Loading...

Agribisnis Krisan

Agribisnis Krisan
Manfaat Potensial Bunga KrisanKrisan dapat dimanfaatkan sebagai bahan rangkaian bunga dan dekorasi, penghias mobil hias, potensial sebagai bahan teh Krisan, hiasan souvenir, dan media sembahyang masyarakat Tionghoa. Krisan juga bermanfaat untuk pengobatan influenza, bahkan membersihkan liver, dan sebagai bahan relaksasi. Teh Krisan juga dipercaya berkhasiat menyembuhkan dan menyegarkan tenggorokan, memperindah bentuk tubuh, mmulihkan kesehatan, dan baik untuk menjaga kesehatan mata. Tumbuhan sejenis bunga Krisan, biasanya mengandung zat antioksidan yang mampu menyerap racun dalam tubuh. Teh Krisan juga bermanfaat sebagai pendingin alami dan membantu dalam menurunkan suhu tubuh saat demam atau bahkan stroke panas. Hal ini juga baik untuk detoksifikasi hati dan menurunkan kadar kolesterol. Selain fungsi tersebut di atas, bunga Krisan juga sering dipakai sebagai media promosi suatu negara, kota, perusahaan atau lembaga, antara lain dalam bentuk pawai mobil hias di Tomohon, Pagar Alam, Jakarta, dan Pasadena Amerika Serikat. Keunggulan Bunga KrisanKeunggulan bunga Krisan terletak pada masa tanam hingga panen relatif singkat dengan umur 80-125 hari atau sekitar 2,5-3 kali tanam/tahun, tidak mengenal musim dan bisa ditanam kapan saja. Krisan memiliki aneka ragam warna dan bentuknya dengan vase life mencapai 15 hari dan harga bunga relatif stabil. Menurut para floris, dekorator dan pedagang di Pasar Bunga Rawa Belong bahwa penggunaan bunga Krisan merupakan kebutuhan pokok. Diperkirakan dalam setiap rangkaian/dekorasi bunga, kebutuhan bunga Krisan mencapai sekitar 30-65% sehingga tidak sedikit pelaku usaha yang menginvestasikan ke usaha budidaya dan pemasaran Krisan. Warna Bunga KrisanWarna bunga Krisan sangat bervariasi dan dari tahun ke tahun semakin bertambah jumlah variasi bentuk dan warna bunganya, sesuai tuntutan permintaan pelanggan. Menurut salah satu perusahaan produsen Krisan terbesar di Indonesia, dari 12 warna pilihan Krisan, terdapat 8 warna Krisan yang paling diminati konsumen. Dari 8 warna pilihan dengan prosentase serapan pasar yang berbeda-beda, yaitu Krisan putih (25%), kuning (25%), hijau (15%), ungu (10%), merah (7%), pink (5%), mix (5%), dan orange (3%). Umumnya konsumen lebih memilih Krisan potong dilihat dari warna bunganya, tetapi tidak sedikit pelanggan khususnya golongan ekonomi atas memilih berdasarkan varietas bunga, selain kesegaran bunga sebagai syarat utamanya. Penggunaan untuk rangkaian bunga atau dekorasi umumnya menggunakan warna bunga kuning dan putih. Untuk kelengkapan ritual etnis Tionghoa, menggunakan warna Krisan putih sedangkan pada perayaan imlek mereka membutuhkan Krisan merah, perayaan kemerdekaan Republik Indonesia banyak yang minta Krisan merah dan putih untuk even yang lain sesuai selera. Terkait dengan pilihan warna, konsumen dan produsen bunga Krisan, para pelaku usaha budidaya Krisan harus cermat dalam membidik pasar maupun menjadualkan pola penanaman bunga Krisan sesuai warna kebutuhan, segmen pasar atau jadual penggunaan. Prospek Pasar Krisan DomestikIndonesia terdiri dari 34 provinsi dan sekitar 508 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk pada Mei 2013 mencapai sekitar 250 juta jiwa dan angkatan kerja produktif mencapai 63,54%. Hal tersebut merupakan potensi pasar yang sangat besar, terutama di kota-kota besar. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013 berkisar antara 6-6,6% per tahun dengan pendapatan perkapita rata-rata pada tahun 2013 mencapai sekitar $US 3.000 dan diprediksi pada tahun 2014 mencapai sekitar $US 4.000. Peluang pasar bunga Krisan yang masih cukup terbuka dan belum digarap dengan serius, antara lain kota-kota provinsi dan kabupaten/kota di luar Pulau Jawa seperti di Bali (Denpasar), Sumatera (Medan, Pekanbaru, Padang, Bengkulu, Jambi, Bandar Lampung, Tanjung Pinang, Batam, Pangkal Pinang), Sulawesi (Manado, Tomohon, Gorontalo, Palu, Makassar, Kendari), dan Maluku (Ambon). Harga Krisan di daerah tersebut relatif tinggi dibanding di Pulau Jawa, pesaing relatif lebih sedikit karena bukan daerah produsen Krisan. Daerah tersebut masih sangat potensial untuk pengembangan pasar, antara lain dengan meningkatkan kerjasama dan menumbuhkembangkan dekorator dan florist di daerah tersebut melalui berbagai latihan perangkaian bunga/dekorasi kepada para dekorator/florist. Selanjutnya menumbuhkembangkan jejaring kemitraan usaha antara produsen di Pulau Jawa dengan para dekorator/florist. Dengan peningkatan pendapatan yang relatif baik akan meningkatkan gaya hidup masyarakat, sehingga akan berpengaruh positif terhadap penyelenggaraan pesta pernikahan, perayaan hari-hari besar atau hari jadi bahkan upacara kematian yang akan mendorong peningkatan penggunaan bunga potong, termasuk Krisan. Apabila diasumsikan tingkat konsumsi Krisan setara dengan tingkat produksi, maka berdasarkan angka statistik tahun 2012 menunjukkam bahwa tingkat konsumsi Krisan potong di Indonesia mencapai 397. 228. 983 tangkai. Apabila harga rata-rata Krisan di tingkat pengecer sekitar Rp. 2.000/tangkai, maka nilai tingkat konsumsi per tangkai mencapai sekitar Rp.794.457.966.000. Permintaan Krisan di dalam negeri cenderung terus meningkat seiring dengan pertumbuhan tingkat pendapatan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta semakin meningkatnya gaya hidup masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas. Kondisi tersebut sangat mendukung bagi pertumbuhan dan investasi florikultura, khususnya Krisan potong. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan