TEPULIKAMPAR(Tebas, puntal, balik, hampar) TEPULIKAMPAR Kearifan Lokal Pertanian Organik Petani Banjar Yang Mulai DitinggalkanTeknologi tinggi tidak harus canggih dan serba modern, tetapi dapat digali dari cara-cara tradisional yang berkembang di masyarakat. Teknologi penyiapan lahan sawah pasang surut “Tepulikampar” yang diterapkan petani Banjar secara turun-temurun ternyata mengandung kaidah-kaidah konservasi lahan yang bermanfaatdalam mempertahankan kesuburan tanah serta memperbaiki kualitas tanah dan air. (Balitra, Pustaka Litbang, 2007). Salah satu cara atau metode konservasi yang menggunakan kearifan lokal yaitu seperti yang dimiliki masyarakat banjar yang mana diwariskan secara turun-temurun, telah dikenal cara penyiapan lahan sawah dengan cara ditebas, dipuntal, dibalik dan diampar. Cara penyiapan lahan seperti itu saat ini dipopulerkan dengan istilah “Tepulikampar” yang merupakan singkatan dari tahapan proses penyiapan lahan tersebut. Teknik “Tepulikampar” pada umunya digunakan oleh para petani pesisir seperti para petani di daerah Sungai Barito yang mana lahan pertaniannya merupakan lahan pasang surut.(Ronny Mulyawan, 2012).Sejak zaman dulu, petani lokal Banjar tidak melakukan pemupukan dengan pupuk anorganik/kimia karena jenis padi yang ditanam adalah jenis lokal yang tidak respons terhadap pemupukan. Dikaitkan dengan pertanian organik yang berkembang akhir-akhir ini, yang mana menitik beratkan pada wawasan lingkungan dan yang tidak menggunakan bahan– bahan anorganik atau meminimalkan penggunaan bahan anorganik, ternyata teknologi Tepulikampar dikaitkan dengan pertanian organik yang berkembang akhir–akhir ini, ternyata teknologi Tepulikampar memenuhi kaidah-kaidah dari pertanian organik.(Balitra, Pustaka Litbang, 2007).Sistem Tepulikampar para petani tidak melakukan pengolahan tanah, melainkan hanya melakukan penebasan gulma dan sisa jerami padi dengan menggunakan alat-alat tradisional seperti yang pada umunya digunakan masyarakat banjar yaitu tajak. Tajak digunakan untuk kondisi lahan berair. Pada cara tepulikampar rumput/gulma dan sisa jerami padi yang telah ditebas dibiarkan terhampar selama + 1-1,5 bulan, dan setelah mulai membusuk dikumpulkan dan dibentuk seperti bola (dipuntal) berdiameter 40-50 cm. Gumpalan-gumpalan rumput dan sisa jerami yang sudah mulai membusuk tersebut dibiarkan sekitar 2 minggu kemudian dibalik dan dibiarkan lagi sekitar 2 minggu untuk selanjutnya dihamparkan secara merata ke permukaan sawah. Akan tetapi, sebelum dihamparkan, gumpalan-gumpalan rumput dan gulma tersebut dipotong dengan menggunakan parang untuk memudahkan penghamparan. Proses penyiapan lahan yang cukup panjang ini berkaitan erat dengan sistem tanam pindah atau pada masyarakat banjar dikenal dengan sistem “malacak” yang proses penyiapan bibit padinya juga memerlukan tahapan-tahapan tertentu guna mendapatkan bibit yang kuat dan tinggi tanaman yang cukup. Cara penyiapan lahan juga berkaitan dengan waktu tanam yang menunggu kedalaman dan kualitas air yang baik terlebih dahulu, baru setelah kodisi lahan dianggap cukup sesuai maka proses penanaman dilakukan.Kaidah-kaidah konservasi lahan melalui teknologi Tepulikampar meliputi reklamasi lahan ramah lingkungan dengan mempertahankan keutuhan dan keaslian lahan tanpa merusak lahan tersebut. Secara turuntemurun, petani di aliran Sungai Barito tidak melakukan pengolahan tanah dengan mencangkul maupun dengan traktor, sebab pada tanah sulfat masam di lahan pasang surut terdapat lapisan tanah yang mengandung pirit, yang mana apabila terbongkar dan kontak langsung dengan udara dapat menyebabkan tanaman keracunan. Para petani Banjar dengan teknologi tradisionalnya yang arif telah mengelola lapisan tersebut dengan cara tidak melakukan pengolahan tanah sehingga aman bagi tanaman. Gulma dan jerami ditebas kemudian dibiarkan membusuk secara alami untuk selanjutnya dikembalikan lagi ke lahan, yang mana mengurangi cara yang selalu dibakar, yang mana merupakan salah satu sumber pencemaran udara.(Balitra, Pustaka Litbang, 2007).Lahan pasang surut merupakanlahan marginal karena kesuburantanahnya rendah dan kemasamantanah dan air tinggi sehingga tidakmenguntungkan bagi pertumbuhantanaman. Pengembalian bahan organik pada sistem Tepulikamparpetani terdahulu ternyata dapat memperbaiki kemasaman dan kesuburan tanah. Hasilpenelitian Balai Penelitian PertanianLahan Rawa (Balittra) menunjukkanpengembalian jerami padi 2,5 t/hadapat menurunkan kemasamanatau pH tanah dari sekitar 3,5 menjadi 4,5 serta meningkatkan kandungan hara N dan K dalam tanah.Meskipun teknologi Tepulikampar terbukti mengandung kaidah kaidah konservasi lahan, penerapannya menghadapi masalah lambatnya dekomposisi (perombakan) bahan organik secara alami.Berkaitan dengan itu, Balittra telahmenemukan sejenis jamur perombak dari jenis Trichoderma yangdapat mempercepat perombakan bahan organik. (Balitra, Pustaka Litbang, 2007). Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju dan perkembangan ilmu pengetahuan dengan penemuan bahan kimia pestisida dan pupuk kimia, tradisi pertanian organik sistem Tepulikampar petani banjar sudah mulai ditinggalkan, petani sebagian kecil masih memakainya, tapi sebagian besar mereka mengambil langkah instan dengan pembakaran jerami, penggunaan hand traktor serta banyaknya sekarang herbisida kimiadengan berbagai merk dan jenis yang sangat mudah didapat dipasaran atau toko saprodi baik itu herbisida granul dan cair (sistemik ataupun kontak). Tidak sengaja mereka meracuni serta mengganggu keragaman ekosistem tanah dan air serta pencemaran lingkungan, bahkan penggunaan yang melebihi dosis akan meninggalkan residu pestisida pada hewan dan pada manusia dapat berakbat vatal dan bebagai penyakit. Penulis Herry Siswanto, SPPenyluh wilbin Desa Danda Jaya Kec. Rantau Badauh