Perubah iklim atau climate change yang diakibatkan terjadinya emisi atau pelepasan gas rumah kaca semakin hari semakin mengancam kehidupan umat manusia dan keanekaragaman hayati yang ada di muka bumi ini. Tanda-tanda dari fenomena ini semakin dirasakan. Kenaikan panas permukaan bumi akibat efek rumah kaca yang mencapai 0,8selama seabad terakhir, khususnya 30 tahun terakhir yang sulit dipungkiri (Kusnanto, H. 2011). Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim karena akan menyebabkan bencana, seperti: banjir, longsor, anmali iklim, kemarau panjang, angin kencang dan gelombang air laut tinggi. Anacaman terhadap bencana tersebut bahkan dapat terjadi dalam intensitas yang lebih besar dan secara langsung dirsakan, misalnya pada masyarakat petani dan nelayan serta pada masyarakat yang tinggal di pesisir, pedesaan maupun di perkotaan. Dampak yang lebih luas tidak hanya merusak ligkungan tetapi juga mambahayakan kesehatan manusia, keamanan ketersediaan pangan, kegiatan pembangunan ekonomi, pengelolaaan sumberdaya alam dan infrastruktur. Perubahan iklim yang sedang terjadi perlu disikapi dengan memerdalam pemahaman tentang proses kejadiannya secara ilmiah baik terhadap penyebab maupun dampaknya bagi manusia dan lingkungan. Dengan pemahaman yang memadai maka kita dapat merencanakan upaya-upaya penyesiauan (adaptasi) dan pencegahannya (mitigagasi). Dampak Perubahan Iklim Terhadap Pertanian Dampak perubahan iklim ada;ah kondisi kerugian dan keuntungan, baik fidik, produk, maupun secara social dan ekonomi. Sektor pertanian, terutama subsector tanaman pangan, paling rentan (mempunyai tingkat kerentanan paling tinggi) terhadap perubahan ilkim kerena tanaman pangan umumnya merupakan tanaman semusim yang relative sensitif terhadap cekaman (kelebihan dan kekurangan) air. Secara umum, perubahan iklim yang ekstrim menyebabkan: a) kerusakan sumberdaya lahan pertanian, b) peningkatan frekwensi, luas dan bobot/intensitas kekeringan dan banjir, c) peningkatan intensitas gangguan organism pengganggu tanaman (OPT) dan d) kegagalan panen dan tanam, penurunan indek pertanaman, penurunan produktivitas, kualitas produksi. Dampak terhadap sumber daya lahan dan air, perubahan iklim akan berdampak pada penciutan dan degradasi (penurunan fungsi) sumber daya lahan, air dan infrastruktur terutama irigasi. Cekaman lingkungan berupa kekringan maupun banjir juga makin terasa. Peningkatan intensitas banjir secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi produksi akibat puso karena banjir atau kekeringan maupun dampak tidak langsung karena meningkatnya serangan hama penyakit (OPT) Langkah dan Upaya Mengatasi Dalam mengantisipasi perubahan iklim global tersebut, maka diperlukan langkah-langkah sistematis mulai dari antisipasi, adaptasi, sampai dengan mitigasi agar target produksi yang telah ditetapkan tercapai. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi/mencegah akibat perubah iklim (mitigasi) dan penyesuaian terhadap perubahan iklim (adaptasi) adalah sebagai berukut: Teknologi Adaptasi. Adaptasi adalah suatu proses untuk memperkuat dan membangun strategi antisipasi dampak perubahn iklim, sehingga dapat mengurangi dampak negative dan mengambil manfaat positifnya yang meliputi: a) teknologi pengelolaan sumber daya air seperti teknologi panen hujan dan aliran permukaan (Embung, teknologi dam parit, sumur renteng, teknologi irigasi kapiler, irigasi tetes, teknologi irigasi macak-macak, irigasi curah, dan teknologi irigasi parit), b) Teknologi pengelolaan sumber daya lahan (teknologi pengelolaan hara, dan teknlogi bududaya lahan kering) c) pengembangan system usahatani ramah lingkungan (Pengelolaan tanaman terpadu, system integrasi tanaman-ternak, system padi-ternak, system pertanian terpadu lahan kering iklim kering). Teknologi Mitigasi Mitigasi adalah upaya pengendalian untuk mengurangi risiko akibat perubahan iklim melalui kegiatan yang dapat menurunkan emisi/ meningkatkan penyerapan gas rumah kaca (GRK) dari berbagai sumber emisi. Teknologi ini meliputi: pengelolaan lahan gambut berkelanjutan, inisiasi pertanian efisiensi karbon, Pengelolaan tanpa olah tanah (TOT)/Tabela, teknologi air intermitten, penggunaan pupuk organik, teknologi zero waste dan pengembangan teknologi biogas. Sumber/bahan bacaan: Kemeterian Kehutanan. 2012. Profil Pelatihan Perubahn Iklim dan Redd+. Pusdiklat Kehutanan. Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan. Majalah Ekstensia Edisi 3 tahun 2011 Kusnanto, Hari. 2011. Adaptasi Trhadap Perubahan Iklim. Edisi Pertama. Catakan Pertama. Penerbit BPFE- Yoyakarta. 97 hal. (Khairul Amri)