Pandemi covid-19 yang marak dan menyebar ke seluruh dunia termasuk di Indonesia telah membuat beberapa aktivitas terhambat. Namun Menteri Pertanian Sahrul Yasin Limpo tetap optimis bahwa komoditas pertanian di Indonesia tetap bisa stabil. Hal ini terbukti dari sejumlah desa di Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus yang tengah memasuki musim panen padi tidak terlepas dari peran penyuluh dan petani yang giat sehingga tetap menjaga produksi dan produktivitasnya. Sesuai dengan arahan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, “ Kegiatan penyuluhan pertanian seperti pembinan, pendampingan, dan pengawalan aktitas pertanian kepada petani di lapangan tetap dijadwalkan meskipun ada pembatasan kunjungan di wilayah binaan.” Memasuki musim panen di Bulan April ini, banyak bahan yang tersedia dan belum termanfaatkan secara optimal salah satunya sekam padi. Pada umumnya sekam padi dimanfaatkan untuk bahan pembakaran pembuatan batu bata, dibiarkan dan dibakar di lahan yang berdampak pada polusi. Mengetahui potensi yang luar biasa bagi kesuburan lahan, petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Rejo Mulyo Desa Sidorekso Kecamatan Kaliwungu dan PPL pendamping berinisiatif mengadakan kursus tani. Kursus tani yang dilaksanakan tentang Pembuatan Biochar Sekam Padi sebagai bahan pembenah lahan kritis. Biochar atau lebih dikenal arang, diproduksi dari limbah pertanian yang sulit terdekomposisi, dibakar secara tidak sempurna atau tanpa oksigen pada suhu tinggi. Arang hayati yang terbentuk dari pembakaran ini akan menghasilkan karbon aktif, yang mengandung mineral Kalsium (Ca) atau Magnesium (Mg) dan karbon anorganik. Kualitas senyawa organik yang terkandung dalam biochar tergantung pada asal limbah pertanian dan metode karbonisasi. Penambahan biochar dapat memperbaiki kualitas lahan dari sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Hal ini mampu meningkatkan kesuburan lahan dan memulihkan lahan kritis, antara lain; Pertama dari sifat fisik mampu meningkatkan kapasitas menahan air, sehingga dapat mengurangi run-off dan pencucian unsur hara. Kedua dari sifat kimia, meningkatkan pH tanah dan kapasitas tukar kation (KTK) pada lahan masam yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Ketiga dari sifat biologi, menciptakan habitat yang baik bagi populasi dan aktivitas mikroorganisme simbiotik seperti rhizobakteria. Proses pembuatannya sangat praktis dan mudah yaitu Pertama, siapkan cerobong gulungan kawat kasa berdiameter 20-30 cm dengan lubang yang kecil kemudian masukan bahan yang mudah terbakar kedalamnya. Kedua, Sekam padi dapat ditempatkan disekeliling cerobong setelah terbentuk bara api, usahakan sampai tertutup rapat. Ketiga, ketika seluruh permukaan sekam nampak menghitam segera lakukan penyiraman untuk mematikan bara. Keempat, ratakan timbunan sekam tersebut untuk dikeringkan dan diayak agar butiran arang seragam. Cara penggunaan biochar sekam padi ini dapat dilakukan dengan cara disebar, dilarik pada jalur tanaman, dan dibenamkan di lubang tanam. Penggunaan Biochar disebar dipermukaan tanah secara merata bersamaan pada saat singkal tanah, dibiarkan selama dua minggu baru kemudian dilakukan penanaman. Penggunaan cara dilarik dengan lebar dan kedalaman 20 cm di jalur tanaman kemudian ditutup dengan tanah. Penggunaan cara dibenamkan sekitar 20 cm dimasukan dan ditutup dengan tanah. Setelah kegiatan kursus tani selesai dilakukan evaluasi berupa kuisioner kepada peserta untuk mengetahui keefektifan dan perubahan perilaku. Dampak perubahan perilaku yang terjadi setelah mengikuti kursus tani, dibatasi dalam tiga variabel yaitu perubahan pengetahuan (73,5%), sikap (69,8%) dan ketrampilan (78,7%). Tingkat capaian untuk dampak sosial dari kegiatan kursus tani tersebut mencapai rata-rata 74%. Secara umum, dapat dikatakan bahwa terjadi dampak perubahan yang diharapkan dari kegiatan kursus tani dari ketiga variabel tersebut yaitu masuk dalam kategori “meningkat” dan efektif dalam pelaksanaannya. OK SETYANTO SETYAWAN, S.P. Penyuluh Pertanian Pertama DPD Perhiptani Kudus - Bidang Kaderisasi