Loading...

TUMPANG SARI JARAK PAGAR DAN WIJEN TANAMAN PENGHASIL BBN

TUMPANG SARI JARAK PAGAR DAN WIJEN TANAMAN PENGHASIL BBN
Ketersediaan bahan bakar minyak asal fosil (BBM) makin lama makin menipis, dengan kondisi ini berbagai sumber energi termasuk sumber energi baru terbarukan terus dicari dan dikembangkan. Dari hasil penelitian telah ditemukan bahan bakar nabati (BBN) merupakan sumber energi terbarukan berasal dari tanaman diantaranya adalah jarak pagar, aren, bunga matahari, kelapa, kemiri sunan, kesambi, nyamplung, sagu dan wijen. Saat ini pemerintah khususnya Ditjen Perkebunan sedang mengembangkan tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L), namun saat panen memerlukan waktu yang cukup lama (sekitar dua tahun), sehingga perlu teknik budidaya intercropping (tumpangsari) agar dapat memberikan pendapatan tambahan petani. Jenis tanaman yang bisa ditumpang sarikan dengan jarak pagar antara lain kacang tanah, kedelai, kacang hijau dan wijen. Dari hasil penelitian tumpang sari jarak pagar dengan tanaman kedelai dan kacang hijau memberikanhasil yang hampir sama dibanding tanaman jarak pagar tanpa tanaman sela/tumpang sari lainnya. Persiapan lahan Sebelum ditanami tanaman sela/tumpang sari, lahan pertanaman jarak pagar dibersihkan dari gulma yang tumbuh dan dilakukan pembubunan pada setiap tanaman jarak pagar, selanjutnya melakukan perbaikan draenase dengan jalan memperdalam saluran pembuangan air yang sudah ada, selanjutnya lahan siap diolah dan siap ditanami tanaman sela. Penanaman dan pemeliharaan tanaman sela wijen Penanaman sela dapat dilakukan pada awal musim hujan atau dapat pula pada bulan Maret. Benih ditanam dengan cara ditugal dengan jarak tanam 50 x 25 cm.Pada waktu pendangiran, jarak pagar diberi pupuk kandang 2-5 kg/pohon dan pada awal musim hujan tanaman jarak pagar dipupuk dengan pupuk majemuk NPK (phonska) 450 kg/ha. Kemudian tanaman sela dipupuk dengan pupuk majemuk NPK (phonska) 150 kg/ha yang dilakukan setelah tanam dengan cara ditugal. Panen dan Pasca Panen wijenWaktu panen yang tepat adalah apabila sebagian besar polong sudah berwarna hijau kekuningan, dan daun sudah mulai rontok. Panen dilakukan dengan cara memotong batang wijen 15 – 20 cm di bawah kedudukan polong. Batang wijen dibendel dengan garis tengah 15 – 20 cm, kemudian dijemur secara berdiri, disandarkan di para-para bambu. Kalau cuaca panas, dijemur 7 hari polong-polong ujungnya sudah membuka dan sudah dapat dibijikan dengan membalik bendelan sambil dipukul-pukul dengan kayu agar biji keluar dari polong. Setelah biji dikeluarkan kemudian bendelan dijemur kembali, dan pada hari berikutnya dibijikan kembali untuk mengeluarkan biji yang masih tersisa. Biji kemudian ditampi dan dijemur sampai kering sekitar 2 hari. Penyiangan Penyiangan dilakukan setelah tanaman selaberumur satu bulan dan penyiangan selanjutnya dilakukan setelah panen tanaman sela. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan bila tanaman menunjukkan gejala adanya serangan hama/penyakit. Dilakukan penyiraman untukmencegah tanaman mengalami kekeringan. Hasil jarak pagar dan tanaman selaDengan adanya tanaman sela/tumpang sari wijen maka populasi tanaman sela menjadi sekitar 75% dari sistim tanaman monokultur. Dengan pengaturan tersebut awalnya tanaman sela dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil jarak pagar, namun seiring dengan bertambahnya umur tanaman jarak pagar, tanaman sela ijen tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi jarak pagar. Dari hasil penelitian Puslitbang Perkebunan, hasil biji kering jarak pagar dan tanaman sela wijen pada tanaman jarak pagar hasil rehabilitasi pada tahun pertama dan kedua menunjukkan hasil sebagai berikut:1. Tahun pertama hsil biji kering jarak pagar sebesar 80,1 kg/ha dan wijen 1.380,6 kg/ha. Dengan prosentase terhadap produksi monokultur jarak pagar 64,2% dan wijen - 26,0% 2. Tahun kedua hsil biji kering jarak pagar sebesar 712,92 kg/ha dan wijen 501,2 kg/ha. Dengan prosentase terhadap produksi monokultur jarak pagar 34,9% dan wijen – 59,5% Populasi tanaman wijen diantara tanaman jarak pagar tidak mengurangi populasi jarak pagar. Dengan sistim tumpang sari ini mempunyai keunggulan antara lain dapat mengurangi resiko kegagalan panen, mengurangi biaya penyiangan dan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lahan. Manfaat tanaman wijen antara lain umur panen hanya 2,5-5 bulan, potensi produksi 0,9-1,6 ton/ha, kadar minyak 45-55%, minyak wijen juga berpotensi sebagai biofuel melalui proses transesterifikasi untuk menghasilkanbiodiesel. Dengan sistim tumpangsari ini diharapkan akan menambah pendapatan petani diluar pendapatan dari bertanam jarak pagar. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : Dihimpun dari berbagai sumber.