Kedelai merupakan salah satu komoditi strategis karena kedelai merupakan bahan baku makanan favorit masyarakat Indonesia dari anak-anak sampai orang dewasa. Siapa tak kenal dengan makanan tahu, tempe, susu kedelai, aneka kripik tempe dan makanan berbahan baku kedelai lainnya yang dengan mudah tersedia di maja makan. Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri makanan dan minuman di Indonesia, kebutuhan akan kedelai juga semakin meningkat. Produksikedelai dalam negeri baru dapat memenuhi 30-40% dari kebutuhan sehingga 60-70% harus impor. Salah satu upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan kedelai nasional adalah mengembangkan varietas unggul berdaya saing tinggi oleh Badan Litbang Pertanian. Hingga tahun 2011, Badan Litbang Pertanian telah melepas 73 varietas unggul kedelai, diantara varietas unggul kedelai tersebut, varietas Anjasmoro yang banyak disukai petani. Menurut Badan Litbang Pertanian, dari area panen tahun 2012 mencapai 190.597 ha dengan jumlah petani pengguna 32,1%, urutan kedua varietas Wilis dengan luas are panen 93.187 ha dengan jumlah petani pengguna sebesar 17,9%. Varietas Mahameru beada pada urutan ketiga dengan luas panen 78.190 ha dengan petani pengguna sebesar 9,1% dan varietas Grobogan disukai oleh 11,2% petani dengan luas panen 71.576 ha. Diskripsi kedelai AnjasmoroUntuk mengetahui keunggulan keunggulan kedelai varietas Anjasmoro sebagai berikut: 1) Asal : seleksi massa dari populasi galur murni Mansuria; 2) Daya hasil : 2,03-2,25 ton/ha; 3) Warna hipokotil : Ungu; 4) Warna epikotil : Ungu; 5) Warna daun : Hijau; 6) Warna bulu : Putih; 7) Warna bunga : Ungu; 8) Warna kulit biji : Kuning; 9) Warna polong masak : Coklat muda; 10) Warna hilum : Kuning kecoklatan;11) Bentuk daun : Oval; 12) Ukuran daun : Lebar; 13) Tipe tumbuh : Determinit; 14) Umur berbunga : 35,7-39,4 hari; 15) Umur potong masak : 82,5-92,5 hari; 16) Tinggi tanaman : 64-68 cm; 17) Percabangan 2,9-5,6 cabang; 18) Jumlah buku batang utama : 12,9-14,8; 19) Bobot 100 biji: 14,8-15,3: gram; 20) Kandungan protein : 41,8-42,1%; 21) Kandungan lemak : 17,2-18,6%; 22) Kerebahan : Tahan rebah; 23) Ketahanan terhadap penyakit : Moderat terhadap karat daun; dan 24) Sifat lain : Polong tidak mudah pecah. Dengan diskripsi tanaman tersebut, kedelai anjasmoro layak menjadi varietas kedelai masa depan. Budidaya kedelaiKedelai tanaman tanaman palawija yang mudah dibudidayakan, namun dalam melakukan budidaya kedelai ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: :Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai1. Tanah, tanaman Kedele dapat tumbuh pada berbagai Jenis tanah dengan syarat Drainase dan aerasi tanah cukup baik serta ketersediaan air yang cukup selama masa pertumbuhan. Kedele dapat tumbuh pada jenis tanah alluvial, regosol grumosol, latosol dan andosol. Untuk tanah podsolik merah kuning, dan tanah yang mengandung pasir kwarsa, agar diberi pupuk organik, fosfat dan kapur;.2. Iklim, dengan curah hujan :optimal 100 -200 ml/bulan hujan merata, temperatur : antara 25 – 27 derajat celcius, dengan penyinaran penuh (min. 10 jam/hari), Kelembaban : Rata-rata 50%, Tinggi dari permukaan laut : 0 – 900 meter optimal 650 meter diatas permukaan laut.3. Air, curah hujan sangat diperlukan pada saat pertumbuhan/masa vegetative, dan curah hujan kurang pada saat masa pembungaan/generatif dan pematangan. Persiapan LahanPengolahan lahan dimulai sebelum musim hujan, tanah diolah dengan bajak dan garu/cangkul hingga gembur. Buat bedengan dengan lebar 1 meter. Buat saluran drainase untuk pengaturan air hujan pada setiap dan di sekeliling petakan sedalam 30 cm dan lebar 50 cm. Pada masa pertumbuhan tanaman tidak boleh tergenang air.. PemupukanUntuk meningkatkan kesuburan tanah, pada saat pengolahan tanah agar diberikan pupuk kandang. Selain untuk memperbaiki kondisi tanah juga dapat mengurangi penggunaan pupuk buatan. Pada lahan yang kurang subur, dosis pupuk kandang ± 5 ton/Ha.Tanaman kedelai membutuhkan pH tanah netral (5 – 6),. Sehingga pada tanah yang masam perlu diberikan kapur dengan memberikan dolomit dengan dosis 2.000 kg/Ha ( 200 gr/m²). Dengan perlakuanini diharapkan mampu menciptakan pH tanah yang optimal.Bersamaan dengan pupuk kandang dan dolomite, tanah juga ditambahkan Trichoderma yang berfungsi sebagai dekomposer, mempercepat pelapukan bahan-bahan organik baik pada kompos ataupun bahan organik dalam tanah sehingga dapat segera diserap oleh tanaman. Untuk mencegah serangan penyakit, tanaman.diberikan Trichoderma dengan dosis 400 gr/Ha. Selain pupuk organik, juga diberikan pupuk Urea 50 kg/ha, SP-18 75 kg/ha dan KCl 50 kg/ha. Pupuk diberikan 2 kali dalam satu musim,Pemupukan I (pertama) :Pupuk diberikan sebelum tanam dengan cara menaburkan pupuk pada garis tanam kemudian pupuk dicampur dengan tanah secara merata, dosis pupuk I (pertama) yang diberikan 2/3 dari dosis Urea dan KCl (Urea:33 Kg/Ha ; KCl: 33 Kg/Ha), sedangkan Pupuk SP-18 diberikan seluruhnya pada pemupukan dasar.Pemupukan II (Kedua) : Pupuk diberikan pada saat tanaman berumur 20– 30 HST,menjelang tanaman kedele berbunga dengan cara ditabur mengelilingi tanaman dengan jarak ± 10 cm dari batang. Dosis pupuk yang diberikan 1/3 dari dosis Urea dan KCl (Urea: 17 Kg/Ha ; KCl: 17 Kg/Ha). PenanamanDilakukan dengan cara ditugal, dan satu lubang diisi 3 biji perlubang dengan jarak tanam 30 X 30 cm. Sebelum ditanam dilakukan seed treatment (perlakuan benih), dilakukan inokulasi dengan tanah yang bekas ditanami kedelai Penyiangan gulma dan pengendalian Hama dan penyakitPenyiangan dilakukan sebanyak 2-3 kali sebelum tanaman berbunga dan Penyiangan terakhir sebaiknya bersamaan dengan pembubunan untuk mengurangi tanaman rebah.Pengendalian Hama dan Penyakit dilakukan dengan menerapkan system Pengendalian Hama Terpadu (PHT), dengan memanfaatkan tekhnologi tepat guna, diantaranya menggunakan Biopestisida atau pestisida oraganik jika serangan hama masih dibawah ambang ekonomi dan menggunakan pestisida kimia jika serangan hama dan penyakit diatas ambang ekonomi. Hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman kedelai antara lain Hama Perusak Daun, Kutu Daun, Penggerek/ perusak polong. Sedang penyakit yang perlu diwaspadai adalah Penyakit Karat Daun stadia serangan 7 s/d 60 HST, Virus stadia serangan 7 s/d 60 HST dan Bakteri Hawar Daun stadia serangan 7 s/d 60 HST.Panen Dan Pasca Panen1. Panen, kedelai harus dipanen pada tingkat kemasakan biji yang tepat. Panen terlalu awal menyebabkan banyak biji keriput, panen terlalu akhir menyebabkan kehilangan hasil karena biji rontok. Ciri-ciri tanaman kedele siap panen adalah : Daun telah menguning dan mudah rontok Polong biji mengering dan berwarna kecoklatan Panen yang benar dilakukan dengan cara menyabit batang dengan menggunakan sabit tajam dan tidak dianjurkan dengan mencabut batang bersama akar. Cara ini selain mengurangi kesuburan tanah juga tanah yang terbawa akan dapat mengotori biji.2. Pasca Panen, dengan melakukan pengeringan secara alami yaitu kedelai dijemur langsung dibawah panas matahari dipenjemuran yang berlantai atau beralas plastik hitam. Plastik hitam menyerap panas sehingga diharapkan kedele dapat mempercepat proses pengeringan.3. Pembijian, dapat dilakukan dengan beberapa cara digebuk/dipukul; diatas anjang-anjang; menggunakan mesin(power tresher)4. Pembersihan dapat dilakukan dengan cara ditampi; Disilir; Menggunakan mesin pembersih (winower)5. Pewadahan dan Penyimpanan, biji kedele yang telah bersih ditempatkan dalam wadah yang bersih bebas hama penyakit,tidak bocor serta ditutup rapat. Penyimpanan Tempat penyimpanan biji kedele harus teduh, kering, dan bebas hama penyakit, kadar air harus 9-14%. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Kedelai Anjasmoro Berkembang Luas diSentra Produksi, dalam Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Vol 36 No.2 Th 2014;.dan 2) Dihimpun dari beberapa sumber