Loading...

ANALISIS NUTRISI BAHAN BAKU PAKAN UNGGAS

ANALISIS NUTRISI BAHAN BAKU PAKAN UNGGAS
Pakan merupakan komponen biaya tertinggi dalam usaha peternakan, termasuk usaha ternak unggas yang dikelola secara intensif. Cara pemberian pakan ternak haruslah ekonomis dengan tanpa mengabaikan aspek biologis. Secara umum, pakan ternak unggas diusahakan terdiri dari bahan makanan yang berasal dan tanaman, hewan, terutama hasil ikutannya dan sisa proses pengolahan pangan dan pabrik. Namun demikian, bahan makanan sisa yang kurang bermanfaat bagi kebutuhan pangan manusia, melalui ternak unggas dapat diubah menjadi daging dan telur dan sangat potensial sebagai pangan manusia.Bahan baku makanan yang dipergunakan untuk menyusun makanan ternak unggas, adalah bahan baku makanan yang mengandung zat-zat makanan yang bisa memenuhi kebutuhan ternak unggas yang mengkonsumsi dari sifat fisis, kimia, dan biologisnya. Kandungan gizi suatu bahan sangat diperlukan dalam membuat formula pakan, sesuai dengan kebutuhan ternak. Untuk bahan pakan ayam, informasi yang dibutuhkan terutama adalah bahan kering, protein kasar, serat kasar dan energi (energi metabolis). Informasi mengenai kandungan kalsium (Ca) dan fosfor (P) sangat bermanfaat dan juga kandungan asam amino bahan pakan sumber protein (bila memungkinkan), sehingga perlu dilakukan analisa dilaboratorium. Berikut perihal pengujian dalam membuat formula pakan unggas : (1). Analisis Kadar Air. Merupakan usaha untuk mengetahui kadar air yang ada dalam bahan baku pakan unggas. Air merupakan komponen penting dalam bahan makanan karena dapat mempengaruhi penampakan, tekstur serta cita rasa makanan. Kandungan air dalam bahan makanan juga menentukan acceptability (penerimaan), kesegaran dan daya tahan bahan itu. Bahan baku yang akan diuji biasanya dikeringkan atau kadar air yang ada di dalam bahan baku diluarkan (diuapkan), selanjutnya ditimbang dan ada perbedaan berapa persen dengan bahan baku sebelum dikeringkan. Misalnya kadar air bahan baku jagung kuning adalah 13%, berarti bahan kering jagung 87% (100%- 13%). Banyak sedikitnya kadar air bahan baku secara kuantitas mempengaruhi kadar zat-zat nutrisi lainnya. Perlu diketahui pula bahwa kandungan air dalam bahan pakan akan berubah-ubah sesuai dengan lingkungannya, dan hal ini sangat erat hubungannya dengan daya awet bahan pakan tersebut.(2). Analisis Kadar Protein. Merupakan usaha untuk mengetahui kadar protein dalam bahan baku pakan unggas. Protein merupakan polimer asam amino. Ada puluh asam amino yang berbeda merupakan penyusun protein alami.Pada umumnya untuk menguji kadar protein, ditentukan kadar nitrogennya secara kiwiawi. Protein adalah suatu senyawa yang sebagian besar terdiri atas unsur nitrogen. Setelah diketahui kadar nitrogen, kemudian angka yang diperoleh dikalikan dengan faktor 6,25 = (100 : 16). Faktor tersebut digunakan sebab nitrogen mewakili sekitar 16% dari protein. Kadar protein bahan pakan secara umum diperhitungkan dengan kadar protein kasar. Pada bahan baku asal tumbuh-tumbuhan (3). Analisis Kadar Serat Kasar. Merupakan usaha untuk mengetahui kadar serat kasar bahan baku pakan unggas. Serat kasar (crude fiber) didefinisikan sebagai bagian dari pakan yang tidak dapat dihidrolisis oleh bahan-bahan kimia tertentu, yaitu asam sulfat dan natrium hidroksida mendidih. Untuk mengujinya biasanya dilakukan secara kimiawi dengan metode Weende. Bahan baku pakan yang diuji dimasak dengan asam lemak sampai mendidih sehingga menghidrolisis karbohidrat dan protein yang terdapat dalam bahan baku pakan. Pemasakan lebih lanjut menggunakan alkali, sehingga terjadi penyabunan dari zat-zat lemak yang ada pada bahan pakan. Zat-zat yang tidak larut selama pemasakan bisa diketahui karena terdiri dari serat kasar dan zat-zat mineral, kemudian disaring, dikeringkan, ditimbang dan kemudian dipijarkan lalu didinginkan dan ditimbang sekali lagi. Perbedaan berat yang dihasilkan dari penimbangan menunjukkan berat serat kasar yang ada dalam makanan atau bahan baku pakan. (4). Analisis Kadar Lemak Kasar. Lemak adalah suatu golongan senyawa yang bersifat tidak larut air, namun larut dalam pelarut organik. misalnya Ether, Petroleum Spirit,Heksan, Chloroform .Lemak terdiri dari unsur C, H dan 0 dan berfungsi sebagai pelarut vitamin-vitamin A dan D, E dan K. Kadar lemak pada tanaman dipengaruhi oleh spesies, umur, lokasi penanaman dan bagian yang digunakan untuk sampel. Analisis kadar lemak kasar adalah usaha untuk mengetahui kadar lemak bahan baku pakan. Bahan makanan dikeringkan sampai benar-benar bebas air dan kemudian diambil sarinya dengan etil eter. Setelah lemaknya larut di dalam eter, maka kadar lemak bisa dihitung dengan menguapkan eter terlebih dahulu di atas penangas air. Dengan demikian kadar lemak pada bahan pakan dapat diketahui. Namun pada umumnya analisis kadar lemak yang diperloleh bukan kadar lemak murni, melainkan campuran dari berbagai zat seperti klorofil, xantofil, karoten dan lainnya. (5). Analisis Kadar Abu. Merupakan usaha untuk mengetahui kadar abu bahan baku pakan unggas. Abu adalah zat anorganik sisa hasil dari pembakaran suatu bahan organik. Penentuan abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan antara lain sebagai parameter nilai gizi dalam suatu bahan makanan. Analisis kadar abu secara umum ditentukan dengan membakar bahan baku pakan, biasanya hanya zat-zat organik, selanjutnya ditimbang dan sisanya disebut abu. Kadar abu dalam komposisi pakan unggas umumnya hanya dicantumkan kadar kalsium dan fosfor. (6). Analisis Kadar Energi. Merupakan usaha untuk mengetahui kadar energy bahan baku pakan. Dalam analisis, biasanya ditentukan energi bruto lebih dahulu; dengan cara membakar sejumlah bahan baku pakan sehingga diperoleh hasil-hasil oksidasi berupa karbon dioksida, air dan gas-gas lainnya. Untuk mengukur panas yang ditimbulkan oleh pembakaran digunakan suatu alat bom kalorimeter. Penentuan energi bruto menyatakan jumlah energy kalori dalam bahan baku pakan yang dianalisis. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM (Penyuluh Pertanian)) Sumber :1. Murtidjo,Bambang Agus.1987. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Yogyakarta : Kanisius2. Sinurat, A.P. Penggunaan Bahan Pakan Lokal Dalam Pembuatan Ransum Ayam Buras. Wartazoa Vol. 9 No. 1 Th. 1999 (http://kalteng.litbang.pertanian.go.id, diakses 10 Juni 2015)