Loading...

ALAT BANTU PHSL DALAM BUDIDAYA PADI

ALAT BANTU PHSL DALAM BUDIDAYA PADI
Beras merupakan makanan pokok sebagaian besar penduduk di Indonesia. Oleh karena itu, upaya peningkatan produksi padi terus mendapat perhatian dari tahun ke tahun. Dalam hal ini, teknologi pemupukan merupakan salah satu pilar utama peningkatan produk-tivitas padi. Sejalan dengan kemajuan dari ilmu pengetahuan dan teknologi, manajemen pemupukan telah mengalami perubahan pesat dan ditetapkan berdasarkan hasil penelitian. Rekomendasi pemupukan yang semula bersifat umum, secara bertahap berubah menjadi spesifik lokasi, musim tanam, varietas, dan target hasil yang ingin di capai.Penetapan rekomendasi pupuk berdasarkan pendekatan PHSL membutuhkan alat bantu (perangkat uji) untuk masing-masing jenis hara tanaman, terutama N, P, K, dan pH tanah, Alat bantu digunakan untuk menilai kebutuhan pupuk sebelum pemupukan berdasarkan kondisi tanaman dan status kesuburan lahan.Penetapan kebutuhan hara N tanaman didasarkan pada kandungan klorofil yang diindikasikan oleh warna hijau daun menggunakan BWD atau SPAD meter, BWD berbentuk empat persegi panjang dengan empat kotak skala warna, mulai dari hijau muda hingga hijau tua yang berkorelasi positif dengan kandungan klorofil dan tingkat hasil padi yang dicapai.Penggunaan larutan HCl 25 % untuk penetapan kandungan P dan K tanah berkorelasi dengan hasil panen padi. Hasil kalibrasi diberbagai tempat diperoleh klasifikasi P untuk padi sawah sebagai berikut : rendah 40 mg P2O5/100 g tanah. Sedangkan klasifikasi hara K dengan larutan yang sama untuk padi sawah adalah rendah 20 mg K2O/100 g tanah.Berdasarkan klasifikasi P dan K tanah tersebut di buat peta status hara tanah, sehingga diketahui sebaran dan luas lahan yang berstatus hara rendah, sedang, dan tinggi. Peta status hara tanah skala 1:250.000 dapat digunakan sebagai dasar dalam alokasi pupuk tingkat provinsi, sedangkan peta status hara tanah skala 1:50.000 dapat digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi pemupukan tingkat kecamatan.Penetapan kebutuhan pupuk P dan K juga dapat berdasarkan hasil uji Perangkat Uji Tanah sawah (PUTS). Hasil uji PUTS berupa rekomendasi pupuk P dan K untuk padi sawah dapat dicocokkan pada skala warna dan di baca pada tabel rekomendasi. Penggunaan PUTS kemudian diperkuat oleh Permentan No. 40/SR. 140/04/2007 tentang rekomendasi pemupukan N, P, dan K pada padi sawah spesifik lokasi. Selain lebih cepat, mudah, murah, dan relatif akurat, penggunaan PUTS juga mampu menghemat kebutuhan pupuk SP36 dan KCl masing-masing hingga 50 kg/ha, yang berujung pada peningkatan pendapatan petani dan menekan pencemaran lingkungan. Dengan database yang diperoleh berdasarkan alat-alat bantu pemupukan tersebut, kebutuhan pupuk tanaman padi juga dapat di hitung menggunakan perangkat lunak berbasis informasi teknologi (IT), seperti piring cakram (campact disk) dan HP (hand phone) atau dapat di akses melalui website.Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP)Alamat Email : harnati_r@yahoo.comSumber Bacaan :1. http://id.wikipedia.org/wiki/Bercocok tanam padi.2. Abdulrachman Sarlan. 2014. Pengelolaan hara spesifik lokasi mendukung sistem produksi padi berkelanjutan. Balitbangtan Kementerian Pertanian. IAARD Press. Jakarta.3. Sumber gambar berasal dari balittanah bogor.