Saat ini tanaman padi hibrida merupakan salah satu alternatif pilihan dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas gabah nasional. Pengertian dari padi hibrida adalah turunan pertama (F1) dari persilangan antara dua galur murni. Varietas padi hibrida yang akan dikembangkan merupakan generasi F1 hasil persilangan antara galur mandul jantan (A) dengan restorer (R). Padi hibrida merupakan padi yang notabene bisa berproduksi tinggi hingga 12 ton/ha jauh melebihi produksi padi lokal yang rata-rata 7-8 ton/ha. Tapi perlu diingat bahwa tanaman ini memerlukan perawatan yang ekstra hati-hati, karena padi hibrida merupakan tanaman yang mudah terserang hama penyakit. Selain itu tanaman ini juga memerlukan pupuk yang lebih banyak dibanding padi unggul lokal. Satu lagi yang penting diketahui bahwa benih padi hibrida tidak bisa diturunkan, sehingga hanya bisa sekali tanam. Dari penjelasan tersebut diatas maka salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas padi dapat dilakukan dengan penggunaan benih hibrida dengan teknologi budidaya yang tepat. Berikut penjelasan teknis budidaya padi hibrida. Penyiapan Lahan Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan dua kali agar dapat diperoleh pelumpuran tanah yang baik. Pengolahan tanah dengan bajak singkal, dengan kedalaman 10-20 cm. Sebelum diolah, tanah digenangi air selama seminggu untuk melunakkan tanah, galengan dibersihkan, dan dipupuk dengan tanah agar air pada petakan sawah tidak hilang melalui rembesan. Setelah diolah, tanah dibiarkan selama seminggu dan digenangi air. Tanah diolah kembali dengan bajak rotari sampai melumpur dilanjutkan dengan perataan tanah sampai siap tanam. Persiapan Benih dan Persemaian Benih padi hibrida hanya dapat digunakan untuk satu kali musim pertanaman. Karena benih dari hasil pertanaman padi hibrida tidak dapat ditanam kembali, maka setiap kali menanam harus menggunakan benih baru. Untuk 1 hektar areal pertanaman membutuhkan antara 10 – 20 kg benih. Sebelum disebar, benih direndam selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam selama 24 jam ditempat yang aman. Pada waktu pengolahan tanah pertama, lakukan pengolahan tanah untuk pembibitan. Luas lahan untuk pembibitan 4% dari luas sawah yang akan ditanami. Misalkan, apabila luas sawah yang akan ditanami 1 ha, maka luas tanah untuk pembibitan adalah 400 m2. Sehari sebelum ditebar, benih direndam dalam air garam 3% (30 g/1 lt air). Setelah benih direndam dalam larutan garam, kemudian ditiriskan dan didiamkan selama 24 jam sebelum ditebar ke tempat persemaian. Tempat persemaian sebaiknya diberi pupuk kandang sebanyak 2 kg/m2 agar pada saat pencabutan menjadi lebih mudah. Benih ditebar secara merata dan tidak saling menindih. Ukuran bedengan persemaian panjang 10-20 m, lebar 1-1,2 m tinggi bedengan 5-10 cm. Antar bedengan persemaian dibuat selokan sedalam 25-30 cm. Persemaian sebaiknya diberi pupuk urea sebanyak 20-40 kg/ha. Pupuk urea diberikan pada waktu tujuh hari setelah tebar benih. Penanaman dan Penyulaman Penanaman, Pada saat bibit akan ditanam, bibit dicabut secara diagonal, kemudian dibersihkan dari tanah yang menempel pada akar secara hati-hati. Tanam pindah sebaiknya dilakukan pada waktu bibit masih berumur muda, yaitu 10, 15 atau 21 hari setelah tebar agar pembentukan anakan lebih optimal. Cara tanam dapat dilakukan dilakukan dengan model tegel (20x20cm, 22x22cm, atau 25x25cm). Model legowo 2:1, atau 4:1, dengan jarak tanam 12,5 cm dalam barisan dan 25cm antar baris. Tanamlah bibit pada kedalaman 2-3 cm, dengan jumlah bibit yang ditanam hanya 1 per lubang atau paling banyak 2 bibit tanam per lubang tanam. Penyulaman,untuk mendapatkan populasi maksimal, setelah tanam dilakukan penyulaman terhadap bibit yang tidak tumbuh/mati dengan bibit yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Penyulaman dilakukan maksimum satu minggu setelah tanam untuk mempertahankan populasi yang optimal. Pemupukan Pemberian pupuk untuk padi hibrida sebaiknya dilakukan pada umur 7-10 hari, 21 hari dan 42 hari setelah tanam. Pada umur 7-10 hari, pupuk yang diberikan sebanyak 75 kg urea, 100 kg SP36 dan 50 kg KCl per hektar. Pada umur 21 hari, pupuk diberikan sebanyak 150 kg urea/ha dan pada umur 42 hari diberikan 75 kg urea dan 50 kg KCl/ha. Pupuk urea perlu diberikan sebanyak 3 kali agar pemberian pupuk N menjadi lebih efisien terserap oleh tanaman. Sedangkan pemberian pupuk KCl dilakukan 2 kali agar proses pengisian gabah menjadi lebih baik daripada diberikan satu kali. Pengairan Tanaman padi hibrida pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan padi non hibrida dalam kebutuhan air untuk pertumbuhannya. Tanaman padi hibrida peka terhadap kekurangan air pada waktu fase bunting sampai pengisian gabah, sehingga bila terjadi kekurangan air pada fase tersebut dapat menimbulkan kehampaan gabah dan menurunkan hasil. Sejak tanam sampai fase primordia bunga (42 hst), pertanaman padi hibrida perlu diberi air macak-macak agar tanaman dapat membentuk anakan dalam jumlah optimal. Pemberian air secara berselang (intermittent) dianjurkan agar tanaman memperoleh oksigen yang cukup untuk kebutuhan pertumbuhan akar. Pengendalian Hama dan Penyakit Upaya pencegahan dan pengendalian HPT dengan menggunakan pestisida hendaknya mengacu pada konsep PHT. Hama yang perlu diwaspadai adalah: wereng coklat, penggerek batang, tikus dan walang sangit. Sedangkan penyakit adalah: tungro, hawar daun bakteri dan blast. Menjelang panen perlu waspada terhadap serangan burung emprit, dikendalikan secara manual dengan jaring. Penentuan Waktu Panen Penentuan waktu panen merupakan salah satu faktor yang penting dalam kaitannya dengan hasil gabah. Bila tanaman padi dipanen terlalu awal, maka akan banyak butir gabah yang masih hijau, akibatnya kualitas gabah yang dihasilkan menjadi rendah. Sebaliknya bila dipanen terlambat, maka dapat menurunkan hasil gabah karena banyak gabah yang rontok. Waktu panen yang tepat adalah apabila 90% gabah sudah masak fisiologis, atau apabila telah mencapai 30- 35 hari dari masa berbunga. Bila dihitung sejak sebar/ semai sampai umur panen dapat ditentukan berdasarkan umur pada deskripsi varietas. Pada dasarnya untuk dapat memperoleh hasil gabah tinggi maka kita harus menyayangi padi. Cara termudah untuk menyayangi padi adalah sering-sering dating ke sawah dan langsung melakukan observasi. Dengan cara tersebut niscaya hasil gabah dapat meningkat. Setelah dipanen, gabah harus segera dikeringkan agar diperoleh rendemen dan mutu beras yang baik. Prinsipnya cara panen dan pasca panen padi hibrida tidak berbeda dengan padi biasa (inbrida). (Darul Mustakim, S.Pt., Penyuluh Pertanian UPTD Pertanian Lebakwangi Kab. Kuningan)