Loading...

Alternatif Pengendalian OPT dengan Pestisida Alami

Alternatif Pengendalian OPT dengan Pestisida Alami
Pengembangan Pestisida Nabati untuk Pengendalian OPT Penggunaan pestisida sintetis atau kimia banyak menimbulkan dampak negatif baik terhadap jasad sasaran, bukan sasaran bahkan dapat mencemari lingkungan( tanah, tanamn air dan berbagai komponen ekosistem alinnya), selain tumbuhnya rasa ketergantungan konsumen terhadap fihak produsen. sehingga pemberian masukan yang digunakan sarana usahatani disesuaikan dengan cara pandang ramah lingkungan, salah satunya metoda pengendalian terhadap beberapa jenis opt (organisme pengganggu tumbuhan) menggunakan bahan-bahan secara alamiah yang dikenal dengan nama pestisida nabati. Pengembangan pestisida nabati sudah diterapkan di Kelompok Tani "Tani Makmur" Gamparan Desa Sumberharjo Prambanan Sleman, yang selama 4 tahun ini berbudidaya tanaman sehat. Dalam upaya pengembangan pestisida nabati ditingkat petani agar mampu dikembangkan diperlukan strategi antara lain : mudah didapat, bahan baku cukup tersedia , berkualitas, kuantitas dan kontinyuitas terjamin, mudah dibuat ekstrak, sederhana dan dalam waktu yang tidak lama, kandungan senyawa pestisida harus efektif pada kisaran 3-5 % bobot kering bahan, selektif, bahan yang digunakan bisa dalam bentuk segar/ kering, efek residunya singkat, tetapi cukup lama efikasinya sedapt mungkin pelarutnya air( bukan senyawa sintetis), budidayanya mudah, tahan terhadap kondisi suhu optimal, tidak menjadi gulma atau inang hama penyakit, bersifat multi guna. Pestisida nabati dapat diaplikasikan dengan menggunakan alat semprot (sprayer) gendong seperti pestisida kimia pada umumnya. namun, apabila tidak dijumpai alat semprot, aplikasi pestisida nabati dapat dilakukan dengan bantuan kuas penyapu (pengecat) dinding atau merang yang diikat. caranya, alat tersebut dicelupkan kedalam ember yang berisi larutan pestisida nabati, kemudian dikibas-kibaskan pada tanaman. supaya penyemprotan pestisida nabati memberikan hasil yang baik, butiran semprot harus diarahkan ke bagian tanaman dimana jasad sasaran berada. apabila sudah tersedia ambang kendali hama, penyemprotan pestisida nabati sebaiknya berdasarkan ambang kendali. untuk menentukan ambang kendali, perlu dilakukan pengamatan hama seteliti mungkin. pengamatan yang tidak teliti dapat mengakibatkan hama sudah terlanjur besar pada pengamatan berikutnya dan akhirnya sulit dilakukan pengendalian. pestisida organik lainnya dapat diperoleh dari biji mahoni, kunyit, jahe, serai dan cabe. pembuatannya dengan dihaluskan, diberi air, diperas dan disaring. untuk cabe saat penyemprotan harus hati-hati jangan sampai berbalik arah mengenai manusia. pestisida dari mahoni untuk mengatasi hama tanaman terong dan pare. kunyit, jahe, serai untuk mengatasi jamur tanaman & buah. cabe untuk mengatasi semua jenis hama kecuali hama di dalam tanah menanggulangi penyakit keriting pada cabai, bahan: brotowali satu kilogram (atau daun-daunan yang pahit), kapur 10 sendok makan, kunyit satu kilogram.cara membuat: ketiga bahan ditumbuk dan diambil airnya lalu dicampur dengan air 30-50 liter. bahan ini siap digunakan untuk mengendalikan penyakit keriting pada cabai. mencegah semut pada persemaian, bahan: kunir satu ons, laos satu onscara pembuatan: kunir dan laos dihaluskan kemudian ditambah air secukupnya lalu disaring.cara pemakaian: larutan hasil saringan dimasukkan dalam penyemprot yang sudah berisi air (10 liter), semprotkan di lahan sehari sebelum digunakan untuk menyemai tanaman dan diulang tiga hari sesudah tanaman disemai. pengendalian ulat pada tanaman padi, bahan: tanaman sere (seluruh bagian dan air).cara pembuatan: tanaman sere (250 gram) ditumbuk sampai halus. tambahkan air secukupnya (empat gelas). saringlah agar diperoleh cairan sere.cara pemakaian: larutan dicampur dengan 13 liter air. semprotkan pada tanaman padi yang terserang ulat (hama putih, penggulung daun, penggerek batang). untuk penggerek batang satu minggu setelah dijumpai adanya telur. mengendalikan ulat pada tanaman tomat, cabai, melon dan semangka, bahan: puntung rokok satu ons dan air tujuh liter.cara pembuatan: masukkan puntung rokok dalam air. biarkan selama 4–7 hari. saringlah agar diperoleh air larutan yang bersih. gunakan untuk mengendalikan hama yang menyerang tanaman. penyemprotan pada pagi dan sore hari. pengendalian ulat grayak dan wereng, bahan: 250 gram daun sirsak segar, air ½ liter.cara pembuatan: daun sirsat yang masih segar ditumbuk halus ditambah dengan air kemudian disaring.pemakaian: campurlah saringan air sirsat segar tersebut dengan air 14 liter dan semprotkan pada tanaman yang terserang hama. penyakit keriting pada cabai, bahan: abu dapur dua kilogram, tembakau ¼ kg, belerang tiga ons.cara pembuatan: ketiga bahan direndam dalam air selama 3–5 hari. saring air rendaman tersebut dan semprotkan pada tanaman yang terkena penyakit keriting.cara yang lain, bisa juga dengan menaburkan secara langsung abu dapur pada tanaman yang terserang penyakit keriting. mengendalikan hama wereng, bahan: kecubung dua butir, jenu satu kilogram.cara pembuatan: kedua bahan direbus dengan air sampai mendidih. saringlah air tersebut. cara penggunaan: setiap satu liter air rebusan dicampur dengan 16 liter air. semprotkan pada tanaman yang terserang hama wereng. mengendalikan ulat grayak, ulat lain dan serangga, bahan: segenggam daun gamal (satu kilogram), lima liter air, 250 mg tembakau rokok (sudah dirokok).cara membuat: segenggam pucuk daun gamal ditumbuk halus. campurlah dengan air kemudian rebuslah. dinginkan kemudian tambahkan tembakau dan aduklah hingga air berubah menjadi agak kehitaman/kemerahan.cara penggunaan: setiap 250 cc air larutan dicampur dengan air 10 liter. gunakan untuk mengendalikan hama yang menyerang tanaman. hama walangsangit, bahan: brotowali satu kilogram dan kecubung dua butir.cara membuat: kedua bahan tersebut direbus dengan air satu liter. air rebusan kemudian disaring. campuran larutan tersebut dengan air 16 liter. gunakan untuk mengendalikan hama walangsangit yang menyerang tanaman. penyemprotan pada pagi dan sore hari. untuk mengendalikan hama secara umum, bahan :daun nimba 8 kg, lengkuas 6 kg, serai 6 kg, deterjen 20 gram, air 20 liter.cara pembuatan daun nimba, lengkuas, dan serai ditumbuk. seluruh bahan diaduk merata dalam 20 liter air, lalu direndam selama 24 jam. keesokan harinya larutan disaring dengan kain halus. larutan hasil penyaringan ditambah diterjen dan diencerkan dengan 60 liter air, bisa digunakan untuk luas 1 ha. semprotkan pada tanaman. sumber : Pelatihan TOT Pemandu SL PHT Penulis : Desi Erawati,STP (PPL BP4 Wil VIII Prambanan)