Loading...

TUMPANGSARI JAGUNG DAN KEDELAI MENGHEMAT LAHAN

TUMPANGSARI JAGUNG DAN KEDELAI MENGHEMAT LAHAN
Peningkatan hasil budidaya pertanian dengan cara memperluas lahan budidaya sekarang ini sudah sulit dilakukan mengingat populasi penduduk terus meningkat dan lahan potensial terus berkurang akibat alih fungsi lahan. Oleh karena itu, pola tanam tumpangsari menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan produksi hasil pertanian tanpa memperluas areal lahan budidaya. Keterbatasan luas lahan dan masih rendahnya produktivitas komoditas pertanian di tingkat petani menyebabkan usahatani menjadi tidak optimal. Seiring kemajuan teknologi, model pertanaman tumpangsari banyak mendapat perhatian. Sistem tanam tumpangsari atau disebut juga sistem tanam ganda (multicropping) adalah kegiatan penanaman dengan dua atau lebih jenis tanaman secara bergilir dengan periode atau waktu tanam bersamaan pada satu areal lahan yang sama. Sistem tanam ganda dibedakan menjadi tiga jenis yaitu pola tanam tumpangsari atau inter cropping, pola tanam bergilir atau sequential cropping dan pola tanam sela. Budidaya Tumpangsari/Pola tanam campuran pada dasarnya dapat diterapkan pada jenis tanaman apa saja. Teknik budidaya tanaman ini sudah dikenal dan diterapkan sejak jaman dulu dan memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas lahan, meminimalisir risiko usahatani, dan meningkatkan pendapatan hasil pertanian. Keuntungan yang diperoleh dengan penanaman secara tumpangsari diantaranya yaitu memudahkan pemeliharaan, memperkecil resiko gagal panen, hemat dalam pemakaian sarana produksi dan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan. Pertanaman tumpangsari mampu memberikan hasil tanaman secara keseluruhan yang lebih tinggi dibandingkan monokutur, apabila tepat dalam pemilihan sepesies tanaman yang ditumpangsarikan. Salah satu diantaranya adalah tumpangsari jagung dengan tanaman kedelai. Tumpangsari jagung-kedelai juga bertujuan untuk mengatasi persaingan penggunaan lahan untuk tanaman jagung dan kedelai secara monokultur. Mengingat bahwa harga jagung relatif baik dan keunggulan koparatif tanaman jagung relatif lebih tinggi dibanding tanaman kedelai, maka dalam sistem tumpangsari jagung-kedelai, produktivitas tanaman jagung minimal sama dengan tanpa tumpangsari.Kedelai dan jagung umumnya ditanam di lahan kering (tegalan) secara tumpangsari maupun monokutur . Tantangan peningkatan produksi kedelai relatif lebih berat dibandingkan padi dan jagung, karena: (1) luas tanam cenderung turun akibat kurang diminati, (2) margin keuntungan lebih kecil dibandingkan padi dan jagung, (3) petani lebih mengutamakan mengusahakan tanaman penyangga pangan keluarga seperti jagung dan padi, (4) persaingan penggunaan lahan, mengingat agroekologi dan musim tanam kedelai relatif sama dengan jagung. Upaya yang dapat ditempuh untuk perluasan areal panen kedelai adalah dengan memasukkan kedelai ke sentra produksi jagung dalam pola tumpangsari. Oleh karena itu perlu diketahui teknik penanaman kedua komoditas tersebut dalam pola tumpangsari agar produktivitasnya tinggi. Kedelai merupakan tanaman semusim, berupa semak rendah, tumbuh tegak, berdaun lebat dengan beragam morfologi. Tinggi tanaman berkisar antara 10-200 cm, dapat bercabang sedikit atau banyak tergantung kultivar dan lingkungan hidup. Jagung merupakan tanaman yang mempunyai habitus yang lebih tinggi dibanding kedelai. Panjang daun jagung bervariasi antara 30-50 cm dan lebar 4-15 cm dengan ibu tulang daun yang sangat keras. Jagung merupakan tanaman berumah satu dimana bunga jantan terbentuk pada ujung batang sedangkan bunga betina terbentuk dipertengahan batang. Penundaan waktu tanam salah satu jenis tanaman dalam sistem tumpangsari akan memberikan peluang agar pada saat tanaman mengalami pertumbuhan maksimal tidak bersamaan dengan tanaman yang lain. Hal ini akan membantu usaha pencapaian potensi hasil dari kedua jenis tanaman yang ditumpangsarikan. Penanaman yang terlambat dari perode yang dipertimbangkan akan menurunkan hasil secara nyata walaupun lengas tanah (ketersediaan air di tanah) cukup. Penurunan hasil ini disebabkan oleh kurangnya cahaya yang diterima karena adanya persaingan dengan tanaman lain disekitarnya. Kompetisi terhadap radiasi matahari dalam pertanaman jagung dan kedelai dapat dikurangi dengan melakukan modifikasi misalnya dengan pemangkasan tajuk jagung sampai pada batas-batas tertentu yang tidak merugikan. Naungan yang disebabkan oleh malai dapat menurunkan hasil jagung antara 14-21% terutama pada populasi di atas 50.000 tanaman per hektar. Pemotongan batang di atas tongkol pada umur 20 hari setalah 75% tanaman berbunga, hasil jagung meningkat dibandingkan tanpa pemangkasan. Pemangkasan daun tidak menyebabkan penurunan hasil apabila dilakukan pada saat yang tepat terhdap daun yang tidak efisien berfotosintesis. Pemangkasan dapat juga dilakukan terhadap organ lain tanaman yang dapat menghambat penerusan cahaya ke seluruh daun. Daun bagian bawah tidak efisien karena tidak mendapatkan cahaya yang cukup untuk proses fotosintesis, sedangkan bunga jantan yang tidak berfungsi lagi dalam penyerbukan merupakan organ yang dapat menghambat datangnya cahaya ke dalam daun tanaman. Potensi fotosintesisi dari daun-daun tanaman jagung pada 1/3 bagian terletak di bagian atas adalah 2 kali lebih besar daripada 1/3 bagian daun yang terletak di tengah dan 5 kali lebih besar daripada 1/3 bagian daun yang terletak di sebelah bawah. Kombinasi tumpangsari jagung-kedelai dapat diterapkan pada sistem tanam legowo 2 : 1 dimana dua baris tanaman dirapatkan (jarak tanam antar baris), sehingga antara setiap dua baris tanaman terdapat ruang untuk pertanaman kedelai. Tingkat produktivitas jagung diperoleh pada pertanaman legowo tidak berbeda bahkan cenderung lebih tinggi (karena adanya pengaruh tanaman pinggir/border) dibanding pertanaman baris tunggal (tanam biasa). Ruang kosong pada baris legowo dapat ditanami 2 baris tanaman kedelai tanpa menurunkan produktivitas jagung sehingga terjadi peningkatan indeks penggunaan lahan dan pendapatan petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedelai yang ditanam di antara tanaman jagung akan diperoleh 50% dari hasil kedelai yang ditanam sistem monokultur. Penanaman tanaman kedelai sebagai tumpangsari pada tanaman jagung juga dapat memperbaiki kesuburan lahan karena adanya fiksasi N dibanding sistem monokultur jagung. Wilayah Pengembangan Sistem tumpangsari jagung-kedelai menggunakan cara tanam legowo dapat diterapkan pada lahan sawah maupun lahan kering dengan tingkat kesuburan tanah dan ketersediaan sumber air yang cukup. Mengingat maksud penanaman sistem logowo ini bukan semata untuk meningkatkan hasil, maka penerapannya diutamakan dan dikaitkan dengan upaya peningkatan indeks pertanaman (IP) jagung. Dengan peningkatan IP maka hasil panen dapat meningkat dan pengelolaan lahan menjadi lebih produktif. Cara Budidaya Penanaman jagung Gunakan varietas hibrida bertipe tegak, Bima-2, Bima-4, Pioner-21, Bisi-16 dan lain-lain. Jumlah benih yang dibutuhkan 15 – 17 kg/ha Pastikan bahwa benih yang ditanam mempunyai daya berkecambah (>90%) dan vigor benih yang baik (perhatikan masa daluwara benih) Tanah diolah sempurna Tanaman jagung ditanam 1 biji per lubang dengan sistem tanam legowo/double row, kemudian ditutup dengan pupuk organik 1 genggam Jarak tanam untuk tanaman jagung sistem legowo adalah (100-50) cmx 20 cm atau (110-40) cm x 20 cm (lihat Gambar) Dosis pemupukan yang digunakan adalah: Lahan sawah menggunakan takaran 350 kg Urea + 300 kg phonska atau pupuk majemuk lainnya. Pemberian diberikan 2 kali, pemberian pertama pada umur 7-10 hst sebanyak 100 kg urea + 300 kg phonska/ pupuk majemuk lainnya per hektar. Pemupukan kedua dilakukan pada 35-45 hst dengan takaran 250 kg urea per hektar. Pupuk dimasukkan dalam lubang yang dibuat + 10 cm di samping tanaman dan ditutup dengan tanah Lahan kering menggunakan takaran 325 kg Urea + 300 kg phonska atau pupuk majemuk lainnya. Pemberian diberikan 2 kali, pemberian pertama pada umur 7-10 hst sebanyak 100 kg urea + 300 kg phonska/ pupuk majemuk lainnya per hektar. Pemupukan kedua pada umur 35-45 hst dengan takaran 20 kg urea + 100 kg phonska/pupuk majemuk lannya. Pupuk dimasukkan dalam lubang yang dibuat + 10 cm di samping tanaman di tutup dengan tanah Penyiangan dan pembumbunan dilakukan dengan cangkul Penen dapat dilakukan apabila kelobot sudah kering dan lapisan hitam pada pangkal biji (black layer) telah terlihat. Sisa batang tanaman (biomas) dijadikan kompos atau dapat digunakan sebagai mulsa diantara baris tanaman untuk pertanaman berikutnya. Penanaman kedelai Gunakan varietas kedelai yang toleran naungan, diantaranya Dena-1 atau Dena-2. Jumlah benih yang dibutuhkan 15- 20 kg/ha Benih dicampur dengan inokulan Rhizobium sp (nodulin, rhizogin dll) 5 kg benih per 10 g (1 saset), caranya adalah benih dibasahi kemudian ditiriskan, inokulan ditaburkan dan diaduk merata hingga merekat dan diperkirakan semua benih mendapatkan inokulan, kemudian segera ditanam. Hindari terkena cahaya matahari langsung pada benih yang telah dicampur dengan nodulin Benih ditanam di antara barisan legowo pada tanaman jagung dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm, sehingga terdapat 2 barisan tanaman kedelai antara setiap barisan legowo jagung. Penanaman kedelai dapat bersamaan dengan penanaman jagung atau 1-7 hari setelah penanaman jagung Dosis pupuk yang digunakan adalah 50 kg urea + 50 kg phonska/ha 7- 10 hst (bersamaan dengan pemupukan pertama jagung apabila tanamnya bersamaan) Kedelai di panen sebelum polong pecah, yaitu saat polong berwarna coklat. Kedelai sebaiknya dipanen lebih awal dari jagung. Biomas tanaman dapat dijadikan kompos. Penulis : Ricky Feryadi, SP.MP Penyuluh Pertanian Pusat Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan Pustaka: Badan Litbang Pertanian. 2015. Tumpangsari Jagung dengan Kedelai dalam Sistem Tanam Legowo. Kementerian Pertanian. Http:// https://www.litbang.pertanian.go.id/info-teknologi/2287/#:~:text=Kombinasi%20tumpangsari%20jagung%2Dkedelai%20dapat,terdapat%20ruang%20untuk%20pertanaman%20kedelai. Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga. 2019. Tumpangsari Jagung dan Kedelai. Http:// https://dinpertan.purbalinggakab.go.id/tumpangsari-jagung-dan-kedelai/ Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. 2019. Tumpangsari Jagung dengan Kedelai pada Lahan Sawah. Kementerian Pertanian. Http:// https://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/infotek/tumpangsari-jagung-dengan-kedelai-pada-lahan-sawah/ Permanasari I, dan Kastono D. 2012. Pertumbuhan Tumpangsari Jagung dan Kedelai pada Perbedaan Waktu Tanam dan Pemangkasan Jagung. Jurnal Agroteknologi 3(1):13-20.