Loading...

Teknologi Untuk Meningkatkan Produktivitas Kedelai

Teknologi Untuk Meningkatkan Produktivitas Kedelai
Kedelai merupakan komoditas tanaman pangan yang sangat strategis untuk dikembangkan, .produksi kedelai di Indonesi pernah mencapai puncaknya pada tahun 1992 yaitu sebanyak 1,87 juta ton. Namun setelah itu, produksi terus mengalami penurunan hingga hanya 0,672 juta ton padatahun 2003. Artinya, dalam 11 tahun produksi kedelai merosot mencapai 64persen. Sebaliknya, konsumsi kedelai cenderung meningkat sehingga impor kedelai juga mengalami peningkatan mencapai 1,307 juta ton pada tahun 2004 (hampir dua kaliproduksi nasional). sehingga kebutuhan kedelai pada tahun 2015 diperkirakan 2,71 juta ton dan 3,35 juta ton pada tahun 2015 (Atman,2006a; Alimoeso, 2006). Untuk meningkatkan produktivitas kedelai diperlukan inovasi teknologi yang sesuai dalam rangka mencukupi kebutuhan kedelai nasional saat ini dan di masa yang akan datang. Inovasi teknologi yang tepat telah dikembangkan oleh Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Badan Penelitian dan Pengembangan pertanian-Kementerian Pertanian. Komponen teknologi tersebut meliputi varietas unggul dengan beragam karakter baik dalam potensi hasil, umur panen (genjah sampai dalam), keseuaian lahan (baik lahan sawah, lahan kering dan lahan kering masam, maupun lahan pasang surut). Varietas unggul dan penerapan teknologi anjuran sangat menetukan tingkat produktivitas pertanaman dan merupakan komponen teknologi yang relative mudah diadopsi Oleh petani jika benihnya tersedia.Teknologi Kedelai Lahan SawahPada lahan sawah kedelai dapat ditanam dengan pengolahan tanah minimal sehingga dapat m,enghemat biaya. Tanpa olah tanah hasil kedelai berkisar 1,8 – 2,0 ton/ha asal benih yang ditanam bermutu dengan populasi optimal. Populasi optimal kedelai 400.000-500.000 tanaman/ha. Populasi ini dapat dicapai dengan pola pengaturan jarak tanam antar barisan 40 cm dan dalam barisan 10-15 cm dan dua tanaman/rumpun. Jerami padi dapat dimanfaatkan sebagai mulsa tanaman dan dapat meningkatkan hasil kedelai dan mengurangi pertumbuhan gulma hingga 60-65%, sehingga akan mengurangi tenaga/biaya penyiangan. Selain itupemberian mulsa jerami padi sebanyak 5,0 t/ha mampu menekan serangan hama lalat bibit dari 23,8% menjadi 11,9%.Pada lahan sawah tanaman kedelai menyerap hara NPK paling sedikit dibandingkan tanaman padi dan jagung. Dengan demikian menunjukan bahwa tanaman kedelai dapat bersaing dengan tanaman padi dan jagung di lahan sawah dalam kondisi harga pupuk anorganik semakin mahal.Pada lahan sawah jenis alfisol yang sering mengalami kahat hara kalium memerlukan pupuk KCL terutama lahan sawah bekas tanaman padi yang hanya dipupuk dengan Urea, ZA dan pupuk kandang. Pada lahan di Jawa yang telah terbiasa ditanami kedelai secara alami keberadaan rhizobium sudah cukup bagi berlangsungnya simbiose tersebut. Pengelolaan lengas tanah atau air untuk pertanaman kedelai harus mendapatkan perhatian besar untuk mengatasi masalah kelebihan atau kekurangan air. Pengairan sangat diperlukan untuk pertanaman kedelai pada MK2 yang umumnya sudah tidak ada hujan/ sangat jarang. Kebutuhan air bisa dipenuhi dari air irigasi/pompanisasi ataupun air tanah, sistem ini sudah umum dilakukan untuk pertanaman kedelai. Kecukupan air bagi ganaman kedelai akan sangat menentukan hasil. Pertanaman kedelai diperlukan 3-4 kali pengairan yang setiap pengairan melalui pompanisasi air tanah.Teknologim Kedelai Lahan Sub OptimalLahan kering sub optimal seperti tanah jenis Podsolik Merah-kuning (Ultisol) banyak dijumpai di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua sebagai target wilayah pengembangan lahan pertanian. Masalah biofisik terutama keracunan dan pH masam berimplikasi pada kahat hara N,P dan K serta makro diatasi dengan ameleorasi lahan,pemupukan, dan penggunaan rhizobium. Kandungan hara N tanah lahan kering masam umumnya rendah dan tidak cukup mendukung pertumbuhan dan hasil optimal pertanaman kedelai sehingga perlu ditambahkan pupuk N. Namun penambhanan unsur N lebih sedikit bila dibandingkan untuk pertanaman padi dan jagung, karena secara alamiah tanaman kedelai dapat bersimbiose dengan bakteri penambat N-udara (hizobium) dalam bintil akar kedelai yang mapu meyediakan N bagi yanaman dalam jumlah yang banyak. Melalui mekanisme ini 60% kebutuhan N dapat tanaman kedelai dapat dipenuhi. Perluasan areal pertanaman kedelai merupakan salah satu upaya yang berpotensi besar untuk dapat mempercepat peningkatan produksi kedelai nasional. Mengingat di Indonesia terdapat areal pertanaman ubikayu yang cukup luas dan umumnya masih ditanam secara monokultur, maka untuk menginovasi petani perlu diterapkan sistem tumpangsari.Karena dengan sistem demikian penghasilan petani akan meningkat.Ruslia Atmaja-ppmkp ciawi/bppsdmpSumber : Inovasi Teknologi untuk meningkatkan produktivitas kedelai (Balitkabi 2008