Pengendalian ulat grayak sampai saat ini masih mengandalkan insektisida yang diaplikasikan secara berjadwal pada tanaman berumur 20-65 hari dengan frekuensi 2 minggu sekali, kadang-kadang seminggu dua kali tanpa memperhatikan populasi hama di lapang. Penggunaan insektisida menjadi berlebihan sehingga seringkali tidak mengenai sasaran dan menimbulkan pengaruh samping yang merugikan secara ekononis dan ekologis. Cara tersebut dilakukan karena belum ada rekomendasi pelaksanaan pengendalian yang berdasarkan populasi hama.Pada konsep PHT, tindakan pengendalian hama ditujukan untuk menurunkan dan mempertahankan populasi hama di bawah ambang ekonomi, yaitu tingkat populasi hama yang pada tingkat tersebut harus dilakukan pengendalian untuk mencegah meningkatnya populasi hama mencapai tingkat yang membahayakan tanaman. Prinsip ini telah dikembangkan oleh para ahli sebagai dasar dalam menentukan keputusan saat pengendalian hama dengan insektisida.Nilai ambang ekonomi ulat grayak berdasarkan stadia serangga, yang dikelompokkan menjadi empat stadia. Pada keadaan tanaman diserang oleh kompleks hama daun, ambang ekonominya setara dengan kerusakan daun sebesar 12,5%. • Stadia telur, nilai ambang ekonominya adalah satu kelompok per 57 tanaman.• Stadia Instar I, nilai ambang ekonomi nya adalah 558 ekor per 12 tanaman• Stadia Instar II, nilai ambang ekonominya adalah 32 ekor per 12 tanaman• Stadia Instar III, nilai ambang ekonominya adalah 17 ekor er 12 tanaman Perkembangan ulat grayak bersifat metamorfosis sempurna, terdiri atas tahapan ulat, kepompong, ngengat (dewasa) dan telur. Setelah telur menetas, ulat tinggal untuk sementara waktu di tempat telur diletakkan. Beberapa hari kemudian, ulat tersebut berpencaran. Ulat tua bersembunyi di dalam tanah pada siang hari dan nenyerang tanaman pada malam hari. Masa ulat terdiri atas 6 instar (fase) yang berlangsung selama 14 hari. Ulat instar I, II dan III, masing-masing berlangsung sekitar dua hari. Ulat berkepompong di dalam tanah. Ulat muda menyerang daun hingga tertinggal epidermis atas dan tulang-tulang daun saja. Ulat tua merusak pertulangan daun hingga tampak lobang-lobang bekas gigitan ulat pada daun.Larva instar I dan II hanya memiliki dua pasang tungkai palsu. bergerak seperti ulat jengkal, serta makan jaringan epidermis sehingga dauan yang dimakan tampak bergaris-garis putih. Mulai instar III, larva memiliki tungkai palsu yang lengkap sehingga tidak lagi bergerak seperti ulat jengkal. Selain itu, larva makan dengan cara membuat lubang besar pada daun yang diserangnya. Larva instar V dan VI biasanya bergerombol dan sangat rakus, dan makan hingga tulang daun. Ulat grayak mulai menyerang tanaman kedelai sejak stadium vegetatif awal. Populasi ulat ini kemudian tumbuh dan mencapai puncak pada tanaman berumur 38 hari. Populasi ulat meningkat lagi setelah tanaman berumur 73 hari.Ulat grayak bersifat menyebar sehingga penyebarannya sangat luas. Sebaran populasi ulat grayak di Pulau Jawa beragam dari waktu ke waktu, tetapi selalu ditemukan pada sepanjang tahun. Keragaman ini disebabkan oleh daya migrasinya yang tinggi dan sifatnya yang menyerang pada berbagai tanaman pangan, sayuran dan industri sehingga mampu bertahan hidup pada berbagai tanaman.Untuk menentukan apakah populasi hama telah mencapai ambang batas maka diperlukan pengambilan contoh populasi hama. Untuk maksud tersebut, informasi tentang populasi hama harus dikumpulkan dalam waktu singkat dengan biaya rendah dan dengan tingkat kepercayaan pendugaan tinggi. Salah satu pengambilan contoh beruntun (squential sampling) dipilih untuk luasan yang cukup luas. Melalui pengambilan beberapa sampel saja dengan melihat apakah rata-rata telah tercapai atau belum dengan menentukan batas atas dan batas bawah penghentian pengambilan satuan sampel. Prosedur pengambilan contoh untuk populasi ulat grayak pada saat ini sedang disusun oleh Balittan Bogor. Sebagai pedoman sementara, prosedurnya dengan mengambil contoh tanaman secara acak, minimum 10 buah pada lahan yang luasnya tidak melebihi 8 ha. Pemantauan populasi hama dilakukan terhadap kelompok telur atau ulat instar I-III karena saat itu ulat belum berpencaran dan apabila dikendalikan dengan insektisida, keberhasilannya dapat dipastikan. Di samping itu, pemantauan secara intensif perlu dilakukan pada saat tanaman mencapai stadia pembentukan polong hingga awal pengisian biji yang merupakan periode kritis tanaman dari gangguan ulat grayak. Sumber : http://muhammadarifindrprof.blogspot.com/2011/02/22-teknologi-pengendalian-ulat-grayak.htmlhttps://agroklinik.wordpress.com/gallery/kedelai-edamame/ Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi PertanianEmail: ume_humaedah@yahoo.com