Berkurangnya curah hujan dan terjadinya kemarau panjang adalah dampak langsung dari EL Nino yang bisa memicu masalah lain pada sektor pertanian, seperti gagal panen dan melemahnya ketahanan pangan. Di sejumlah daerah, lahan pertanian mulai terancam kekurangan air akibat menyusutnya debit air di waduk. Beberapa usaha antisipsi pertanaman termasuk membantu petani pada saat menjelang kejadian dan pasca kejadian dapat disampaikan sbb: 1. Langkah Operasional Antisipatif; Harus lebih difokuskan untuk menyiapkan upaya mengurangi dampak atau bahkan meniadakan dampak yang akan timbul akibat cekaman El Nino. Langkah tersebut secara berjenjang antara lain: (1) menyesuaikan kalender dan pola tanam terkait kondisi iklim lokal (basah, normal dan kering); (2) menanam benih unggul tanaman pangan tahan kekeringan dan berumur genjah, seperti Situ Bagendit, Situ Patenggang, Impari 10, Silugonggo, Limboto,Towuti, IR 66 dan Dodokan untuk padi, Srikandi Kuning, Lamuru, Sukmaraga dan Anoman untuk jagung, Argomulyo dan Burangrang untuk Kedele,Singa dan Jerapah untuk kacang tanah, serta Kutilang untuk kacang hijau; (3) Menaikan muka air menggunakan teknologi dam parit untuk mengari lahan budidaya; (4) Pompanisasi pada lokasi terpilih, atau areal kaya sumber air; (5) Menerapkan teknologi irigasi intermiten, bergilir, macak-macak, dan irigasi tetes; (6) Meningkatkan efisiensi pemanfaatan air pada daerah daerah rawan kekeringan, termasuk didalamnya adalah memperbaiki saluran irigasi; (7) Menyiapkan sarana dan prasarana untuk mentransfer air antar wilayah (interbasin transfer); (8) Mendorong petani yang memiliki aksesibilitas besar terhadap air pada daerah-daerah kaya sumber air (9) Melakukan budidaya tanaman bernilai ekonomi tinggi di luar musim untuk meningkatkan pendapatan. (10)Melakukan pengawalan terhadap penerapan teknologi tersebut di atas, mendukung program antisipasi kekeringan.2. Managemen Dampak;Merupakan upaya yang dilakukan apabila fenomena El Nino menguat sehingga dapat menimbulkan bencana iklim. Hal ini perlu dilakukan karena Iklim tropis bersifat sangat dinamis dan eratik, namun iklim juga memiliki sifat kekukuhan yang tidak berubah dalam waktu yang cepat.Managemen dampak bersifat eksklusif dan hanya dapat dilakukan bila ada intervensi struktural untuk meringankan beban masyarakat yang terkena bencana iklim. Artinya langkah ini menjadi domain pemerintah provinsi, kota dan kabupaten sebagai eksekutor di wilayah masing-masing. Managemen dampak tersebut antara lain: (1) Membentuk tim pokja penanggulangan bencana iklim; (2) Mengalokasikan dana tanggap darurat untuk menanggulangi bencana iklim, yang juga dapat dikembangkan dalam bentuk asuransi resiko pertanian; (3) Menginstruksikan untuk melakukan upaya ekstraktif memanfaatkan kekayaan pangan lokal, seperti sagu secara arif; (4) Meningkatkan transfer air antar wilayah menggunakan saran dan prasarana yang telah disiapkan, termasuk transfer air baku untuk konsumsi; (5) Melakukan pelarangan terhadap kegiatan budidaya pertanian tanaman semusim (pangan dan sayuran) pada daerah-daerah terkena dan rawan kekeringan;(6) Menetapkan langkah cepat pembagian air secara proporsional (water sharing) untuk kebutuhan rumah tangga, industri, parawisata dan pertanian dalam satu kawasan DAS; dan (7) Menyiapkan stok beras bersubsidi (rasdi) pada wilayah wilayah terkena kekeringan dan bencana iklim, yang dihitung berdasarkan kecukupan kalori per kapita. 3. Keuntungan/Peluang;Pada akhirnya perlu disampaikan bahwa, El Nino tidak harus selalu diartikan membawa bencana, karena pada wilayah wilayah yang memiliki rawa lebak, lahan pasang surut, lahan tergenang (polder) dan sejenisnya, El Nino justru memberi kesempatan untuk melakukan perluasan areal tanam. El Nino adalah satu keniscayaan dinamika iklim global yang pasti akan datang dengan siklus dan pola tertentu, sehingga antisipasi terhadap kejadiannya harus disiapkan.4. Kegiatan Padat karya / Bansos Produktif bagi Petani.Falsafah kegiatan ini adalah, membantu petani dengan tidak memberikan uang tunai tanpa bekerja, karena selain tidak mendidik, tidak adil, dan petani tidak ada usaha untuk mendapatkannya. Dengan pertimbangan tersebut apapun yang memungkinkan dikerjakan dapat dikerjakan, dan sangat baik apabila pekerjaan itu produktif. Berhubung kegiatan bantuan ini penting dan mendesak maka bentuk kegiatanya yang paling tepat adalah padat karya melalui Bantuan Sosial (Bansos), untuk mengerjakan Prasarana Pertanian seperti; Jalan Produksi/Desa, Bendung, Dam, Embung, Jaringan Irigasi, baik pembangunannya maupun pemeliharaannya. Dengan upah dan absensi harian model gotong royong pembayaran perminggu dapat diberikan langsung ke petani yang mengalami puso.5. Kegiatan Pasca Elnino bagi Petani.Dengan tetap berprinsip membantu petani yang mengalami kesulitan, maka beberapa bantuan yang dapat diberikan ke petani pada akhir El Nino diakhir tahun antara lain: (1). Bantuan saprodi seperti benih, pupuk, (2) Pengolahan tanah menuju penanaman serempak melalui brigade tanam; (3). Pendampingan penyuluh secara khusus dan berkesinambungan.Penyunting : Ir. Ali Bosar Harahap MMEmail : Ali.bosarharahap@yaho.co.id Sumber : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, dan Sumber lain