Nilam merupakan tanaman tropis penghasil sejenis minyak atsiri yang dinamakan minyak nilam. Daun, tangkai daun dan bunga nilam mengandung minyak ini, tetapi orang biasanya mendapatkan minyak nilam dari penyulingan uap terhadap daun keringnya. Tanaman nilam sebagian besar masih diusahakan oleh petani dengan menggunakan benih asalan, teknologi yang sederhana dan sarana produksi yang minimal. Kegiatan panen seperti waktu panen, proses pemetikan/ pemotongan batang dan daun nilam juga belum dilakukan secara baik dan benar sehingga produksi nilam di tingkat petani masih rendah. PanenPada umumnya tanaman nilam sudah dapat dilakukan pemanenan pada umur 6-8 bulan setelah tanam. Saat melakukan pemanenan, sebaiknya cabang-cabang tingkat pertama tidak dipanen, terutama bila panen dilakukan pada musim kemarau. Minimal satu cabang perlu ditinggalkan untuk menstimulir pertumbunan cabang-cabang baru dan mencegah kematian tanaman terlalu cepat. Panen biasanya dilakukan dengan pemangkasan rumpun di atas cabang kedua atau sekitar 15-20 cm di atas permukaan tanah. Produksi terna pertama masih rendah (sekitar 50-75% dari produk normal). Panen berikutnnya dapat dilakukan setiap 4-6 bulan sekali tergantung dari curah hujan dan kesuburan tanah. Bila panen dilakukan menjelang musim kemarau, regenerasi tunas biasanya lebih lambat. Dalam keadaan demikian maka panen dapat diundur sampai 6 bulan, yaitu menunggu sampai awal musim hujan. Pengunduran waktu panen disesuaikan dengan pola hujan, sehingga setelah tanaman dipangkas (dipanen) tidak mengalami musim kering yang terlalu lama, supaya segera tumbuh tunas baru.Selain berpengaruh terhadap pertumbuhan tunas baru, waktu panen juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi minyak nilam. Waktu panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, agar kandungan minyak atsiri dalam daun nilam tetap tinggi. Apabila panen dilakukan pada siang hari, maka sel-sel daun akan melakukan proses metabolisme yang akan mengurangi laju pembentukan minyak, dan daun kurang elastis, sehingga kehilangan minyak akan lebih banyak karena daun mudah sobek. Demikian pula dengan adanya transpirasi daun yang lebih cepat menyebabkan jumlah minyak yang dihasilkan akan berkurang. Pemanenan dilakukan sebelum daun berubah warna menjadi cokelat, karena daun yang demikian telah kehilangan sebagian minyaknya. Cara PanenBanyak alat yang dapat digunakan untuk melakukan pemanenan nilam, diantaranya adalah dengan menggunakan sabit, ani-ani, atau gunting stek. Pemilihan dalam penggunaan alat tersebut tergantung pada situasi dan kondisi. Panen dengan menggunakan sabit akan lebih cepat sehingga dapat menghemat waktu dan biaya tenaga kerja. Panen biasanya dilakukan dengan pemangkasan rumpun di atas cabang ke dua atau sekitar 15-20 cm dari atas permukaan tanah. Apabila pemanenan menggunakan sabit, hendaknya batang dan cabang tidak dibabad habis, akan tetapi disisakan kira-kira 15 cm dari tanah, tinggalkan 1-2 cabang untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru pada fase selanjutnya. Alat yang digunakan untuk memanen harus dijaga kebersihannya, sehingga di setiap kebun harus disediakan tempat untuk pencucian alat. Hasil panen.Hasil panen nilam diantaranya dipengaruhi oleh pola budidaya yang dilakukan. Pertanaman yang dipelihara dengan baik dan mengikuti pola budidaya yang benar dapat menghasilkan daun basah sekitar 25 ton atau setara dengan 6,25 ton (25%) daun kering. Hasil ini diperoleh bila diasumsikan batang/pohon menghasilkan 1 kg daun basah. Disamping dipengaruhi oleh pola budidaya yang diterapkan, hasil panen juga dipengaruhi oleh lokasi lahan, jarak tanam, jenis varietas yang ditanam dan pohon pelindung. Dengan demikian maka pertanaman nilam harus dikelola dengan baik sejak pengadaan benih hingga hingga panen. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian Pusluhtan).Sumber:Pedoman Teknis Penanganan Pasca panen Nilam. Direktorat Pasca Panen dan Pembinaan Usaha. Direktorat jenderal Perkebunan. Kementerian Indonesia, 2012.