Kacang hijau merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang banyak dibutuhkan untuk mencukupi gizi keluarga. Penganekaragaman bentuk olahan dari kacang hijau membuat kebutuhan yang selalu meningkat. Kacang hijau (Vigna radiata) dapat ditanam di lahan sawah pada musim kemarau atau di lahan tegalan pada musim hujan. Produktivitas yang masih rendah di tingkat petani, yaitu sekitar 0,9 ton/ha, membuat petani sedikit yang membudidayakan. Padahal dengan teknik budidaya yang tepat hasilnya dapat mencapai 2 ton/ha. Saat ini tersedia pilihan varietas unggul kacang hijau yang bergam baik ukuran bijinya (besar atau kecil), dan kulit biji yang hijau kusam atau mengkilat. Pemilihan varietas hendaknya disesuaikan dengan permintaan pasar. Tahapan – tahapan dalam memproduksi kacang tanah meliputi inovasi teknologi sebagai berikut : Benih dan Varietas Semua varietas kacang hijau yang telah dilepas cocok ditanam di lahan sawah mauapun tegalan. Vrietas unggul yang tahan penyakit embun tepung dan bercak dauan seperti Sriti, Kutilang, dan Muarai dapat dianjurkan untuk ditanam pada daerah endemik. Kebutuhan benih sekitar 20 kg/ha dengan daya tumbuh 90 % Beberapa varietas unggul kacang hijau: Varietas : Kenari Potensi hasil : 1,8 ton/ha Umur panen : 60 – 65 hari Keunggulan : biji hijau mengkilat, agak tahan penyakit bercak daun, toleran penyakit karat daun. Varietas : Kutilang Potensi hasil : 2,0 ton/ha Umur panen : 60 – 67 hari Keunggulan : biji jijau mengkilat, tahan penyakit embun tepung Varietas : Vima 2 Potensi hasil : 2,44 ton Umur panen : 56 hari Keunggulan : Warna biji hijau mengkilap, toleran hama thrips dan penyakit tualar tanah. Varietas : Vima 3 Potensi hasil : 2,11 ton Umur panen : 60 hari Keunggulan : warna biji hijau kusam, toleran penyakit tular tanah, sesuai untuk dibuat kecambah. Penyiapan Lahan Pada lahan bekas padi, tidak perlu dilakukan pengolahan tanah ( Tanpa Olah Tanah = TOT), tunggul padi perlu dipotong pendek. Apabila tanah becek maka perlu dibuat saluran drainase dengan jarak 3-5 m. Untuk lahan tegalan atau bekas tanaman palawija lain (jagung) perlu dilakukan pengolahan tanah, yaitu: pembajakan sedalam 15 – 20 cm, sampai sempurna dan diratakan, buat saluran irigasi dibuat dengan jarak 3 – 5 m. Cara Tanam Tanam dengan sistem tugal, dua biji/lubang Pada musim hujan, digunakan jarak tanam 40 cm x 15 cm , sehingga mencapai populasi 300 400 ribu tanaman/ha. Pada musim kemarau digunakan jarak tanam 40 cm x 10 cm, sehingga populasinya sekitar 400 – 500 ribu tanaman/ha. Pada bekas tanaman padi, penanaman kacang hijau tidak boleh lebih dari 5 hari sesuadah padi dipanen. Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur tidak lebih dari 7 hari. Pemupukan Untuk lahan yang kurang subur, perlu dipupuk Urea: 45 kg, SP36: 45-90 kg, KCl : 50 kg, yang diberikan pada saat tanam secara larikan disisi lubang tanam sepanjang barisan tanaman. Bahan organik berupa pupuk kandang sebanyak 15 – 20 ton/ha dan abu dapur sangat baik untuk pupuk dan diberikan sebagai penutup lubang tanam. Di lahan sawh bekas padi yang subur, tanaman kacang hijau tidak perlu dipupuk atau siberi bahan organik. Mulas Jerami Untuk menekan hama lalat bibit, pertumbuhan gulma dan penguapan air, jerami padi sebanyak 5 ton/ha dapat diberikan sebagai mulsa. Penyiangan Penyiangan dilakukan dua kali yaitu; pada saat tanaman berumur 2 dan 4 minggu. Pada daerah yang sukar mendapatkan tenaga kerja, dapat digunakan herbisida pra tumbuh non selektif seperti Lasso, Roundup, Paraquat, Dowpon atau Goal dengan takaran 1-2 liter/ha yang diberikan 3-4 hari sebelum tanam. Pengairan Bila tersedia fasilitas pengairan, dapat dilakukan pengairan pada periode kritis kacang hijau yaitu saat berbunga (25 hari), dan pengisian polong (45-50 hari). Pada daerah panas dan kering (sushu udara 30 -31o C dan kelembaban uadara 54-62 %, pertanaman perlua diari dua kali pada umur 21 hari dan 38 hari. Sedangkan pada daerah yang tidak terlalu panas dan kering, pengairan cukup diberikan satu kali pada umur 21 hari atau 38 hari. Bila ditanam segera setelah padi sawah yang tanahnya Vertisol (lempung), pengairan tidak perlu diberikan.etstutalis dan Etiela Pengendalian Hama Hama utama kacang hijau adalah lalat kacang Agromyza phaseoli, ulat jengkal Plusia chalcites, kepik hijau Nezara Viridula, kepik coklat Riptortus linearis, penggerak polong maruca tetstutalis dan Etiella zinckenella, dan kutu thrips. Pengendalian hama dapat dilakukan dengan insektisida Confidor, regent, atabron Furadan atau pegasus dengan dosis 2-3 ml/liter air dan volume semprot 500-600 liter /ha. Pada derah endemik lalat bibit Agromyza phaseoli perlu tindakan perlakuan benih dengan insektisida Carbosulfan (10g/kg benih) atau Fipronil (5 cc/kg benih). Pengendalian Penyakit Penyakit utama adalah bercak daun Cercospora canescens, busuk batang, embun tepung Erysiphe polygoni, dan penyakit puru Elsinoe glycines. Pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida seperti : Benlate, Dhitane M-45, Baycor atau Daconil dengan dosis 2 gr/l. Penyakit embun tepung Erysiphe polygoni sangat efektif dikendalikan dengan fungisida hexakonazol yang diberikan pada umur 4 dan 6 minggu. Penyakit bercak daun efektif dikendalikan dengan fungisida hexakonazol yang diberikan pada umur 4, 5, dan 6 minggu. Panen dan Pascapanen Panen dilakukan apabila polong berwarna hitam atau coklat. Pemanenan umumnya dilakukan dengan cara dipetik. Namun varietas-varietas unggul kacang hijau yang ditanam dengan teknik budidaya dan pengairan yang tepat akan masak sermpak (80 %), sehingga dapat juga dipanen dengan sabit. Polong segera dijemur selama 2-3 hari hingga kulit mudah terbuka. Pembijian dilakukan dengan cara dipukul, sebaiknya di dalam kantong plastik atau kain untuk menghindari kehilangan hasil. Biji dijemur lagi sampai kering simpan yaitu kadar air 8-10 %