Loading...

TUDANG SIPULUNG TINGKAT KABUPATEN LUWU TIMUR 2015

TUDANG SIPULUNG TINGKAT KABUPATEN LUWU TIMUR 2015
HEBOHNYA TUDANG SIPULUNG KABUPATEN LUWU TIMUR Dari Tudang Sipulung Tingkat Kabupaten Luwu Timur Tahun 2015 Tudang Sipulung merupakan musyawarah rutin antara Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dengan masyarakat petani yang dilaksanakan setiap musim tanam atau minimal setiap tahun sekali. Tujuannya adalah untuk merumuskan paket teknologi yang akan diterapkan dalam melaksanakan budidaya padi serta membicarakan solusi atas berbagai permasalahan dan hambatan yang dihadapi. Musyawarah ini dilaksanakan berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, sampai tingkat desa bahkan tingkat kelompoktani.Namun pelaksanaan tudang sipulung tingkat kabupaten kali ini sangat tidak biasa. BP4K sebagai pelaksana kegiatan menyajikan hal baru, sehingga peserta tudang sipulung yang berjumlah 350 (tigaratus limapuluh) orang tidak bergeser dari tempatnya sampai acara ditutup. Ada dua hal baru yang berbeda. Yang pertama: hadirnya pakar nasional di bidang pertanian organik, yakni Ir Alik Sutaryat dari Aliksa Organik Indonesia dan Prof. Mubiar Purwasasmita, ahli teknik kimia dari Institut Teknologi Bandung. Ir. Alik Sutaryat adalah pakar System of Rice Intensification (SRI) Organik, atau sistem bertanam padi intensif secara organik, memiliki pengalaman penerapan SRI Organik selama 14 (empatbelas) tahun di lahan yang sama, tanpa menggunakan pupuk kimia maupun pestisida kimia. Sarana yang digunakan hanyalah bahan-bahan organik, yang sengaja dijadikan kompos dan cairan hasil dari fermentasi secara an aerob yang dinamakan Mikroorganisme Lokal (MOL), yang keduanya dibuat sendiri. Perlakuan yang diberikan juga ramah lingkungan, seperti penyiangan dengan menggunakan gasrok, petakan sawah yang tidak digenangi sehingga hemat air sampai 46%, pengendalian hama dengan mengandalkan aliran energy dan siklus nutrisi karena dilakukan secara organik, intinya bagaimana membuat tanaman dan lingkungan sehat dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Hasil produksi padi yang dihasilkan tidak kalah dengan budidaya konvensional, bahkan ada kecenderungan meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan membaiknya kondisi lahan sawah, minimal 8 Ton per Hektar. Ini mematahkan anggapan selama ini, bahwa dengan pertanian organik, produksi pasti menurun. Pengalaman Ir. Alik Sutaryat telah membuktikan, bahwa tidak ada yang salah dengan budidaya padi organik. Padi organik adalah sebuah keniscayaan yang tidak perlu diragukan lagi dan harus segera dilakukan, guna mengantisipasi kerusakan ekosistem padi sawah agar menunjukkan sifat-sifatnya, dinamis, memiliki struktur jenjang hirarkis dan selalu tergantung satu dengan lainnya, sehingga menjadi jaminan untuk tetap lestari, berkelanjutan dan dapat diwariskan kepada generasi penerus kita. Prof. Mubiar yang selama ini fokus pada proses fisika- kimia-biologi dalam tanah dan SRI Organik memberikan ulasan-ulasan ilmiah yang disampaikan dalam bahasa sederhana mampu memberikan pemahaman, bahwa ternyata setiap tanaman memiliki kemampuan untuk menyiapkan "dapur"nya masing-masing, termasuk padi. Tinggal bagaimana petani memberikan kesempatan kepada tanaman tersebut agar dapur tersebut dapat berfungsi dengan optimal. Caranya adalah: dengan menanam bibit tanaman padi satu satu per lubang tanaman, umur muda (7-9 hari setelah semai), dengan jarak tanam lebar (30 cm X 30 cm), ditanam dengan akar horisontal. Dengan demikian masing-masing tanaman akan mengelola satu dapur sempurna, karena hanya digunakan oleh satu tanaman. Dapur sempurna akan memungkinkan dalam mengolah makanan dengan baik, sehingga menghasilkan nutrisi yang optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dapur yang dimaksudkan adalah ruangan-ruangan dalam tanah yang disediakan oleh pipa-pipa yang terbentuk oleh sisa-sisa tanaman yang dikembalikan kedalam tanah dalam bentuk kompos. Di ruangan inilah mikroorganisme sebagai "chef ahli" akan memasak makanan yang diramu dari sisa-sisa tanaman, air dan udara dalam tanah menjadi nutrisi yang siap diserap tanaman melalui akar. Akar yang tidak tergenang air akan berkembang optimal, sehat dan berfungsi dengan baik sehingga mampu menyerap nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman padi sesuai pertumbuhan dan perkembangan tanaman tersebut.Paparan kedua narasumber ini mampu memukau, membangkitkan motivasi dan memperbaiki mindset berpikir peserta yang menghadiri tudang sipulung hari itu. Orientasi petani selama ini hanyalah "bagaimana menghasilkan produksi setinggi-tingginya". Dimana produksi yang tinggi tersebut identik dengan penggunaan sarana produksi yang tinggi, berupa pupuk dan pestisida kimiawi. Alhasil petani senantiasa berusaha menggenjot penggunaan pupuk dan pestisida kimiawi tanpa memikirkan dampak buruknya terhadap lingkungan, apalagi kemanan produk yang dihasilkan, meskipun biaya input yang digunakan semakin lama semakin besar. Sebagai catatan, metode SRI organik menghasilkan beras organik yang kadar glikemiknya rendah, sehingga aman bagi penderita diabetes. Beras organik dapat direkomendasikan bagi penderita diabetes dan makanan bayi. Beberapa uji coba yang dilakukan telah membuktikan bahwa konsumen beserta keluarganya yang mengkonsumsi beras organik menjadi sehat dan tidak gampang sakit.Kesimpulannya, dengan budidaya padi metode SRI Organik, petani diajak untuk menjadi "petani bijaksana dan mandiri", yakni petani yang melakukan budidaya secara efisien, dimana dengan modal kecil (karena memanfaatkan potensi sumberdaya alam yang tersedia di lingkungan sekitar untuk membuat sarana produksi sendiri) dapat menghasilkan produksi tinggi yang aman dikonsumsi serta tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Hal kedua yang berbeda: kehadiran kedua narasumber ini difasilitasi oleh PT Vale Indonesia Tbk., sedangkan biaya penyelenggaraan tudang sipulung tingkat kabupaten Luwu Timur dibiayai dari APBD II Kabupaten Luwu Timur Tahun Anggaran 2015. Ada sharing pendanaan, yang mana PT Vale melalui dana CSR nya yang dikelola melalui Program Terpadu Pengembangan Masyarakat (PTPM) bidang Pertanian mendukung pertanian berkelanjutan di seluruh kecamatan se-Kabupaten Luwu Timur. PT Vale diwakili General Manager Stakeholders Relations Yusuf Suharso beserta tim mendukung komitmen Pemda Luwu Timur melalui Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan melalui budidaya padi metode SRI Organik.Tudang Sipulung ini dilaksanakan di Desa Bangun Karya, Kamis, 7 Mei 2015. Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Luwu Timur, Ir. H. Muh Thoriq Husler yang memberikan apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan acara ini. Beliau meminta kepada seluruh pihak yang hadir, yakni: kelompoktani, penyuluh pertanian, Camat, kepala desa, TNI, SKPD terkait, termasuk PT Vale agar semakin gencar mensosialisasikan budidaya padi metode SRI organik. Hal ini didasari fenomena yang berkembang di masyarakat petani, bahwa penggunaan pupuk dan pestisida kimiawi adalah faktor utama yang menggenjot produksi pertanian, sehingga semakin banyak digunakan semakin tinggi produksi. Kenyataannya penggunaan sarana produksi kimiawi yang terus menerus dalam jumlah banyak telah terbukti merusak lingkungan, baik tanah, udara, maupun air, bahkan produk yang dihasilkan diragukan keamanannya untuk dikonsumsi, utamanya bagi anak-anak generasi penerus kita.Dalam acara ini hadir pula beberapa nara sumber, yakni : Kepala Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala Instalasi Pengamatan, Peramalan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (IP3OPT), Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Luwu Timur dan Perwira Penghubung.Kepala BP4K, Ir. Nursih Hariani melaporkan untuk seluruh pemerhati pertanian di Luwu Timur dimana pun berada. Semoga bermanfaat dalam menggapai keberkahan bagi Luwu Timur yang "Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghoffur"