Beras merupakan bahan makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Selain sebagai sumber energi beras juga merupakan sumber protein, vitamin dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh. Indonesia kaya akan sumberdaya genetik berbagai jenis padi. Berdasarkan warna beras, di Indonesia dikenal beberapa jenis beras, seperti beras putih, beras merah, dan beras hitam. Pada tulisan ini akan difokuskan pada beras merah. Beras merah umumnya dihasilkan tanpa melalui proses penyosohan, tetapi hanya digiling menjadi beras pecah kulit, kulit arinya masih melekat pada endosperm. Kulit ari beras merah ini kaya akan minyak alami, lemak esensial dan serat. Kandungan serat pada beras merah dapat mencegah penyakit saluran pencernaan. Selain itu, serat juga dapat meningkatkan perkembangan otak dan menurunkan kolesterol darah. Kesadaran masyarakat akan kesehatan, mendorong meningkatnya permintaan terhadap beras merah. Disisi lain sebagian petani yang menanam beras merah masih menggunakan benih secara turun-temurun dengan umur tanaman yang lama dan produktivitas masih rendah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah merilis varietas unggul padi beras merah, yang diberinama Aek Sibundong. KeunggulanPadi Varietas Aek Sibundong memiliki potensi hasil 8,0 ton gabah kering giling, dengan tekstur nasi pulen. Beras yang dihasilkan varietas ini kaya akan vitamin B3. Vitamin B3 atau dikenal juga dengan Niacin berfungsi untuk mempertahankan sirkulasi darah yang baik, menjaga kondisi kulit agar kuat sehat, menjaga fungsi normal otak, meningkatkan daya ingat, membantu saluran pencernaan untuk menyerap karbohidrat yang cukup, protein, dan lemak, mengurangi efek radang sendi dan membantu memulihkan gejala skizofrenia. Manfaat yang paling penting dari niacin atau vitamin B3 adalah kemampuannya untuk menurunkan dan mengendalikan kadar kolesterol. Keunggulan varietas Aek Sibundong lainnya adalah ketahanannya terhadap hama wereng batang coklat biotipe 2 dan 3. Selai itu, Aek Sibundong juga agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB) strain IV. Syarat TumbuhVarietas Aek Sibundong tumbuh baik pada lingkungan sawah pada lokasi sekitar 700 meter di atas permukaan laut, baik pada musim hujan maupun kemarau. Deskripsi VarietasVarietas Aek Sibundong temasuk padi golongan Cere dengan asal induk persilangan varietas Sitali/Way Apo Buru// 2* Widas. Dibanding varietas beras merah lainnya, umur tanaman padi Aek Sibundong termasuk genjah, yaitu dapat dipanen pada saat tanaman berumur 108 sampai 125 hari. Tinggi tanaman 108 – 116 cm, dengan jumlah anakan produktif sekitar 16 – 20 batang. Bentuk gabah ramping, dengan warna gabah kuning bersih. Varietas ini memiliki tingkat kerontokan sedang dengan bobot 1000 butir sebera 27 gr. Memiliki tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa 22%. Potensi hasil varietas Aek Sibundong termasuk tinggi, mencapai 8,0 ton/ha, dengan rata-rata hasil mencapai 6,0 ton/ha. Teknik Budidaya Untuk memperoleh hasil maksimum, teknik budidaya yang dapat dilakukan pada budidaya padi varietas dapat menggunakan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT). Komponen teknologi dalam pendekatan PTT dikelompokkan menjadi dua, yaitu: kelompok teknologi dasar, dan teknologi pilihan. Teknologi dasar, terdiri dari:• Varietas unggul baru (inbrida atau hibrida) • Benih bermutu dan berlabel• Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami ke sawah atau dalam bentuk kompos• Pengaturan populasi tanaman secara optimum• Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah• Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan pendekatan pengendalian hama terpaduTeknologi pilihan, terdiri dari:• Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam• penggunaan bibit muda (• Tanam bibit 1-3 batang per rumpun• Pengairan secara efektif dan efisien• Penyiangan dengan landak dan gasrok• Panen tepat waktu dan gabah secara dirontok Sumber: Annonimous. 2010. Varietas Padi Aek Sibundong. Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Tanaman Pangan Indonesia.Zaini, Z., Sarlan A., Nyoman W., Putu W., Diah S., Sunendar K., Mohamad Yamin. 2009. Pedoman Umum PTT Padi Sawah. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi PertanianEmail: ume_humaedah@yahoo.com