Peningkatan produksi dalam pertanian ditentukan oleh tiga faktor, varietas, budidaya dan lingkungan. Ketiga faktor ini saling mendukung dan tidak bisa dipisahakan. Varietas yang bermutu sangat menetukan dalam keberhasilan suatu usaha pertanian. Salah satu kelemahan petani adalah kurang mampu mengadopsi varietas unggul. Kelemahan ini akibat kurangnya pengetahun di tingkat petani. Pada beberapa kasus sering dijumpai petani selalu menggunakan varietas yang sama dalam kurun waktu yang lama. Sebagai contoh, di kecamatan pamanukan masih menggunakan varietas IR 42 dimana varietas tersebut termasuk varietas yang sudah lama dan rentan terhadap serangan wereng. Kebiasaan petani yang tidak memakai benih berlabel semakin memperparah akumulasi hama penyakit pada bibit tanaman.Perlu suatu upaya untuk dapat mengganti vaietas yang ditanam petani. Varietas yang digunakan harus sesuai dengan kondisi sosial setempat, produksi tinggi dan tahan hama penyakit. Di Kecamatan Pamanukan umumnya ditanam varietas IR 42. Karakter IR 42 mempunyai rasa nasi pera, rentan hama wereng dan produksi tinggi. Untuk mengganti varietas IR 42 maka diperlukan varietas dengan rasa nasi pera, taham hama wereng dan produksi tinggi.Beberapa varietas unggul mempunyai karakter yang diproyeksikan dapat mengganti varietas IR 42, diantaranya Inpari 12, Inpari 21 batipuah dan Inpara 4. Ketiga varietas tersebut merupakan varietas unggul baru (VUB). Keunggulan VUB adalah produksi tinggi dan tahan hama wereng. Keuntungan bagi petani ketika menggunakan VUB adalah biaya perwatan yang rendah (karena tahan hama wereng) dan produksi yang meningkat. Oleh karena itu, pengenalan VUB (inpari 12, Inpari 21 dan inpara 4) harus terus disosialisasikan sehingga dapat diadopsi oleh petani.