Cabai (Capsicum annum L.) merupakan komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Kebutuhan cabai terus meningkat setiap tahun, sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya produk olahan makanan yang membutuhkan bahan baku cabai. Namun faktanya masih sering didapati kebutuhan konsumen akan cabai tidak terpenuhi yang menyebabkan terjadinya lonjakan harga. Hal tersebut dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya yaitu adanya gangguan hama dan penyakit seperti OPT Virus Kuning sehingga menyebabkan produktivitas tanaman cabai menurun. Virus kuning pada cabai, juga dikenal sebagai virus gemini atau penyakit bulai, dan penyakit kerdil adalah penyakit yang menyebabkan daun tanaman cabai menguning. Penyakit ini ditularkan oleh kutu kebul (Bemisia tabaci) secara persisten. Bemisia tabaci merupakan serangga polifag yang memiliki kisaran tanaman inang yang sangat luas seperti bawang merah, bawang daun tomat, tembakau, kopi, ubi jalar, waluh, bayam, kentang, kapas, tanaman dari famili crusiferae, crotalaria, kacang-kacangan dan gulma bebandotan yang sering ditemukan di pertanaman cabai. Gejala yang paling umum pada cabai berupa vein clearing (klorosis pada tulang daun) dan ukuran daun mengecil. Gejala lain berupa tepi daun menebal dan melengkung menggulung (cupping), daun muda mengecil dan berwarna kuning cerah, nekrotik kuning, hingga gejala sistemik. Tanaman terlihat kuning, keriting, dan kerdil. Variasi gejala dapat berbeda tergantung ketahanan dan usia tanaman. Gejala pada daun cabai yang terinfeksi Geminivirus Variasi gejala dapat berbeda tergantung ketahanan dan usia tanaman. Jika infeksi terjadi pada fase vegetatif (tanaman masih muda), selain gejala kuning, tanaman juga tumbuh kerdil dan tidak dapat tumbuh lebih lanjut menghasilkan bunga atau buah. Jika infeksi terjadi masa pertumbuhan generatif akhir, maka hanya bagian atas yang menunjukkan gejala kuning (jambul kuning). Tanaman masih bisa berbunga dan berbuah pada bagian tanaman yang tidak terinfeksi virus. Pada tingkat infeksi berat, dapat mengakibatkan tanaman berwarna kuning total. Infeksi berat Geminivirus pada tanaman cabai Pengendalian yang dapat dilakukan apabila tanaman sudah terserang virus kuning pada tanaman cabai antara lain : Pemasangan sticky trap Perangkap kuning digunakan untuk memerangkap populasi kutukebul, dan dipasang sebanyak 40 perangkap/ha di tengah pertanaman cabai. Perangkap dipasang dengan ketinggian ± 30 cm. Pemasangan sticky trap warna kuning terbukti mampu mengurangi populasi kutu kebul. Yellow sticky traps adalah metode umum untuk memantau banyak hama sekaligus juga dapat menjadi metode pengendalian. Penggunaan mulsa reflektif Pemasangan mulsa plastik yang berwarna reflektif seperti warna perak terbukti dapat mengendalikan kutu kebul sebagai vektor penyakit kuning. Warna yang reflektif pada mulsa dapat memantulkan sinar matahari yang mengganggu perkembangbiakan serangga. Sanitasi gulma. Gulma dapat menjadi sumber inokulum di pertanaman. Sanitasi lahan dengan menyiangi gulma dilakukan secara teratur sesuai kondisi lahan. Gulma yang terinfeksi virus dikubur di luar pertanaman atau dibakar. Eradikasi tanaman sakit. Infeksi virus pada tanaman bersifat sistemik, sehingga keseluruhan bagian tanaman sakit dapat menjadi sumber inokulum virus di pertanaman. Tanaman yang menunjukkan gejala segera dicabut dan dimusnahkan supaya tidak menjadi sumber penularan ke tanaman lain yang sehat. Aplikasi cendawan entomopatogen sebagai biopestisida. Cendawan entomopatogen dapat dimanfaatkan untuk mengurangi populasi kutukebul. Spesies cendawan yang umum digunakan adalah Lecanicillium lecanii, Bauveria bassiana, Paecilomyces fumosoroseus, dan Metarhizium anisopliae. Selain dari produk yang sudah dijual bebas, cendawan entomopatogen mudah didapatkan di pertanaman dengan mengoleksi bangkai serangga yang mati terinfeksi kemudian diperbanyak. Penggunaan PGPR ( Plant Growth Promoting Rhizobakterimerupakan Rizobakteri Pemacu Pertumbuhan Tanaman yang penting dan diakui menguntungkan bagi dunia pertanian ). Aplikasi PGPR dapat dilakukan sebagai perlakuan benih, dicampurkan ke dalam tanah untuk pembibitan, atau saat pindah tanam. PGPR mengandung bakteri Pseudomonas fluorescens dan Bacillus sp., dan dapat menekan insidensi penyakit melalui mekanisme induksi ketahanan secara sistemik atau menghasilkan hormon tumbuh. Penggunaan sabun cair (yang lembut) 1.5 – 2 cc/liter untuk mengendalikan tungau, thrips, kutu daun, kutu kebul. Penggunaan sabun cair juga dapat meningkatkan efektivitas insektisida yang digunakan. Aplikasi insektisida nabati. Insektisida nabati yang dapat menekan populasi kutu kebul antara lain ekstrak nimba dan ekstrak biji bengkoang. Aplikasi perlu dilakukan secara berkala karena daya bunuh yang lebih rendah dibandingkan insektisida kimia. Pengendalian dengan insektisida kima. Pengendalian dengan insektisida kimia merupakan alternatif terakhir apabila Teknik pengendalian lain tidak mampu mengendalikan populasi hama kutu kebul serangga vector penyebaran virus kuning. Pengendalian secara kimiawi seringkali mengalami kegagalan karena nimfa pada umumnya berada di permukaan daun bagian bawah, dan nimfa instar akhir serta pupa berada di daun tua yang berada kanopi bagian bawah, sementara penyemprotan tidak diarahkan ke tempat-tempat tersebut. Selain itu permasalahan lain yang mempersulit upaya pengendalian secara kimiawi adalah banyaknya jenis tanaman yang dapat menjadi inang hama ini. Hal tersebut diperparah dengan cepatnya hama ini menjadi resisten terhadap berbagai jenis insektisida yang sering digunakan oleh petani. Penyemprotan insektisida diusahakan mengenai permukaan daun bagian bawah dan perlu dihindari penggunaan insektisida secara berlebihan, karena dapat mendorong meningkatnya populasi kutukebul. Bahan aktif insektisida yang dapat digunakan pada tanaman cabai, antara lain imidakloprid, tiametoksam, diafentiuron, dinotifuran, pimetrozin, siantraniliprol, klorpirifos, asefat, dan abamektin. Tumpangsari Tumpangsari berbagai jenis tanaman bertujuan untuk mengurangi/ mengurangi populasi kutukebul. Tumpangsari antara cabai merah dengan kubis atau cabai merah dengan tomat dapat menekan populasi kutukebul sebesar 25 – 60%. Sumber : https://digitani.ipb.ac.id/seri-hama-dan-penyakit-cabai-virus-kuning, diakses tanggal 10 Juni 2025 Gunaeni N, DKK, 2008. Penyakit Virus Kuning Dan Vektornya Serta Cara Pengendaliannya Pada Tanaman Sayuran Balai Penelitian Tanaman Sayuran : Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hortikultura Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian