Pembangunan sektor pertanian di Indonesia masih memegang perananyang sangat penting dari keseluruhan perekonomian nasional, sebab Indonesiamempunyai struktur yang disebut dengan perekonomian agraris dimana sebagianpenduduknya bekerja di sektor pertanian. Sektor pertaniannya sangat berkembangpesat, hal ini didukung karena kekayaan sumber daya yang sangat banyak.Penduduk negara Indonesia mayoritas memakan nasi, tapi ada sebagianwilayah di Indonesia makan sagu dan jagung, hal ini di akibatkan di wilayah sanabanyak tanaman sagu dan jagung.Menurut Kotler (2005) , pemasaran adalah proses sosial yang dariindividu dan kelompok mendapat apa yang mereka butuhkan dan inginkandenganmenciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain. Tujuan pemasaran pemasaran adalahmemahami pelanggan dengan baik sehingga produk yang di tawarkan cocok untuk di jual.Sedangkan menurut Sudiyono (2001), lembaga pemasaran adalah badanusaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dankomodite dari produsen kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungandengan badan usaha atau badan usaha lainnya. Menurut Simamora (2003), pemasaran adalah bekerja dengan pasaruntuk melakukan pertukaran memenuhi kebutuhan orang-orang. Manfaatpemasaran adalah memaksimalkan konsumsi, memaksimalkan kepuasankonsumen, memaksimalkan kepuasan konsumen, memaksimalkan kualitas hidup.Manfaat pemasaran adalah kegunaan bentuk, kegunaan tempat, kegunaan waktu,dan kegunaan informasi.Strategi pemasaran merupakan salah satu kunci berhasilnya penjualan suatu produk atau jasa. Tentu, strategi harus tetap dengan menyertakan kualitas produk atau jasa yang unggul. Pertama, lakukan identifikasi terhadap target pasar anda. Misalnya, jika usaha Anda bergerak dalam pemasaran beras premium, Anda bisa membidik kalangan menengah ke atas. Identifikasi yang tepat dapat mempermudah Anda dalam menyusun strategi pemasaran yang efektif dan menghindarkan Anda dari pembuangan biaya dan waktu yang sia-sia. Lalu, lakukan pengenalan produk kepada konsumen dengan cara yang kreatif. Sebisa mungkin, anda harus melakukan promosi yang konsisten dan terus-menerus. Promosi bisa dilakukan secara konvensional ataupun online Selain itu, amatilah bagaimana promosi yang diterapkan oleh para kompetitor. Jika promosi Anda lebih menarik, silahkan melanjutkan. Namun jika promosi kompetitor jauh lebih menarik, segera siapkan promosi yang lebih unik, kreatif, dan menarik.Hal penting lainnya yang harus diperhatikan ialah pemilihan lokasi usaha. Pemilihan lokasi tersebut merupakan salah satu strategi mereka untuk menjaring pelanggan. Karena itu, pilihlah lokasi usaha yang strategis dan tepat agar usaha anda dapat dijangkau oleh pelanggan.Tak lupa, jalinlah hubungan yang baik dengan konsumen. Hubungi mereka untuk sekadar menanyakan testimoni mengenai produk usaha Anda atau menginfomasikan produk yang baru anda keluarkan, dan promo yang sedang berjalan.Konsumen membutuhkan produk dan Anda membutuhkan konsumen untuk orientasi keuntungan. Maka itu, terapkanlah simbiosis mutualisme dalam hal berbisnis. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah managemen pemasaran atau sistem pemasaran beras IR 64 a. Keadaan Umum DaerahKabupaten Ogan Ilir memiliki luas wilayah 2.666,07 km2, secara fisik geografis terletak diantara 3o02’ sampai 3o48’LS dan diantara 104o20’ BT sampai 104o48’BT. Kabupaten Ogan Ilir memiliki batas wilayah administrasi sebagai berikut Sebelah Utara : berbatasan dengan Kabupaten banyuasin, Kota Palembang dan Kabupaten Muara Enim Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kabupaten OKU Sebelah Timur : berbatasan dengan Kabupaten OKI dan OKU Timur Sebelah Barat : berbatasan dengan Kabupaten Muara Enim dan Kota Prabumulih Kabupaten Ogan Ilir merupakan kabupaten yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2003 dan mulai berjalan efektif sejak tanggal 14 Januari 2004 dan merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Ibukota Kabupaten Ogan Ilir terletak di Kecamatan Indralaya. Letak Kabupaten Ogan Ilir sangat srategis karena berada pada jalur lintas timur sumatera yang menghubungkan Provinsi lampung dan Provinsi Sumatera Selatan. Bahkan jarak tempuh antara Ibukota Kabupaten Indralaya dengan ibukota Provinsi Sumatera Selatan Palembang sangat dekat yaitu lebih kurang 1 jam perjalanan melalui darat.Kabupaten Ogan Ilir terdiri atas 16 Kecamatan, 227 desa, 14 kelurahan, satu Sekretariat Daerah, 3 Asisten Sekretaris, 11 bagian, 15 dinas, 7 badan, 2 kantor dan 1 Unit Polisi Pamong Praja. Jumlah penduduk Kabupaten Ogan Ilir pada tahun 2014 mencapai 403.828 jiwa. Jumlah penduduk laki-laki mencapai 202.245 jiwa dan perempuan sebanyak 201.583 jiwa. b. Padi.Nama latin Padi adalah Oryza sativa L, kingdom adalah Plantae (tumbuhan), Subkingdom adalah Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh) , SuperDivisi adalah Spermatophyta (menghasilkan biji), divisi adalah Magnoliophyta(tumbuhan berbunga) , Kelas adalah Liliopsida berkeping satu / monokotil), SubKelas adalah Commelinidae , Ordo adalah Poales, Famili adalah Poaceae (sukurumput-rumputan) , Genus adalah Oryza , sedangkan Spesies adalah Oryza sativa L (Anonim). Beras merupakan bahan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakatIndonesia, sehingga keberadaannya di pasar sangat bernilai strategis untuk menjamin stabilitas sosial ekonomi masyarakat. Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu (BPTP) 2009, bahwa padi IR 64 memiliki ciri-ciri seperti :1. Umur tanaman sekitar 110-120 hari2.Tinggi tanaman 115-126 cm3.Anakan produktif kisar 20-35 batang 4.Daun berwarna hijau 5.Gabah berwarna kuning bersih 6. Tahan terhadap kerontokan 7.Tahan terhadap kerebahan 8.Tekstur nasi pulen 9.Kadar amilosa 23 % 10. Rata-rata hasilnya mencapai 5,0 t/ha 11.Potensi hasil mencapai 6,0 t/ha 12.Tahan terhadap hama wereng coklat bertipe 1,213.Agak tahan terhadap wereng coklat bertipe.Keunggulan padi IR 64 secara relatif dibandingkan IR 42 dan Ciherang menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu (BPTP) 2009sebagai berikut :1. Umur tanamannya lebih cepat ( 110 – 120 hari ) bandingkan IR 42 ( 135 -145hari ) dan Ciherang ( 116 - 125 hari ).2. Tinggi tanaman IR 64 ( 115 - 126 cm ) lebih tinggi dibandingkan IR 42 ( 90- 105 cm ) dan Ciherang ( 116 - 125 ).3. Anakan produktifnya IR 64 ( 20 - 35 batang ) sedangkan pada IR 42 ( 20 -25batang) dan Ciherang( 14 - 17 batang). 4. Tektur nasi IR 64 pulen sedangkan IR 42. Kelemahan padi IR 64 dibandingkan IR 42 dan Ciherang menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu (BPTP) 2009 :1.Potensi hasil IR 64 ( 6,0 t/ha ) lebih rendah dibandingkan IR 42 (7,0 t/ha) dan Ciherang (8,5 t/ha)2. IR 64 baik ditanam pada sawah irigasi dataran rendah dan kurang baik didaerah rawa karena produksinya kurang bagus sedangkan IR 42 baik ditanam di daerah rawa.c.Pemasaran berasKeberhasilan kegiatan pemasaran beras dapat dipengaruhi beberapafaktor antara lain yaitu pengangkutan, penyimpanan, penjemuran, kualitas/Mutuberas, dan harga.Margin pemasaran yang tinggi menunjukkan semakin besarnyaperbedaan antara harga yang dibayar konsumen dengan harga yang diterima olehprodusen. Hal ini disebabkan oleh prasarana lembaga pemasaran yang dimintauntuk konsumen dan penggunaan pemasaran yang berlebihan. Saluran pemasaranyang pendek mengakibatkan proses pemasaran akan lebih efisien. Biaya yangdiperlukan dalam proses pemasaran dapat di tekan seminimal mungkin.Sesuai dengan hukum ekonomi semakin pendek rantai pemasaran antaraprodusen dan konsumen maka nilai jual yang akan didapatkan semakin tinggi.Sebaliknya, semakin panjang rantai pemasaran yang dilewati oleh komodititersebut, maka nilai jual petani akan semakin kecil bahkan cenderung merugi. Upaya yang dapat dilakukan untuk mendapatkan harga jual yang tinggi dalampemasaran pertanian diantaranya yaitu:1.Memasarkan langsung ke konsumen 2. Memasarkan ke grosir atau pabrik 3.Memasarkan ke pedagang pengumpul. Sedangkan menurut Sudiyono (2001), lembaga pemasaran adalah badan usaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungandengan badan usaha atau badan usaha lainnya. d. Mata Rantai Pemasaran Berasstruktur aliran tataniaga beras pada garis besarnya ditemukan dua aliran, yaitu: (I) saluran pemasaran pertama, petani menjual gabah ke pedagang pengumpul sebagai kaki tangan pedagang kongsi. Dari pedagang pengumpul, gabah ditampung, dikelompokan menurut jenis varietas dan isalurkan oleh pedagang kongsi ke pedagang kilang. Dari pedagang kilang, gabah mulai mengalami perlakuan meliputi proses pengeringan, penggilingan dan grading beras. Beras yang telah dikemas dan diberi label selanjutnya disalurkan ke pedagang grosir. Dari grosir disalurkan ke pengecer-pengecer untuk dijual ke konsumen; dan (II) saluran pemasaran kedua, petani menjual gabah ke pedagang pengumpul yang merupakan kaki tangan pemilik penggilingan desa. Di penggilingan desa, gabah mengalami proses pengeringan, penggilingan dan grading beras. Selanjutnya beras dikemas dengan tampa diberi label dan disalurkan ke pengecer desa untuk dijual ke konsumen. Mayoritas petani (85%) menempuh saluran pemasaran pertama dan sisanya (15%) menempuh saluran pemasaran kedua. Beras penggilingan desa hanya mampu menembus konsumen local. Untuk meningkatkan volume penjualan, penggilingan desa mengadakan kontrak pengadaan beras dengan pihak tertentu untuk memenuhi kebutuhan karyawan (negri maupun swasta) yang jatah beras dari sub-dolog sudah berhenti, rata-rata jumlah kontrak sekitar 3,0-4,0 ton beras per musim.Komponen Biaya dan Margin PemasaranKegiatan pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan pada umumnya merupakan tiga fungsi utama dari tataniaga disamping fungsi pembiayaan (financing).Karakteristik dan Permasalahan Pelaku PasarDari kedua rantai pemasaran, pelaku pasar terdiri dari petani sebagai produsen gabah, pedagang, penggilingan kilang dan penggilingan desa, grosir, dan pengecer. Setiap pelaku pasar tersebut mempunyai karakteristik sendiri yang turut menyokong keberhasilan usahanya atau memecahkan permasalahan yang dihadapi.Mengenai karakteristik pelaku pasar dan pemasalahan yang dihadapi dapat diuraikan sebagai berikut:Petani Produsen GabahDilihat dari luas penguasaan lahan, rata-rata penguasaan lahan usahatani petani tergolong sempit, yaitu sekitar 0,25-0,50 ha/petani (Tabel 3). Keadaan ini sesuai dengan pendapatan Suryana dan Sudi (2001) yang menyatakan, bahwa setidaknya ada empat ciri utama petani padi Indonesia yaitu; (i)rata-rata skala penguasaan lahan usahatani tergolong sempit sekitar 0,3 ha/petani, (ii)sekitar 70 persen petani (khususnya buruh tani dan petani berskala kecil) termasuk golongan masyarakat miskin atau berpendapatan rendah, (iii)sekitar 60 persen petani adalah net consumer beras, dan (iv)rata-rata pendapatan usahatani memberikan kontribusi sekitar 30 persen dari total pendapatan rumah tangga.Umumnya petani sudah menanam varietas padi unggul baru seperti Way Apu Buru, IR-64, Ciherang, dan Aries namun demikian beberapa petani masih menanam varietas local “ramos” dengan alasan mempunyai rasa nasi enak dan harga jualtinggi. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga sampai musim panen berikutnya, rata-rata petani menyimpan gabah hasil panen sekitar 5,0-10,0 ku/musim dan sisanya dijual. Tabel 2 menginformasikan, bahwa 95 persen petani menjual langsung gabah setelah panen dalam bentuk gabah kering panen (GKP), dan sisinya (5%) dijual setelah penyimpanan dalam bentuk gabah kering simpan (GKS). Cara penjualan gabah langsung setelah panen sulit dihindari karena disamping petani mempunyai kebutuhan yang mendesak, juga mereka umumnya tidak mempunyai sarana pengeringan dan penyimanan yang memadai. Hali ini akan menyebabkan harga gabah petani anjlok turun karena suplai gabah waktu panen meningkat sehingga posisi tawar petani sangat lemah.Pedagang PengumpulPedagang pengumpul merupakan kaki tangan pedagang kongsi dan menjalankan fungsi untuk membeli gabah langsung dari sawah petani. Tabel 4menginformasikan, bahwa pedagang pengumpul merupakan grup terdiri dari 10 sampai 20 orang dengan wilayah pembelian beberapa desa yang berdekatan. Bentuk gabah yang dibeli mayoritas merupakan Gabah Kering Panen (GKP) tetapi di luar masa panen mereka juga membeli gabah stok dalam bentuk Gabah Kering Simpan (GKS).Dalam melaksanakan pembelian, pedagang pengumpul membawa karung dan timbangan selain itu beberapa pedagang membawa mesin perontok (power thresher)untuk disewakan. Kegiatan utama pedagang pengumpul melakukan penaksiran harga gabah, pengarungan, penimbangan, dan pembayaran. Dalam satu musim, mereka mampu membeli gabah 200-300 ton dimana gabah hasil pembelian langsung dikirim ke di pedagang kongsi pada hari yang sama. Pedagang KongsiDalam rantai tataniaga, pedagang kongsi merupakan pihak yang menjual gabah ke pedagang kilang. Satu pedagang kongsi mempunyai 3-4 group pedagang pengumpul dengan jangkauan wilayah pembelian meliputi beberapa kecamatan yang berdekatan. Dalam satu musim, pedagang kongsi dapat pembelian gabah 600-800 ton. Di pedagang kongsi, gabah dikelompokan berdasarkan bentuk butiran dan varietas. Dengan tampa perlakuan yang berarti, selanjutnya gabah dikirim langsung ke pedagang kilang pada hari yang sama (paling lambat tersimpan satu hari) untuk menghindari penurunan mutu. Untuk membuat atau membina ikatan pembelian dengan petani, pedagang kongsi memberikan pinjaman modal usahatani (productioncredits) atau kebutuhan lain dengan suku bunga rendah (1-2%/bulan), dimana pelaksanaan di lapangan dikerjakan oleh para pedagang pengumpul.Permasalahan utama yang dihadapi pedagang kongsi adalah cara penentuan mutu gabah oleh pedagang kilang yang selalu merugikan pihak mereka. Penetapan mutu gabah hanya dilakukan berdasarkan penglihatan dan sentuhan tangan sehingga terasa kurang objektip. Selain itu, keberadaan gabah basah di pedagang kongsi tidak bisa ditahan lebih lama (menghindari penyusutan dan penurunan mutu), sehingga pedagang kilang bisa lebih leluasa memainkan harga beli. Sementara itu, pedagang kongsi yang memasok gabah ke luar Kabupaten akan menghadapi permasalahan lain berupa pungutan baik yang resmi maupun tidak resmi disepanjang jalur pengiriman.Pedagang KilangPedagang kilang umumnya berada di Ibukota Kabupaten dan mempunyai wilayah pembelian beberapa kecamatan. Perusahaan kilang besar pada umumnya didominasi oleh warga negara Indonesia keturunan (Cina). Dalam proses pembelian gabah, pedagang kilang mengklasifikasi mutu gabah ke dalam 4 (empat) golongan untuk menentukan tingkat harga. Mutu gabah diperiksa hanyaberdasarkan hasil penglihatan dan pegangan tangan terutama mengenai kelompokgabah, kadar air, kdanungan kotoran, dan gabah hampa.Grosir dan PengecerPedagang grosir banyak yang berstatus rangkap yaitu selain pedagang grosir juga pengecer. Grosir berlokasi di ibu kota Kabupaten atau Kecamatan yang berfungsi untuk mensuplai beras ke pedagang-pedagang pengecer baik di pasarpasar, warung maupun toko. Pedagang grosir dapat secara bebas memilih ke kilang mana saja mereka memesan beras sesuai dengan permintaan konsumen sehingga mereka bisa menawarkan banyak jenis merk beras ke konsumen. Pengecer dapat menjual beras baik dalam bentuk kemasan pabrik maupun secara eceran sesuai permintaan konsumen akhir. Di tingkat grosir dan pengecer pada umumnya tidak ditemukan permasalahan yang berarti.Penggilingan Padi DesaTujuan utama penggilingan adalah menyediakan jasa penggilingan untuk petani lokal. Rata-rata volume gabah yang digiling mencapai 50 ton/musim dengan upah giling 8 persen dari beras yang dihasilkan. Untuk membuat ikatan dengan petani, baik sebagai pelanggan jasa penggilingan maupun penjualan gabah, pemilik penggilingan juga memberikan pinjaman modal usahatani (production credits) dan lainya dengan bunga 1-2%/bulan. Selain itu, pemilik penggilingan mengizinkan petani untuk mempergunakan pasilitas penjemuran atau penyimpanan gabah dengan tampa harus menyewa. Permasalahan yang dihadapi oleh penggilingan desa adalah disamping kelemahan dalam permodalan, juga fasilitas pengolahan gabah/beras yang dimiliki umumnya jauh lebih rendah dibdaningkan fasilitas yang dimiliki pedagang kilang, terutama fasilitas pengeringan dan penggilingan. Dalam pengeringan, mereka hanya mengandalkan keberadaan sinar matahari sehingga proses pengeringanmembutuhkan waktu cukup lama dan sangat tergantung kepada cuaca. Karena keterbatasan tersebut, penggilingan desa menghasilkan mutu produk yang kurang baik, terutama persentase beras pecah dan kandungan kotoran/komponen lain sehingga kurang disenangi oleh konsumen. Damardjati dan Made Oka A. (1992) menyatakan bahwa konsumen indonesia menyukai beras lebih putih, mengkilap, butiran utuh, sedikit kuning dan banyak kandungan amilose. Karakteristik produk tersebut selain kandungan amilose, ditentukan juga oleh proses pascapanen dan proses-proses lainya yang lebih baik. Selain itu, konsumen beras menyukai produk-produk kemasan berlabel seperti produk yang dihasilkan oleh pedagang kilang. Barang berlabel akan memberikan keuntungan bagi konsumen yaitu untuk identifikasi pengenalan kualitas suatu barang dan adanya jaminan pembeli tidak tertipu sebaliknya pembuat berusaha tidak mengecewakan publik (Panglaykim dan Hazil, 1960).Kesimpulan 1. Struktur aliran tataniaga gabah/beras pada garis besarnya ditemukan dua aliran, yaitu: (I) saluran pemasaran pertama, petani menjual gabah ke pedagang pengumpul sebagai kaki tangan pedagang kongsi. Dari pedagang pengumpul, gabah disalurkan oleh pedagang kongsi ke pedagang kilang. Dari pedagang kilang, gabah mulai mengalami perlakuan meliputi proses pengeringan, penggilingan dan grading beras. Beras yang telah dikemas disalurkan ke pedagang grosir, dari grosir disalurkan ke pengecer-pengecer untuk dijual ke konsumen; dan (II) saluran pemasaran kedua, petani menjual gabah ke pedagang pengumpul yang merupakankaki tangan pemilik penggilingan desa. Di penggilingan desa, gabah mengalami proses pengeringan, penggilingan dan grading beras. Selanjutnya beras dikemas dan disalurkan ke pengecer desa untuk dijual ke konsumen. Mayoritas petani (85%) menempuh saluran pemasaran pertama dan sisanya (15%) menempuh saluran pemasaran kedua.2. Jenis pengeluaran utama dari pedagang pengumpul/kongsi, grosir dan pedagang pengecer hampir sama meliputi biaya transportasi dan bongkar muat. Pada saluran pemasaran I besar biaya pemasaran pedagang pengumpul/kongsi grosir dan pedagang pengecer per kilogram beras. Jumlah biaya pemasaran paling tinggi terjadi pada pedagang kilang, yaitu Rp. per kilogram beras. Margin pemasaran (marketing margin) paling tinggi berturut-turut terjadi pada pedagang kilang sebanyak, pedagang pengumpul/kongsi sedangkan pedagang grosir dan pengecer masing-masing dan Margin keuntungan (net benefit margin) di kilang mencapai Pada saluran Permasalahan utama banyak ditemukan di tingkat petani sebagai produsen gabah yaitu kelemahan permodalan sehingga terjerat ke pihak pelepas uang (moneylender). Disamping itu mayoritas petani (95%) menjual gabah langsung setelah panen sehingga harga jual gabah jatuh. Fasilitas pengolahan hasil yang dimiliki penggilingan desa kurang menunjang, sehingga produk mereka kalah bersaing dengan produk pedagang kilang yang memiliki fasilitas pengolahan lebih baik.SaranKebijakan-kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani harus terus ditingkatkan seperti pemberian pinjaman/kredit usahatani, mengaktipkan lumbung desa, introduksi fasilitas pengolahan hasil yang lebih baik, dan meningkatkan peran pelaku pasar dalam kegiatan pengadaan pangan oleh Dolog/Sub dolog setempat. Di buat oleh Desy Natalia,SPPenyuluh Pertanian MudaDinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab Ogan Ilir