Loading...

Uji Teknologi Pendamping Mahasiswa Kab. Wonogiri Berikan Hasil Signifikan

Uji Teknologi Pendamping Mahasiswa Kab. Wonogiri Berikan Hasil Signifikan
Hasil panen yang diperoleh dari demplot Pendamping Mahasiswa cukup memuaskan walaupun demplot yang dilaksanakan terkendala terbatasnya air. Dari hasil uji teknologi (demplot) yang dilakukan, produktivitas tanaman padi meningkat 30-50%. Menurut petani pemilik sawah demplot, biasanya mereka hanya mendapat 17 karung per 2000 m2 atau sekitar 6-7 ton GKP per Ha, sedangkan pada saat uji teknologi tersebut hasil yang di dapatkan mencapai 24 karung per 2000 m2 atau mencapai 10 ton GKP per Ha. Namun di sisi lain, produktivitas tanaman kedelai masih dianggap kurang memuaskan. Hal ini disebabkan karena biaya input masih terlalu tinggi jika dibandingkan dengan harga penjualan kedelai di tingkat petani yang sampai saat ini terbilang rendah yaitu Rp 7.000,-/Kg. Produktivitas rata-rata tanaman kedelai hasil demplot pendamping mahasiswa mencapai 2,925 kg/ubinan atau setara 1,675 ton/Ha. Angka tersebut sudah lebih tinggi dibandingkan dengan angka harapan hasil panen kedelai Wonogiri yaitu minimal 1,3 ton/Ha. Petani memerlukan contoh yang nyata dari kegiatan budidaya. Oleh karena itu, demontrasi plot (demplot) sangat diperlukan untuk dilakukan. Demplot merupakan suatu metode penyuluhan di lapangan yang cukup tepat untuk memperlihatkan secara nyata tentang cara serta hasil dari penerapan teknologi pertanian yang bermanfaat bagi petani. Pendampingan mahasiswa dan alumni yang mengusung jargon "Mahasiswa Sahabat Petani" ini melaksanakan demplot tanaman padi dan kedelai pada empat titik di Kabupaten Wonogiri dengan luas tanam masing-masing 2500 m2. Demplot ini merupakan rangkaian dari kegiatan UPSUS Pajale 2015. Wilayah demplot mahasiswa di Kabupaten Wonogiri antara lain di Kecamatan Sidoharjo (menggunakan varietas Menthik) dan Kecamatan Selogiri (varietas Situbagendit) untuk demplot tanaman padi. Sedangkan di Kecamatan Purwantoro (Varietas Gepak Kuning) dan Kecamatan Tirtomoyo (Varietas Anjasmoro) untuk demplot tanaman kedelai. Teknologi yang diterapkan adalah penggunaan pupuk organik yang bernama Slow Release Organic Paramagnetic (SROP) produk dari MIPA UGM yang dikombinasikan dengan pupuk kimia NPK Phonska dalam berbagai dosis. Penggunaan abu silika organik, SRI dan jajar legowo 4:1 tipe 2 juga diterapkan di dalam demplot tanaman padi, sedangkan pada demplot tanaman kedelai dilakukan penambahan legin pada benih kedelai serta mikoriza sebagai agen hayati yang bekerja pada sistem perakaran untuk meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara. Penanaman demplot dilaksanakan mulai bulan Juli pada musim tanam 3 (MT3) yang didominasi oleh kekeringan. Hal ini disebabkan karena penerjunan pendamping mahasiswa dan alumni baru di mulai pada pertengahan MT2. Harapan dari pendamping mahasiswa/alumni dalam program pendampingan ini adalah adanya tindak lanjut kegiatan uji teknologi budidaya padi dan kedelai yang telah dilaksanakan oleh pendamping, sehingga hasil uji teknologi dapat diketahui secara tepat dan peningkatan hasil dapat dicapai terus-menerus. Selain itu, perlu adanya perbaikan rantai pola agribisnis komoditas kedelai sehingga harga kedelai mampu bersaing dengan komoditas lain dan petani kedelai Wonogiri mau berlomba-lomba membudidayakan tanaman kedelai. Disusun oleh Nafi' Nur S., SP, M.Sc (Koordinator Pendamping Mahasiswa/Alumni Kab. Wonogiri)