"POKTAN MLEREP KEMBANGKAN JARWO" DESA KETAPANGKUNING KEC.NGUSIKAN KAB. JOMBANG
Poktan Mlerep merupakan salah satu Kelompok tani yang berada di Desa Ketapangkuning Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang. Poktan Mlerep termasuk salah satu Poktan yang cukup diandalkan sebagai pemasok kebutuhan tanaman pangan di Wilayah Kecamatan Ngusikan. Hal ini dikarenakan Poktan Mlerep berada pada wilayah yang memiliki irigasi teknis. Dalam 1 tahun Poktan Mlerep bisa tanam sampai 3 kali. Yakni terdiri dari tanam padi sebanyak 2 kali pada musim MP (musim penghujan) dan di musim MK I (musim kemarau I). Sedangkan untuk tanaman yang ketiga yakni di musim MK II (musim kemarau II) Poktan Mlerep menanam tanaman palawija, yakni bisa berupa tanaman jagung atau kedelai. Berdasarkan potensi diatas sangat diperlukan sekali terobosan teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi tanaman padi. Salah satunya adalah dengan menggunakan system tanam, yakni system tanam jajar legowo atau yang biasa dikenal dengan istilah 'Jarwo' oleh petani setempat. Beberapa tahun terakhir system tanam jarwo / jajar legowo ini sudah mulai dikembangkan di Poktan Mlerep. Penerapan system jarwo di Poktan ini beragam, diantaranya menggunakan pola jarwo 2:1, 4:1, dan 5:1 dan 7:1. Untuk jarak tanam yang digunakan adalah 35 x 17,5 x 10 cm. Rata-rata petani menggunakan varietas Ciherang, Cibogo, dan IR64. Dan umur bibit saat ditanam berkisar antara 15 – 20 hari setelah semai. Keunggulan yang diperoleh dari system tanam jarwo adalah populasi tanaman lebih banyak dibandingkan system tanam konvensional, intensitas sinar matahari yang diterima tanaman menjadi lebih banyak, turbulensi udara lebih bagus, memudahkan akses masuk ke lahan saat melakukan perawatan tanaman (pemupukan, penyiangan dan pengendalian OPT). Meskipun demikian ternyata penerapan sitem jarwo ini belum bisa diterapkan secara menyeluruh . Hal ini dikarenakan adanya beberapa kendala yang dihadapi. Salah satunya adalah masalah tenaga kerja. Beberapa kelompok buruh / juru tanam belum terbiasa dan belum terlatih dengan system jarwo. Selain itu system jarwo ini juga membutuhkan jumlah tenaga kerja yang lebih banyak dibandingkan dengan system konvensional serta membutuhkan waktu tanam yang lebih lama. Permasalahan / kendala diatas tidak begitu saja menyurutkan semangat beberapa petani yang telah menerapkannya. Mereka tetap menerapkan system tanam jarwo ini karena memang sudah merasakan dan membuktikan sendiri bahwa memang ada peningkatan produksi. Penulis : Deny Murtanti, SP. (THLTBPP BPP. Ngusikan – Kab. Jombang)