Loading...

3 (TIGA) KELOMPOK TANI DI KABUPATEN SIGI TELAH BERHASIL MEMPEROLEH SERTIFIKAT KAKAO ORGANIK

3 (TIGA) KELOMPOK TANI DI KABUPATEN SIGI TELAH BERHASIL MEMPEROLEH SERTIFIKAT KAKAO ORGANIK
Potensi hasil perkebunan di Kabupaten Sigi di dominasi oleh komoditas kakao. Walaupun masih banyak komoditas perkebunan yang lainnya , antara lain Lada, panili , kopi dan lainnya. Sehingga wajar saja kalau di Kabupaten Sigi , ada kelompok tani yang telah memperoleh sertifikat Kakao organik dari badan sertifikasi organik nasional maupun internasional. Badan sertifikasi yang telah memberikan sertifikasi kakao organik adalah SNI, EU, UTZ. Kelompok tani yang telah memperoleh sertifakat kakao organik adalah : Kelompok tani Tunas Muda Desa Petimbe Kecamatan Palolo , Kelompoktani Sabarae Desa Karunia Kecamatan Palolo, Kelompok tani Cahaya Desa Bahagia Kecamatan Palolo. Kelompok tani ini kurang lebih selama lima tahun dibina oleh Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah bersama-sama dengan Petugas lapangan yaitu Penyuluh Pertanian BPP Bahagia Palolo, TKP3D ( Tenaga Kontrak Pendamping Pembangunan Perkebunan Daerah ) yang ada di Kabupaten Sigi.Kelompok tani ini bersama anggotanya melaksanakan budidaya kakao tanpa pestisida an- organik. Mereka merawat tanamannya tidak menggunakan pupuk an organik dan pestisida an-organik . Dalam pengendalian hama dan penyakit mereka tidak menggunakan insektisida maupun fungisida an-organik. Karena ancaman pada budidaya kakao adalah serangan hama PBK ( penggerek buah kakao ) serta hama penghisap buah/helopeltis. Sedangkan penyakit yang menyerang adalah penyakit busuk buah /anthraknosa dan penyakit mati pucuk kakao. Untuk mengendalikan hama dan penyakit tersebut, mereka menggunakan insektisida dan fungisida organik antara lain Beuvaria bassiana, Trichoderma ,Sp. Untuk merubah perilaku petani dari ketergantungan terhadap pestisida an-organik tidak lah mudah. Pengalaman penulis yang pernah menjadi fasilitator SL-PBK ( sekolah lapang pengendalian penggerek buah kakao ) pada tahun 2002, dimana setiap minggu para petani kakao diajak belajar mengamati seluk beluk hama PBK. Mengamati siklus hidupnya hama PBK, cara menyerang buah kakao ,serta melakukan upaya memutuskan siklus hidup hama PBK. Dan yang tak kalah penting adalah, memberikan edukasi kepada petani tentang dampak penggunaan insektisida an-organik atau racun hama. Kegiatan tersebut dilakukan rutin setiap minggu selama kurang lebih tiga bulan atau dua belas minggu. Dampak dari kegiatan tersebut adalah petani melakukan apa yang telah mereka lakukan pada saat belajar , di kebunnya masing-masing. Pada saat itu petani pelan-pelan meninggalkan penggunaan racun untuk buah kakaonya. Sehingga kurang lebih 17 tahun baru tercapai tujuan menuju kakao organik. Dengan diserahkannya sertifikat kakao organik semoga menjadi awal kembalinya kejayaan kakao. Penulis : Sunardi, S.Pt ( Penyuluh Pertanian Madya pada DISBUNNAK PROV. SULTENG ).