Siang itu. Pak... Pak... teriak seorang petani memberhentikam motorku. "Pak ayo tengok ladangku, kenapa padi darat kami pada hangus kering seperti terbakar," ujarnya. Sanwani (45), petani sekaligus pengurus kelompok tani di Desa Gedung Kecamatan Cukuh Balak Kabupaten Tanggamus. Ladangnya seluas kurang lebih 0,75 ha masih belukar dibuka dan ditanami padi ladang varietas lokal, Secantik orang menyebutnya. Padi darat lokal ini berumur sekitar 120 hari atau 4 bulan dan sudah ditanam turun temurun. Dengan pohonnya yang tinggi, berdaun keras, dan dipanen dengan sistem ani-ani. Varietas Secantik toleran terhadap kekeringan dan hama penyakit. Selain itu berasnya yang harum dan pulen menambah daya pikat. Juga bebas dari pestisida. Dengan sistem budidaya: Tanam lansung (tugal) lalu bersihkan singgang atau rerumputan setelah masak langsung panen. Tanpa pemupukan dan penyemprotan pestisida an organik seperti insektisida, fungisidan maunpun PPC lainnya. Namun, kini kehebatanya telah hilang. Padi secantik, rusak terserang wereng. "Baru kali ini pak, padi ladang terserang hama yang bapak bilang tadi hama wereng," ujarnya dengan raut sedih. Wereng! Adalah `momok` petani yang sangat menakutkan. Terutama petani padi sawah maupun darat. Hewan ini dalam dunia pertanian digolongan dalam organisme penggangu tanaman (OPT) atau hama yang paling luas pengaruhnya terhadap kegagalan panen padi petani. Serangan yang menghebat bisa menyebabkan gagal panen, padi akan mengering seperti terbakar atau istilahnya hopperburm. Saat wereng sudah menjajah padi ladang, pertanda bahaya makin nyata. Keperkasaan padi secantik yang terkenal terutama di kecamatan Cukuhbalak terhadapa gangguan OPT, kini hancur terserang wereng. Mengapa bisa? Genetik Plastisitas adalah jawabanya. Genetik plastisitas adalah kemampuan suatu organisme untuk mengubah genetik dalam hal ini fenotipenya (penampakan) sebagai tanggapan terhadap perubahan lingkungan yang dihadapinya. Kemampuan perubahan ini mencakup segala aspek biologi yang dapat dipengaruhi lingkungan, morfologi, fisiologi, perilaku serta fenologi yang bisa bersifat permanen atau sementara. Bahasa sederhananya, wereng adalah salah satu hewan yang mempunyai daya adaptasi (penyesuaian diri) cepat terhadap tanaman padi varietas lain dan varietas baru. Jadi saat kondisi lingkungan mempengaruhi, wereng akan memakan segala jenis padi padian yang merupkan makanan pokoknya (monophag). Menjawab permasalahan ini, dengan mencermati karakter genetik plastisitas wereng. Penanaman padi varietas tahan dan dengan varietas berselang baik padi sawah dan padi ladang adalah jawabannya. Berdasarkan saran dan bantuan benih dari petugas pertanian kecamatan Cukuh Balak, Jumadi (52) tokoh tani Desa Kacamarga Kecamatan Cukuh Balak membudidayakan padi hitam (black rice). Dan Allhamdulillah saat ditanam di lokasi sawahnya yang berada di dusun Uluway Desa Kacamarga terbebas dari seranga wereng, seperti tak tersentuh hama wereng. Sedangkan tanaman padi varietas ciherang, mekongga, dan Ir 46 di areal sebelahnya mengalami kerusakan akibat hama ini. "Pola tanamnya sederhana dan umurnya sama dengan ciherang sekitar 100 hari bahkan ga sampai," ujar Jumadi bangga. Untuk budidaya beras hitam ini akan dibahas pada makalah selanjutnya. Peristiwa di atas memberikan suatu gambaran bahwa petugas pertanian lapangan dituntut untuk cepat tanggap terhadap segala dinamika di lapangan. Dan kekuatan ilmu patokan dasarnya untuk menjawab tantangan itu! Untuk tampilan gambar, Penulis sengaja memasukan foto Kardian Rohyana, Koorluh Balai Penyuluhan Pertanian Cukuh Balak dan Kapten Suparno, Komandan Koramil Cukuhbalak. Keduanya telah berpulang ke Rahmatullah, semoga amal kebaikan dan semangat keikhlasan mereka menjadi sahabat terbaik di alam barzah. Aamiin. Oleh: Roni Sepriyono SP, PPL CUkuh Balak Tanggamus