Loading...

Agrosilvopastura: Program Unggulan Kewilayahan (puk) Kopi Dan Domba

Agrosilvopastura: Program Unggulan Kewilayahan (puk) Kopi Dan Domba
Kebumen – Program Unggulan Kewilayahan (PUK) merupakan program intensif dari Pemerintah Kabupaten Kebumen di mana desa-desa yang mendapat program tersebut akan mendapat bantuan dan pendampingan secara intensif dari dinas-dinas terkait. Pada tahun 2019 sendiri, hanya terdapat 5 (lima) desa yang mendapat program PUK, salah satunya adalah Desa Watulawang Kecamatan Pejagoan. Kegiatan PUK di Desa Watulawang mengambil nama AGROSILVOPASTURA. Agro berarti pertanian, Silvo berarti perkebunan dan Pastura berarti savana atau tempat penggembalaan. Secara umum, AGROSILVOPASTURA berarti pertanian yang menggabungkan perkebunan dan tempat penggembalaan, atau dengan kata lain, tanaman perkebunan dan peternakan. Ya memang benar, aplikasi PUK Agrosilvopastura memfokuskan diri pada tanaman kopi dan domba. Kopi dan domba sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi petani (dan/atau peternak) di Desa Watulawang. Sejak jaman dahulu, secara turun menurun, petani mengusahakan dua komoditas pertanian ini. Hanya saja, usahataninya belum intensif, belum memenuhi kaidah budidaya atau buditernak yang baik, atau dengan bahasa keilmuannya, belum beragribisnis. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Kebumen berusaha memberikan bantuan dan pendampingan, agar kemampuan budidaya dan buditernak meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani. Kopi. Kopi yang dikembangkan di Desa Watulawang adalah kopi robusta, kopi arabika kurang cocok di desa ini karena ketinggian tempatnya hanya 200 – 300 meter di atas permukaan laut (dpl). Selain kopi robusta, juga ada kopi lokal bertipe liberika, tetapi sayangnya, produksinya tidak terlalu tinggi, meskipun kualitasnya cukup baik. Budidaya kopi yang selama ini masih sangat tradisional. Tanaman kopi hanya ditanam dan dibiarkan begitu saja, kegiatan budidaya yang dilakukan hanyalah penyiangan dan pemberian pupuk kandang. Hasilnya, tentu saja tidak optimal. Peningkatan kualitas budidaya kopi seiring dengan adanya program ini dilakukan secara intensif pada tahun 2019 ini. Petani diberi penyuluhan, pelatihan serta diajak studi banding ke kebun-kebun kopi yang dibudidayakan secara intensif. Pendampingan secara intensif ini ternyata mengubah sedikit demi sedikit perilaku petani kopi. Selain menambah luas kebun kopi mereka dengan bibit kopi berkualitas, petani mulai melakukan pemupukan serta pemangkasan tanaman kopi, kegiatan yang tidak pernah dilakukan selama ini. Hasilnya cukup memuaskan, terdapat peningkatan kualitas dan kuantitas biji kopi yang dihasilkan. Domba. Selain kopi, domba menjadi komoditas unggulan lainnya di Desa Watulawang yang mendapatkan bantuan program. Petani mendapatkan bantuan gaduhan berupa domba betina dan domba jantan. Domba ditempatkan secara berkelompok dalam kandang kawasan. Kandang kawasan berarti terdapat minimal 2 petani penggaduh yang memelihara di kandang tersebut. Di Desa Watulawang sendiri, terdapat 7 (tujuh) kandang kawasan. Selain bantuan domba, petani Desa Watulawang mendapat bantuan peralatan dan inseminasi teknologi. Teknologi yang paling jelas terasa adalah teknologi pengolahan pakan secara fermentasi (silase). Dengan teknologi ini, petani peternak dapat mengolah pakan domba dari limbah pertanian, dedaunan kering, sisa batang pisang dan aneka sisa tanaman lainnya. Dengan adanya teknologi ini, petani peternak tidak perlu ngarit dan tidak akan kesulitan pakan selama musim kemarau panjang seperti saat ini. Disusun oleh Kres Dahana, SP. Tanggal 05 Desember 2019