Mutu merupakan salah satu kunci dalam menentukan daya saing suatu produk, tak terkecuali pada produk perkebunan. Untuk meningkatkan mutu hasil perkebunan, perlu diupayakan perbaikan mutu dari masa prapanen, panen, pascapanen dan pengolahan, sebagai mata rantai yang saling terkait. Upaya peningkatan jaminan mutu Bahan Olah Karet (BOKAR) perlu mendapat perhatian untuk memenuhi kriteria mutu yang diinginkan oleh pasar. Produk perkebunan pada umumnya masih dipasarkan dalam bentuk primer sehingga bernilai rendah dan rentan terhadap fluktuasi harga. Kecenderungan yang terjadi dewasa ini, harga komoditas primer perkebunan semakin lama semakin menurun, sedangkan harga produk olahannya semakin meningkat. Kondisi ini menuntut adanya upaya diversifikasi produk untuk yang dikembangkan sehingga mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun tujuan ekspor. Mutu bahan olah karet rakyat (bokar) sangat menentukan daya saing karet alam Indonesia dipasar International. Dengan mutu bokar yang baik akan terjamin permintaan pasar jangkan panjang . Mutu bokar yang baik dicerminkan oleh Kadar Kering Karet (KKK) dan tingkat kebersihan yang tinggi. Upaya perbaikan mutu bokar harus dimulai sejak penanganan lateks di kebun sampai dengan tahap pengolahan akhir. Pemasaran bokar melalui kelompok tani diharapkan mampu memupuk dan melatih jiwa kebersamaan petani yang progresif, meningkatkan posisi tawar menawar petani, serta menghasilkan volume jual yang efisien yang dapat menurunkan biaya-biaya pemasaran sekaligus meningkatkan harga jual bokar dan bagian harga yang diterima petani. 1. Pemasaran Bokar dengan Pola kemitraanSecara konseptual Pola kemitraan dinilai sangat ideal karena terjadi komunikasi antara kelembagaan petani, pabrik pengolah/pengekspor, dan instansi pemerintah yang berfungsi menetapkan harga pembelian bokar, pembakuan mutu sesuai standar SNI, dan menentukan aturan main sistem kemitraan yang diawasi dengan jelas dan praktis. Namun operasionalnya bagi pihak mitra dinilai memberatkan dan petani sendiri seringsekali tidak merasa diuntungkan, salah satu penyebabnya adalah karena karet merupakan komoditas yang pasarnya terbuka, jumlah pembelinya sangat banyak dan harganya bersaing, akibatnya pola ini tidak populer dan tidak berkembang . 2. Pemasaran Bokar dengan LelangMekanisme umum pasar lelang bokar adalah sebagai berikut :o. Panitia lelang mengkoordinasikan jenis dan mutu bokar tertentu yang dihasilkan oleh petani/ kelompok tani sesuai dengan permintaan pasar.o. Panitia lelang mengundang pabrik pengolah atau pedagang besar untuk mengikuti lelang pada waktu yang ditentukan, disertai estimasi tentang jenis dan volume bokar yang akan dilelang.o. Para petani / kelompok tani mengumpulkan sejumlah bokar dengan volume tertentuo. Diadakan pemeriksaan mutu bokar petani / kelompok tani oleh panitia lelang dan penawar lelang dan penawar lelang.o. Panitia lelang menentukan harga indikator yang disesuaikan dengan perkembangan harga umum ( terutama harga internasional ) dengan memperhatikan mutuo. Pembeli mengadakan penawaran secara terbuka dan ditentukan harga penawaran tertinggio. Pengukuran volume lelang ( penimbangan )o. Pembayaran transaksi dilakukan secara tunai. Sistem dan kelembagaan pemasaran bokar akan menentukan tingkat harga dan bagian yang akan dterima petani, yang selanjutnya akan menentukan pendapatan petani. Didalam mekanisme pembentukan harga bokar yang diterima petani, selain terdapat faktor-faktor yang dikuasai oleh petani sendiri( jenis mutu bokar dengan KKK optimum yang sesuai permintaan pasar dan meminimumkan marjin pemasaran) juga terdapat faktor yang tidak dapat / tidak langsung dikuasai oleh petani ( misalnya harga karet internasional ). Upaya pengorganisasian sistem pemasaran bokar untuk meningkatkan efisiensi dapat dilakukan dengan mengoptimumkan berbagai faktor yang dapat dikuasai oleh petani, apabila arus pemasaran bokar kekonsumen lancar dan berkesinambungan . (TIM BPP GEDUNG AJI)