Kenaikan produktivitas tanaman padi atau hasil (ton GKG/ha) merupakan salah satu strategi pencapaian swasembada beras Nasional yang sangat penting, karena selain meningkatkan produksi juga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Upaya tersebut dapat dicapai melalui aplikasi komponen budidaya yang tepat, sesuai dengan karakteristik lokasi dan varietas tanaman, serta menggunakan pendekatan sistem (sistem, lingkungan, proses dan output). Hasil gabah yang tinggi merupakan hasil proses dalam tanaman yang optimal, didukung oleh proses di dalam tanah dan lingkungan yang sesuai. Proses yang terjadi tersebut perlu diketahui secara ilmiah, sehingga dapat dicarikan komponen teknologi yang sesuai. Dengan demikian bisa dijadikan dasar ilmiah/sain yang relevan dengan perbaikan kondisi lingkungan dan tanah serta menggunakan teknologi budidaya pilihan yang efektif dan efisien dalam meningkatkan hasil tanaman padi. Faktor lingkungan abiotik (kondisi kesuburan, fisik dan biologi tanah, ketersediaan dan kualitas air, serta ada tidaknya faktor penghambat pertumbuhan tanaman) perlu dievaluasi dan diterjemahkan menjadi suatu kebutuhan cara budidaya. Misalya: sistem pengairan dan drainase diperlukan untuk lahan sawah keracunan besi; perlunya pemberian hara mikro pada tanah ber-pH tinggi, bahan organik untuk tanah bertekstur kasar, pemberian kapur untuk tanah masam dsb. Teknologi pemecahan masalah setempat perlu diterapkan berdasarkan informasi karakteristik lokasi. Karakteristik lokasi lainnya seperti status hara menandakan diperlukannya hara-hara tertentu (macam dan jumlah pupuk tertentu) untuk pertumbuhan tanaman yang optimal. Tekstur tanah kasar memerlukan pemberian pupuk urea displit 3x, sedangkan pada tanah bertekstur halus pemberian dapat dilakukan 2x (Makarim 2014). Faktor lingkungan biotik, yaitu daerah endemik penyakit dan hama tertentu perlu menerapkan varietas yang toleran terhadap hama/penyakit tersebut, serta penerapan PHT yang sesuai. Bila varietas yang akan ditanam sudah terpilih (misalnya berdasarkan toleran penyakit tertentu, dsb.) selanjutnya dicari jarak tanam yang sesuai. Varietas anakan sedikit lebih sesuai untuk ditanam lebih rapat (hasil tinggi mengandalkan populasi), sebaliknya varietas anakan banyak ditanam lebih lebar (hasil tinggi dengan memanfaatkan banyaknya anakan). Pertanaman padi yang cukup populasi, sehat (cukup hara dan terhindar hama dan penyakit), sesuai varietasnya dengan lingkungan dan keinginan petani akan berproduktivitas tinggi Tahapan PelaksanaanKarakterisasi lokasi dan keterkaitannya dengan kebutuhan teknologi spesifik, apa bila ketersediaan air terbatas untuk optimasi luas lahan per-komoditi dan pola rotasi dalam setahun. Untuk menghemat dalam pemberian air ke petakan pertanaman yaitu dengan cara buka-tutup saluran air, dan gunakan varietas yang lebih toleran kekeringan, Apa bila ketersediaan air berlimpah, umumnya terjadi sewaktu musim hujan ekstrim, daerah rawa/pasang surut/ sawah rawan banjir, perlu pengaturan air agar pertanaman padi tidak terendam. Varietas padi umumnya akan mati apabila terendam penuh selama 7-10 hari. Varietas toleran rendaman (Inpara 4, Inpara 5, Ciherang dsb.) baru mampu bertahan terendam penuh selama 14 hari. Bila genangan air tinggi (>10 cm) jumlah anakan atau malai per-rumpun akan menurun.Untuk memberikan kondisi tanah yang ideal pada tanaman, upayakan air mengalir di atas tanah secara perlahan, air yang mengalir akan lebih dingin dibandingkan air tergenang karena terjadinya pelepasan panas, sehingga tidak menghambat kesehatan tanaman. Air yang mengalir membuang gas-gas dan asam-asam toksik hasil respirasi akar dan hasil perombakan bahan organik tanah. Sebaliknya, bila air tidak tergenang diam dapat menyebabkan cepatnya pertumbuhan jenis lumut di permukaan air, sehingga pelepasan gas CO2 dari tanah dan masuknya gas O2 ke tanah akan terhambat, tanah menjadi reduktif sehingga terbentuknya gas-gas H2S yang dapat menghambat pertumbuhan akar tanaman, serta mendorong terjadinya keracunan besi. Kemasaman tanah (pH) menunjukkan secara umum kondisi tanah secara kimia, fisiko kimia, fisik dan biologi. Tanah masam; akan terjadi keracunan Al, teknologi yang diberikan yaitu dengan pemberian kapur, bahan organik fiksasi P tinggi. Pemberian pupuk P, bahan organik, asam organik, asam sulfat, keracunan besi yaitu dengan pengaturan drainasi dan pencucian lahan. Tanah alkalin (pH tinggi); kahat hara mikro diperlukan pemberian Zn, Cu, S (ZA), pengaturan air, bahan organik. Tanah salin (konsentrasi Na+ dalam larutan tanah tinggi) akan mengakibatkan tanaman sulit menyerap air, termasuk hara, juga berkompetisi dengan hara kation lain (K+, Ca++ dan Mg++) dalam penyerapannya oleh tanaman, seringkali tanaman menjadi layu dan kering. Pencucian garam dengan cara menggenangi lahan lalu dibuang/draenasi. Sewaktu pengolahan tanah dianjurkan pemberian bahan organik diperlukan untuk mengikat/menahan kation-kation bebas dalam air, sehingga konsentrasinya dalam larutan tanah menurun dan pertumbuhan tanaman padi menjadi pulih. Tekstur tanah berat (liat tinggi), permukaan tanah akan retak apabila tanah kekeringan, yang berdampak terjadinya pemutusan akar tanaman. Pemberian bahan organik, dapat mengurangi keretakan tanah; pengaturan air perlu untuk mencegah tanah tidak sampai kering retak. Ringan (pasir tinggi) kemungkinan kahat K, karena hara K mudah tercuci, maka perlu ditambahkan pupuk K dalam 2x pemberian bersamaan dengan waktu pemberian urea. Pemberian N displit 3 kali untuk mengurangi pencucian NH4+. Berikan bahan organik, mencegah pencucian dan meningkatkan KTK tanah.Kandungan C organik tanah rendah, maka kebutuhan hara N pupuk lebih tinggi, aktivitas mikroorganisme kurang, untuk itu berikan pupuk kandang dan pupuk hayati. Apa bila kandungan C Tinggi, aktivitas mikroorganisme tinggi, KTK meningkat, mengurangi efek keracunan Al terhadap tanaman; daya menahan air tinggi, sehingga tanaman tidak mudah kekurangan air. Ruslia Atamaja (rusliatmaja.atmaja326@gmail.com)Sumber : Puslitbang Tanaman Pangan 2014