapur + lumpur. Permukaan embung perlu ditutup anjang-anjang yang ditumbuhi tanaman merambat. Dapat pula dengan memperdalam embung. Dari berbagai cara konservasi embung, memperdalam embung dari 2m menjadi 3,75 m paling efektif menekan kehilangan air, yakni sebesar 1,57 mm/hari. Dinding embung yang dilapisi lumpur tanah + kotoran sapi atau kapur tohor + lumpur tanah juga efektif menekan kehilangan air. Manfaat Embung Mengairi Lahan PertanianAir embung dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti mengairi tanaman padi pada musim kemarau (padi walik jerami), palawija maupun sayuran. Penggunaan air embung untuk mengairi tanaman bergantung pada volume air didalam embung. Embung dengan volume air kurang dari 1.000 m³ digunakan untuk mengairi tanaman palawija atau sayuran dengan model pengairan kocoran disekitar perakaran tanaman. Tanaman jagung yang mendapat pengairan dari embung mampu menghasilkan biji 6,9 t/ha, sedangkan tanaman tanpa pengairan hanya mampu berproduksi 4,2 t/ha. Demikian pula kedelai, hasilnya mencapai 1,2 t/ha dibanding tanpa embung sebesar 0,8 t/ha. Embung dengan volume air lebih dari >1.000 m³ dapat digunakan untuk mengairi padi walik jerami. Pengairan padi walik jerami dilakukan dua kali, yaitu pada waktu pemupukan dan fase pengisian gabah. Sumber Air BersihDidaerah yang belum terjangkau pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum, kebutuhan air bersih untuk rumah tangga maupun perkantoran dapat menggunakan air sumur atau air embung. Jika menggunakan air embung, perlu proses penjernihan. Sebagai gambaran, di Balai Penelitian Lingkungan Pertanian di Jakenan, Pati, Jawa Tengah, dibangun embung dengan luas 10.335 m², kedalaman air 3,5 m, dan volume air 36.173 m³. Air embung dimanfaatkan sebagai sumber air bersih setelah melalui proses penjernihan sederhana, yaitu menggunakan tawas 5 kg untuk menjernihkan air 8 m³. Air embung yang telah dijernihkan memiliki pH sekitar 8 dan TDS 68 mg/l. Masih dibawah kadar maksimum menurut Permenkes No.492/2010, yaitu ph 6,5 – 8,5 dan TDS 500 mg/l. Kebutuhan air bersih untuk keperluan kantor sekitar m³/hari. Dengan kapasitas tampung embung 36.173 m³, kehilangan air akibat evaporasi + perkolasi + seepage sekitar 7 mm/hari, dan diasumsikan selama 6 bulan tidak ada hujan, air hilang sebesar 13.022 m³. Sisa aie embung 23.150 m³ masih berlebih sebagai sumber air bersih dan untuk mengairi tanaman. Budidaya IkanEmbung dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan setelah terisi air. Ikan dipanen menjelang air embung menyusut. Pemeliharaan ikan di embung akan menambsh pendapatan petani dan memperbaiki asupan gizi keluarga. Hasriani, SP Penyuluh Pertanian DKP-TPH Prov. Sulsel