Loading...

Antisipasi Serangan Ulat Grayak (fall Army Worm) Spodoptera Frugiperda

Antisipasi Serangan Ulat Grayak (fall Army Worm) Spodoptera Frugiperda
tanaman jagung pada saat ini merupakan primadona bagi petani karena pangsa pasar dan harganyapun cukup tinggi selain itu biaya budidaya jagung lebih kecil dibandingka dengan budidaya padi dan resiko kekagalan lebih kecil dibandingkan tanaman padi. dalam budidaya tanaman jagung ada beberapa jenis hama yang biasanya menyerang di jawa tengan antara lain : atherigona exigua (lalat bibit) agrotis ipsilon (ulat tanah) spodoptera litura (ulat grayak) mythimna separata (perusak daun) nezara viridula (perusak daun) valanga nigricornis (perusak daun) rhopalosiphum maydis (kutu daun) ostrinia furnacalis (penggerek batang) helicoperva armigera (penggerek tongkol) locusta migratoria (perusak daun) namun akhir-akhir ini dikejutkan dangan hama ulat grayak spesies spodoptera frugiperda baru yang belum pernah ditemukan di indonesia baru pada bulan maret 2019 ditemukan di sumatra dan banten dan juli 2019 sudah ditemukan di jawa tengah. ada beberapa factor yang perlu diwaspadai dengan perkembangan ulat grayak jenis baru (fall army worm) yang kita singkat faw antara lain : faktor internal keperidian siklus hidup sex ratio kemampuan terbang * faktor eksternal makanan biotik (musuh alami dan kompetitor) abiotik (iklim) bagaimana perkembangan faw ? larva merusak tanaman, imago yang menyebar. imago penerbang yang kuat, dengan bantuan angin, dapat terbang sampai 100 km per hari. larva masuk ke dalam bagian tanaman jagung dan aktif makan di sana. di tropis, contoh afrika, serangan berat dapat terjadi sepanjang tahun, indonesia? kecepatan reproduksi cukup tinggi; betina dapat bertelur 1844 butir dan antar generasi dapat overlapping invasive species perjalanan faw : (kemampuan penyebaran) 2016 : afrika, menyebar cepat di afrika 2018 (july) : di selatan india, dan februari 2019 invasi 10 dari 29 negara bagian 2018 : china, thailand, bangladesh, myanmar 18 dari 33 privinsi di china terinvansi 2019 (maret) : indonesia (sumatera barat, aceh, lampung, lalu sumatera utara, jambi, bengkulu, palembang) 2019 (mei) : malaysia, vietnam, dan taiwan 2019 (juni) : banten dan tegal faw sangat merusak dan polifag berbagai jenis tanaman pangan di dunia. dapat merusak semua tahap perkembangan tanaman jagung cabi (2018) memperkirakan kerugian pada tanaman jagung di 12 negara afrika antara 4 sampai 18 juta ton per tahun senilai us$1-4.6 juta/tahun nicaragua kerusakan 15-73%, india produksi jagung turun hingga 50% dan keseluruhan dataran china tahun depan akan terinfestasi oleh faw. fao kerusakan bervariasi hingga 40% seringkali larva terbawa oleh sayuran, buah, atau tanaman hias yang dikirim dari amerika ke eropa dengan transportasi udara. bagaimana indonesia? inang lain kubis, bit, berbagai jenis bawang, kacang polong, kacang tanah, kedelai, kapas, kentang, tomat, apel, anggur, jeruk, pepaya, peach, strawberry dan tebu, cabai, mentimun, berbagai jenis tanaman hias, padi. beberapa gulma juga dapat sebagai inang spt keluarga kangkung, teki, dan bayam konsekuensi: semakin sempit pilihan dalam rotasi tanaman hama dapat selalu ada di lapangan tingkat kehati-hatian semakin tinggi semakin kompleks dalam pengendalian serangan : pada jagung, menyerang tanaman jagung muda belum ditemukan menyerang inang selain jagung siklus hidup fase rentang waktu (hari) telur* 2-3 larva** 14-21 pupa*** 9-13 imago 12-14 kelompok telur, 150-200 telur/kelompok **dapat bersifat kanibal ***berpupa di tanah bagaimana dapat sampai di indonesia? mungkinkah lewat impor sayuran? mungkinkah lewat impor jagung sebagai pakan atau sebagai bibit induk? penerbang yang kuat tertarik cahaya bantuan angin sangat mungkin undang-undang no.12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman bagian keenam: perlindungan tanaman pasal 20 perlindungan tanaman dilaksanakan dengan system pengendalian hama terpadu pelaksanaan perlindungan tanaman menjadi tanggung jawab masyarakat dan pemerintah pasal 21 perlindungan tanaman dilaksanakan melalui kegiatan: pencegahan masuknya opt dari luar pengendalian opt, eradikasi opt peraturan pemerintah no. 6 tahun 1995 tentang perlindungan tanaman bab i: ketentuan umum pasal 2 : perlindungan tanaman dilaksanakan pada masa pratanam, pertumbuhan tanaman dan masa pascapanen. pasal 10: berbagai teknik/strategi pengendalian termasuk pestisida. pasal 15 : penggunaan pestisida utk opt harus tepat guna. pasal 19 : penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir dengan dampak minimal. pengelolaan tanaman resisten seed treatment tanam serempak tumpang sari non inang musuh alami eksplorasi musuh alami dan pengujiannya bacillus thuringiensis baculovirus spodoptera beauveria bassiana chelonus spp. cotesia metarhizium anisopliae microplitis manilae steinernema sycanus telenomus trichogramma insektisida belum ada yang terdaftar laporan dari bbrp lokasi, banyak insektisida tidak efektif (jenis bahan aktif? teknik aplikasi?) kerentanannya belum diketahui, trial and error belajar dari negara lain; rynaxypir, emamectin benzoat, cyantaniliprol, thiomethoxam berkaitan dengan keberadaan faw di indonesia, bukan saatnya lagi saling menyalahkan namun yang perlu dilakukan adalah kita bersama-sama mengelola hama ini sehingga tidak menimbulkan kerugian perlu meningkatkan kewaspadaan. untuk itu, kegiatan monitoring dan pendampingan perlu diintensifkan. selain itu penyebaran informasi cara pengelolaan faw perlu diketahui oleh semua stakeholders. oleh Siswanta Hadi Purnama THL TBPP bpp kec. jatinom kab. klaten