Sektor pertanian sangat rentan terhadap perubahan iklim karena karakteristik biologi, pola tanam dan sistem usahatani tergantung pada alam yang sangat ditentukan oleh iklim sehingga akan berpengaruh pada sosial ekonomi disektor pertanian. Jika kita tidak melakukan intervensi berupa antisipasi, maka sektor pertanian termasuk subsektor perkebunan akan mengalami dampak yang serius akibat perubahan iklim. Dampak utama perubahan iklim global maupun regional terhadap sektor pertanian antara lain berubahnya pola hujan dan terjadinya iklim ekstrim El Nino (kekeringan) dan La Nina (banjir), meningkatnya suhu udara; dan naiknya permukaan laut. Kerentanan pertanian terhadap perubahan iklim terutama terkait dengan tiga faktor utama yaitu biofisik, genetik dan majemen. Tanaman perkebunan umumnya tanaman semusim relatif sensitif terhadap iklim terutama dalam situasi kekurangan dan kelebihan air. Hal ini erat hubungannya dengan sistim penggunaan lahan dan sifat tanah, pola tanam, teknologi pengelolaan lahan dan air serta jenis dan varietas tanaman. Iklim ekstrim menyebabkan antara lain : 1) kegagalan tanam dan panen serta penurunan IP yang berujung pada penurunan produktivitas dan produksi; 2) kerusakan sumberdaya lahan pertanian; 3) peningkatan frekuensi, luas dan bobot/intensitas kekeringan; 4) penurunan kadar air dalam tanah yang berujung pada penurunan produktivitas dan produksi tanaman. Kekeringan berdampak pada turunnya produksi tanaman perkebunan sebagai akibat rusaknya tanaman. Pada tingkat kerusakan ringan daun mulai layu namun daun tetap hijau dan kulit batang masih tampak segar, sedang pada tingkat kerusakan berat daun menjadi kering, daun berwarna hitam seperti terbakar, 50% dahan mulai kering dan mudah patah serta akar mulai kering. Selain itu bunga mulai mengering, buah yang belum masak menguning dan menjadi keriput sehingga menurunkan produksi tanaman 50%-100%. Guna menanggulangi kekeringan akibat terjadinya iklim ekstrim, perlu dilakukan upaya-upaya diantaranya dengan teknologi memanen air. Yang dimaksud dengan teknologi memanen air adalah teknologi bagaimana cara mencegah tanah kehilangan air permukaan dan evaporasi melalui teknologi konservasi lahan. Jenis-jenis teknologi konservasi air lahan sebagai berikut:1. Pembuatan istana cacing, yaitu pembuatan lubang dengan diameter 15 cm sedalam 0,5-1m dengan jarak 0,5-0,75 m dari batang pohon. Lubang tersebut diisi dengan kompos atau pupuk kandang kemudian dimasukkan cacing tanah. Istana cacing dibuat untuk setiap tanaman masing-masing tanaman dibuatkan dua lubang. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat dekomposisi bahan organik, sehingga tanah dapat menyimpan air. 2. Strip rumput, yaitu rumput ditanam berselang dengan tanaman utama dan disusun memotong lereng, dengan tujuan untuk mengurangi jumlah laju aliran air dan menyaring tanah yang terbawa air3. Penanaman rumput gajah, terutama ditanam pada lahan miring yang rawan terhadap erosi. Penanaman ini dimaksudkan sebagai penguat terasering sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak.4. Teras: Bertujuan untuk menghambat aliran permukaan, memudahkan air meresap ke dalam tanah, dan mencegah erosi5. Tanam lorong: Yaitu penanaman tanaman pangan pada lorong diantara barisan pagar tanaman6. Tanaman penutup tanah: yaitu tanaman yang ditanam secara strip/digilir dengan tanaman semusim, atau ditanam sendiri/bersama tanaman pokok, ataupun ditanamn sebagai penutup tanah pada lahan kebun. Penggunaan tanaman penutup bertujuan untuk pengurangi erosi7. Rorak: adalah lubang yang dibuat pada bidang olah ataupun pada saluran resapan , sebagai tempat penampungan aliran air muka. Khususnya untuk tanaman kopi dan kakao pembuatan rorak sebaiknya dikombinasikan dengan penambahan bahan organik. Rorak dibuat dengan ukuran 0,8 x 0,4 x 0,4 m yang dibuat sebanyak 50% dari populasi pohon dengan posisi saling menyilang. Sedangkan bahan organik yang digunakan untuk mengisi rorak adalah seresah atau sisa daun kering dan kotoran hewan yang ada disekitar perkebunan. 8. Embung: adalah tempat pemanenan air pada saat hujan dan digunakan untuk pengairan pada saat kering9. Dam parit: upaya untuk mengumpulkan atau mebendung aliran air pada suatu parit melalui penampungan air permukaan untuk mengairi lahan sekitarnya dan menurunkan kecepatan air pada saat musim hujan.10. Pembubunan bahan organik, yaitu memberikan bahan/pupuk organik atau kompos yang dibumbunkan pada daerah perakaran tanaman hingga disekitar leher akar sebanyak 2-4 kg/pohon. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber :1) Modul iklim, 2011. Kerjasama Kementerian Pertanian dengan BMKG; 2) Dihimpun dari berbagai sumber.