Tidak bisa dipungkiri bahwa budidaya tanaman pangan dan hortikultura membutuhkan biaya produksi yang tinggi. Salah satu faktor penyumbang terbesar tingginya biaya produksi adalah penggunaan pestisida yang berlebihan. Sedangkan di sisi yang lain kita ketahui bersama pula bahwa harga jual produk pertanian juga tidak sesuai dengan harapan petani. Untuk mengantisipasi keadaan tersebut, maka penggunaan pestisida harus ditekan penggunaannya sehingga menjadi lebih efektif dan efisien. Tentunya dalam taraf yang mengkhawatirkan penggunaan pestisida tetap dapat disarankan sesuai dengan prinsip 5 tepat. Alternatif lainnya adalah dengan mengganti penggunaan pestisida dengan memanfaatkan agen hayati. Banyak keuntungan yang diperoleh dalam penggunaan agen hayati tersebut antara lain dapat dibuat sendiri oleh petani dengan mudah dan murah, efektif dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT), selain itu tidak menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan. Agen hayati merupakan sumberdaya alam yang ketersediannya melimpah, hanya saja selama ini pemanfaatnya masih sangat minim. Agen hayati adalah musuh alami dari golongan inverteberata (organisme yang tidak mempunyai tulang belakang) contoh : Serangga, Cendawan, Bakteri, Virus dll. Agen hayati dapat berupa predator, parasitoid, pathogen dan agen antagonis. Predator adalah organisme yang memakan hama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hama yang dimakan (disebut mangsa) umumnya mati dan di makan habis dalam waktu singkat. Parasitoid adalah serangga yang bersifat parasit atau hidup dan berkembang dengan menumpang serangga lain (disebut inang), biasanya yang berfungsi sebagi parasid adalah fase pra dewasa (Larva), sedangkan fase dewasanya hidup bebas. Contohnya adalah Trichogrammatoidea bactrae yang memparasit telur hama, penggerek polong kedelai. Patogen adalah microorganisme yang menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit pada OPT. Apabila jenis OPT yang diserang serangga hama maka disebut entemopatogen, contoh : cendawan beavueria basania yang menyerang walang sangit atau wereng. Agen antagonis adalah mikroorganisme yang menyebabkan mati, rusak atau terhambatnya pertumbuhan mikroorganisme penyebab penyakit pada tumbuhan, contohnya cendawan,gliocladium yang dapat menghambat pertumbuhan cendawan fusarium spp (penyebab penyakit lalyu pada tanaman tomat, cabe, pisang). Kabupaten Jember melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan memiliki respon positif dalam upaya mengembangkan agensi hayati. Pada tahun 2017 ini saja tidak kurang dari 1400 liter agensi hayati yang di berikan secara merata kepada petani melalui 10 UPTD di Kabupaten Jember. Hal ini merupakan stimulan bagi petani dan kelompok tani untuk bisa menggunakan dan mengembangkan agensi hayati untuk mengendalikan serangan OPT di wilayahnya masing-masing. Selanjutnya masing-masing UPTD melaksanakan pelatihan pembuatan agensi hayati yang dihadiri oleh perwakilan dari kelompok tani sebagai tindak lanjut kegiatan. Tentunya kegiatan ini diharapkan secara kontinyu akan terus berlangsung dengan kerjasama antara berbagai pihak seperti PPL, POPT dan kelompok tani sebagai garda terdepan pengawal sektor pertanian. (diolah dari berbagai sumber)