Loading...

Teknologi Pupuk Hayati dan Bio Pestisida untuk Tanaman Pangan

Teknologi Pupuk Hayati dan Bio Pestisida untuk Tanaman Pangan
Penerapan sistem pertanian yang mengutamakan penggunaan pestisida dan pupuk kimia masih sangat melekat pada model pertanian kita, padahal peningkatan produksi dengan penggunaan bahan-bahan tersebut hanya bersifat sementara, sedangkan dampak negatifnya sangat besar karena menyebabkan kerusakan pada sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Dewasa ini telah banyak diketahui secara parsial tentang pengendalian organisme pengganggu tanaman menggunakan biopestisida berupa pestisida nabati dan agensia hayati, sedangkan pemupukan menggunakan pupuk hayati antara lain pemanfaatan mikroorganisme efektif, baik berasal dari daerah subtropis maupun tropis, yang didalamnya mengandung beberapa macam mikroorganisme antara lain; bakteri selulotik, jamur selulotik, bakteri fotosintetik, bakteri asam laktat, bakteri pelarut fosfat, dll.Pupuk hayati atau pupuk Mikrobiologis adalah pupuk yang mengandung mikroorganisme hidup yang ketika diterapkan pada benih, permukaan tanaman, atau tanah, akan mendiami rizosfer atau bagian dalam dari tanaman dan mendorong pertumbuhan dengan meningkatkan pasokan nutrisi utama dari tanaman. Pupuk mikrobiologis mirip dengan kompos teh, dan bisa dikatakan sebagai kompos teh yang direkayasa karena hanya mikroorganisme tertentu yang bermanfaat bagi tanah yang digunakan.pupuk hayati atau pupuk mikrobiologis bukanlah pupuk biasa yang secara langsung meningkatkan kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi ke dalam tanah. Pupuk mikrobiologis bekerja melalui aktifitas mikroorganisme yang terdapat dalam pupuk mikrobiologis tersebut. Jasad-jasad renik itu lah yang bekerja sesuai dengan "keahlian" nya masing-masing. Setiap tanaman memerlukan paling tidak 16 unsur atau zat untuk pertumbuhannya normal. Dari 16 unsur tersebut, tiga unsur (C,O,H) diperoleh dari udara, dan 13 unsur lainnya diperoleh dari tanah (N, P, K, Ca, Mg, S, Cl, Fe, Mn, Cu, Zn, B, Mo). Dari ke-13 unsur tersebut hanya enam unsur yang diambil tanaman dalam jumlah besar (unsur makro) yaitu N, P, K, S, Ca, dan Mg. Unsur hara utama yang banyak dibutuhkan tanaman tetapi jumlah atau ketersediaanya sering kurang atau tidak mencukupi di dalam tanah yaitu N, P, dan K. Oleh karena itu ketiga unsur ini biasanya ditambahkan dalam bentuk pupuk. Tanah dapat didefinisikan sebagai media alami untuk pertumbuhan tanaman yang terdiri atas mineral, material organik dan organisme hidup. Aplikasi pupuk kimia yang berlebih dan terus menerus dapat membawa dampak negatif terhadap kondisi tanah dan lingkungan. Namun kenyataannya, pertanian modern sangat bergantung pada penggunaan bahan bahan kimia seperti pupuk dan pestisida untuk meningkatkan hasil panen. Oleh karena itu, untuk mengurangi dampak negatif tersebut, maka pupuk organik yang mengandung mikrobiologi (pupuk hayati) dapat dijadikan sebagai alternatif dari penggunaan pupuk kimia. Fungsi unsur-unsur hara makro :Nitrogen (N):1. Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan2. Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman3. Merangsang pertumbuhan vegetatif (warna hijau daun, panjang daun, lebar daun) dan pertumbuhan vegetatif batang (tinggi dan ukuran batang).Tanaman yang kekurangan unsur nitrogen gejalanya: pertumbuhan lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati.Fosfor (P):1. Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman,2. Merangsang pembungaan dan pembuahan,3. Merangsang pertumbuhan akar,4. Merangsang pembentukan biji,5. Merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel,Tanaman yang kekurangan unsur fosfor gejalanya: pembentukan buah/dan biji berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahanKalium (K):1. Berfungsi dalam proses fotosintesis, pengangkutan hasil asimilasi, enzim, dan mineral termasuk air,2. Meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit,Tanaman yang kekurangan unsur kalium gejalanya: batang dan daun menjadi lemas/rebah, daun berwarna hijau gelap kebiruan, ujung daun menguning dan kering, timbul bercak coklat pada pucuk daun. Pupuk organik juga berfungsi meningkatkan kapasitas tukar kation tanah dan membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang meracuni tanaman seperti aluminium, besi, dan mangan. penggunaan pupuk organik saja, tidak dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan ketahanan pangan. Oleh karena itu sistem pengelolaan hara terpadu yang memadukan pemberian pupuk organik dan pupuk anorganik perlu digalakkan. Sistem pertanian yang disebut sebagai LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) menggunakan kombinasi pupuk organik dan anorganik yang berlandaskan konsep good agricultural practices perlu dilakukan agar degradasi lahan dapat dikurangi dalam rangka memelihara kelestarian lingkungan .Pemanfaatan pupuk organik dan pupuk anorganik untuk meningkatkan produktivitas lahan dan produksi pertanian perlu dipromosikan dan digalakkan. Mikroorganisme ada yg punya "keahlian" menambat Nitrogen dari udara, ada juga yang punya "keahlian" menguraikan Phospat dan Kalium yang terdapat dalam tanah, sehingga molekul senyawa Phospate atau Kalium yang besar itu diuraikannya menjadi senyawa Phospat dan Kalium sederhana, yang bisa diserap oleh tanaman.Biopestisida atau disebut dengan pestisida hayati adalah bahan yang berasal dari alam, seperti tumbuh-tumbuhan yang digunakan untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman.Beberapa contoh tumbuh-tumbuhan untuk mengendalikan:a. Hama secara umum adalah Daun mimba, lengkuas dan serai. Ini biasanya suka dicampur sabun colek dan air.b. Wereng coklat bahan yang digunakan: daun sirsak, jeringgau, bawang putih. Ini juga sama dicampur sabun colek dan airc. Hama belalang contohnya contohnya daun sirsak, daun tembakau,. Ini juga sama dicampur sabun colek dan aird. Hama penggerek batang dan nematoda, bahan yang digunakan biji nimba, alkohol dan air.e. Hama Moluska (Siput, keong) . Bahan yang digunakan akar tuba, atau bisa juga sembung, dicampur saun colek dan airYah itu beberapa contoh untuk mengendalikan hama, kalau untuk mengendalikan penyakit lain lagi. Misalnya untuk mengendalikan jamur dan bakteri antara lain: daun tembakau dan biji mimba kemudian ditambahkan sabun colek dan air.Sebetulnya biopestisida merupakan salah satu solusi ramah lingkungan dalam rangka menekan dampak negatif akibat penggunaan pestisida kimia / non hayati yang berlebihan. Saat ini Biopestisida telah banyak dikembangkan di masyarakat khususnya para petani. Namun belum banyak petani yang menjadikan biopestisida sebagai penangkal dan pengendali hama penyakit untuk tujuan mempertahankan produksi.Yah, petani itu inginnya instans maksudnya begitu disemprot hama atau penyakitnya langsung mati atau hilang seperti kalau menggunakan pestisida kimia. Padahal kalau pestisida nabati atau yang disebut biopestisida itu kalau digunakan tidak bisa lansung mati tetapi pelan-pelan, lama-lama mati juga hamanya atau penyakitnya. Disamping itu juga mungkin bahan-bahan yang digunakan untuk membuat pestisida nabati itu tidak tersedia,sehingga ya cenderung beli saja yg kimia, praktis dan gampang mencarinya. Oleh karena itu sekarang bio pestisida banyak dijual di toko-toko yang menjual sarana produksi, namun tidak sebanyak yang menjual pestisida kimia. Oleh karena itu dihimbau kepada kaum tani, agar membiasakan untuk menggunakan bio pestisida karena kenyataannya dengan menggunakan pestisida kimia, banyak kasus keracunan, polusi lingkungan baik terhadap air tanah, maupun udara dan masih banyak lagi dampak buruknya. Program-program pengembangan pertanian yang mengintegrasikan ternak dan tanaman (crop-livestock) serta penggunaan tanaman legum baik berupa tanaman lorong (alley cropping) maupun tanaman penutup tanah (cover crop) sebagai pupuk hijau maupun kompos perlu diintensifkan.Penyunting: Yulia TS.Email : yuliatrisedyowati@Yahoo.co.idSumber: 1. Adi, A. 2003. Degradasi Tanah Pertanian Indonesia Tanggung Jawab Siapa?Tabloid Sinar Tani, 11 Juni 2003. 2. Baharuddin, 2012. Pengelolaan dan pemanfaatan limbah pertanian menunjang PHTdan pertanian ramah lingkungan, Universitas Hasanuddin, Makassar