Loading...

Agroklimat dan Penyiapan Lahan Tanaman Jeruk

Agroklimat dan Penyiapan Lahan Tanaman Jeruk
IklimIklim berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Iklim membatasi sebaran jeruk apabila diusahakan secara komersial. Tanaman jeruk dapat ditanam di daerah tropis dan sub tropis antara 40 0 LU dan 40 0 LS. Produksi jeruk di daerah tropis rata-rata 13-22 ton. Umumnya, jenis yang ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 2.000 m di atas permukaan laut adalah Jeruk Siem, Keprok Madura, Keprok Tejakula, Keprok Soe, sedangkan Jeruk Keprok ditanam di dataran tinggi. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kemeterian Pertanian TemperaturTemperatur optimum untuk pertumbuhan jeruk adalah 20 0 – 30 0. Udara yang terlalu panas pada siang hari akan menyebabkan buah seperti terbakar dan bunga yang tidak terlindung oleh daun akan rontok. Apabila udara panas terjadi pada malam hari, maka pewarnaan pigmen buah akan terganggu sehingga buah akan berwarna. TanahJeruk dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah dari yang liat sampai yang berkerikil, namun pertumbuhan akan optimal jika di tanam di tanah yang berukuran gembur, subur, dan yang berdrainase baik. Tanah yang ideal untuk pertanaman jeruk adalah tanah yang memiliki kedalaman efektif lebih dari 100 cm, namun pada kedalaman efektif (50 cm) jeruk masih bisa tumbuh. Pada tanah dangkal perlu di buat lubang tanam yang cukup. Tanaman jeruk dapat ditanam di tanah gambut yang sudah matang dengan ketebalan kurang dari 50 cm. Jika lahan yang tersedia bertanah padat, liat, dan miskin unsur hara maka bisa diatasi dengan pengolahan tanah yang baik dan pemupukan. Sedangkan apabila tanah berpasir maka struktur tanah dapat diperbaiki dengan pemberian pupuk kandang atau kompos yang banyak. Kemiringan lahan yang cocok antara 5 0 - 20 0 karena sangat membantu penuntasan kelebihan air pada saat musim hujan, sedangkan di tanah yang datar diberikan saluran drainase. PH tanah harus diperhatikan. Jeruk dapat hidup baik pada pH 5-7.Apabila pH tanah lebih kecil dari 5 (pH 7), perlu pemberian tepung belerang (sulfur) atau tepung gypsum sekitar 6 ton/ha. Apabila lahan yang tersedia adalah lahan yang miring atau berbukit, maka penanaman jeruk harus mengikuti kaidah-kaidah konservasi lahan. Selain memperhatikan kesesuaian agroklimat, untuk menghindari penyakit CVPD sebagai penyakit jeruk endemik di Indonesia, maka perlu dicermati kondisi dan letak calon lahan. Kondisi lahan yang akan ditanami harus bebas dari tanaman jeruk yang sakit (eradikasi) minimal dua tahun sebelum tanam. Selain itu, lokasi harus bersih dari tanaman pembawa vektor CVPD (Diaphorina citri) dan dibersihkan dari tanaman-tanaman lain yang disukai oleh hama tersebut, seperti kemuning dan tapak doro serta lokasi kebun harus berjarak (radius) minimal 3 km dari lokasi tanaman jeruk yang sudah terserang penyakit CVPD. Pengolahan LahanLubang tanam harus dibuat 1 bulan sebelum tanam. Pada lahan yang miring, sebelum dilakukan pembuatan lubang terlebih dahulu harus dibuat teras. Apabila jeruk ditanam di tanah yang berair (tanah sawah), tanah yang akan dibuat lubang tanam harus ditinggikan terlebih dahulu (dibuat tabukan atau surjan) agar sistim perakarannya tidak terendam air dan dilengkapi dengan saluran drainase. Sedangkan apabila jeruk ditanam di lahan kering, harus dilengkapi dengan sarana irigasi. Lubang tanam umumnya berukuran 60 x 60 x 40 cm. Namun apabila lahannya bermasalah seperti tanah padas, sebaiknya lubang dibuat lebih besar lagi yaitu 1 x 1 x 1 m untuk memberikan ruang yang cukup bagi sistim perakaran tanaman. Dalam rangka pengaturan tata letak tanaman untuk pengelolaan kebun yang lebih efisien dan estetika kebun, maka sebelum pembuatan lubang tanam sebaiknya dipasang ajir terlebih dahulu. Jumlah lubang tanam dalam satu hektar tergantung dari jarak tanam yang diinginkan.