Loading...

TEKNOLOGI PRODUKSI KACANG TANAH DI KABUPATEN SANGGAU

TEKNOLOGI PRODUKSI KACANG TANAH DI KABUPATEN SANGGAU
Menurut data BPS Prov. Kalbar (2015) luas panen tanaman kacang tanah di Kalimantan Barat pada tahun 2014 mencapai 1.049 hektar dengan rata-rata produktivitas 1,19 ton/ha dan total produksi 1.250 ton. Pertanaman kacang tanah ini menyebar di Kabupaten Bengkayang 285 ha, Landak 204 ha, Sintang 165 ha, Kubu Raya 72 ha, Ketapang 34 ha, dan Sanggau 141 ha. Salah satu varietas kacang tanah yang pernah diujicoba di Entikong, Kabupaten Sanggau oleh BPTP Kalimantan Barat adalah Varietas Jerapah. Tahun 2014 luas panen kacang tanah di Kecamatan Entikong mencapai 50 ha dengan produksi 53,7 ton. Tanaman kacang tanah pada dasarnya dapat ditanam hampir disemua jenis tanah, mulai tanah bertekstur ringan (berpasir),bertekstur sedang (lempung berpasir), hingga bertekstur berat(lempung). Namun, tanah yang paling sesuai untuk tanaman kacangtanah adalah yang bertekstur ringan dan sedang. Salah satu factor pendorong buidaya kacang tanah di Kabupaten Sanggau adalah kesesuaian lahannya yang bertekstur ringan atau berpasir. Berikut ini adalah rekomendasi teknologi budidaya kacang tanah oleh Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian.1. Penggunaan benih unggulBeberapa varietas unggul baru kacang tanah mempunyai berbagai karakteristik, seperti tipe spanish (berbiji dua) dan valensia (berbiji lebih dari dua), tahan terhadap penyakit, toleran terhadap kekeringan, pH tanah yang tinggi (alkalis), dan naungan, serta toleran terhadap jamur Aspergillus flavus. Varietas perlu disesuaikan dengan permintaan pasar.Benih yang digunakan dipilih yang: sehat, seragam, dan jelas asal usulnya.Kebutuhan benih 150“180 kg polong kering atau 80“90kg ose kering per hektar.Varietas Jerpah pernah diujicoba di Kabupaten Sanggau. Varietas ini beradaptasi luas, toleran terhadap kekeringan dan kemasaman. Produktivitas rata-rata mencapai 1,92 ton/ha. Berbiji2 per polong (spanish) lonjong bulat, ukuran biji sedang (45“50 g/100 biji). Jerapah tahan terhadap layu bakteri, toleran terhadap penyakit bercak daun dan karat daun. Umur panen 90“95 hari.2. Pengolahan tanahTanah dibajak 2x sedalam 15“20 cm, lalu digaru, dandiratakan, dibersihkan dari sisa tanaman dan gulma¢dibuat bedengan selebar 3“4 meter, antar bedengan dibuatsaluran drainase sedalam 30 cm dan lebar 20 cm.3. Cara tanamPenanaman dapat dilakukan dengan tugal atau alur bajak dengan jarak tanam 35“40 cm x 10“15 cm, satu biji/lubang.Untuk tanah yang kurang subur, digunakan jarak tanamyang lebih rapat.4. PemupukanUntuk tanah yang kandungan N-totalnya kurang dari 1%,perlu dipupuk 50 kg Urea/ha atau 100 kg ZA/ha, yangdiberikan pada saat tanam atau pada umur 7“15 hari.Bila kandungan P-tersedia dalam tanah kurang dari 12 ppm,perlu diberikan 100 kg SP36 per hektar, yang diberikanpada saat tanam. Jika kandungan P-tersedia lebih dari 12ppm tidak perlu dipupuk P.Pupuk K hanya diberikan jika kandungan K-tersedia dalamtanah kurang dari 0,3 me/100g. Kebutuhan pupuk KCl 35“50 kg/ha KCl (45%) atau 25“40 kg/ha KCl (60%); pupuk KCl diberikan pada saat tanam.Pada daerah yang kandungan (Ca)-nya rendah perlu diberikapur atau dolomit sekitar 300“500 kg/ha.Daerah dengan tanah Alfisol-alkalis (pH > 7,4) dan kandunganbelerangnya rendah (kurang dari 20 ppm SO4) biasanyasering terancam klorosis (gejala kuning). Oleh karena ituperlu tambahan unsur S sebanyak 400 kg/ha melaluipemupukan ZA (kandungan S 24%) atau bubuk belerang(kandungan S 85%) yang dicampur rata pada tanah sebelumtanam. Kekurangan S juga dapat diatasi dengan pemberian2,5 ton/ha pupuk kandang, diberikan pada alur tanaman.Pemulihan klorosis (gejala kuning) diatasi dengan penyem-protan larutan yang mengandung 0,5“1% FeSO4, 0,1%asam sitrat, 3% ammonium sulfat (ZA), 0,2% Urea padaumur 30, 45 dan 60 hari.5. Pengendalian hama Hama utama antara lain wereng Empoasca, penggerek daunStomopteryx subscevivella, ulat jengkal Plusia chalcites, ulatgrayak Spodoptera litura. Hama-hama tersebut dapatdikendalikan dengan insektisida kimia (Regent 50 EC, Decis 2.5EC, Meteor 25 EC, Confidon 70 WS, Marshal 200 SC);diaplikasikan berdasarkan pemantauan hama.6. Pengendalian penyakit Penyakit utama kacang tanah antara lain layu bakteri Ralstoniasolanacearum, bercak daun awal, Cercospora arachidicola, bercakdaun akhir Cercosporidium personatum dan karat Pucciniaarachidis dapat dikendalikan dengan fungisida kimia (Topsin,Benlate, Dithane M-45, Baycor, Delsane MX200 atau Daconil);diaplikasikan pada umur 35, 45, dan 60 hari.7. Penyiangan gulma dan pembubunan Penyiangan gulma pertama dilakukan sebelum tanaman berbungadan penyiangan ke dua setelah ginofor masuk ke dalam tanah.8. Pengairan Periode kritis tanaman adalah pada awal pertumbuhan, umur25, 50, dan umur 75 hari. Pengairan pertama bisa diberikansebelum tanam atau segera setalah tanam. Apabila pada umrukritis tersebut terjadi kekurangan air, maka perlu pengairan yangdapat dimasukkan melalui saluran antarbedengan.9. PanenPanen dilakukan minimal pada saat masak fisiologis. Hal inidapat diketahui dengan mengambil beberapa sampeltanaman: tanaman yang siap panen ditandai dengan dalamsatu tanaman 75% kulit polongnya telah keras, berserat,bagian dalam berwarna coklat dan polong mudah pecah.¢Pada saat panen kondisi tanah harus lembab untukmengurangi kehilangan hasil akibat polong tertinggal dalamtanah. Jika terlambat panen, biji dapat tumbuh di lapangan.10. Pascapanen Setelah panen polong segera dirontokkan, dikeringkan hingga kadar air 10% yang ditandai dengan mudah terkelupasnya kulit ari. Penundaan polong basah lebih dari 24 jam,menyebabkan polong mudah terinfeksi jamur Aspergillus flavus yang menyebabkan kacang menjadi pahit, beraroma tengik, dan beracun.Penyimpanan sebaiknya dalam bentuk polong kering,disimpan pada gudang yang kering, sirkulasi udara lancar,tidak lembab, dan bebas hama gudang. (Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc., BPTP Kalimantan Barat) Sumber: Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. 2005. Teknologi Produksi Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Malang