Aplikasi Trichoderma sp dan PGPR Dalam Budidaya Bawang Merah
Bawang merah (Allium cepa L. var. Ascalonicum) merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan yang secara intensif telah lama dibudidayakan oleh petani karena memiliki keunggulan baik secara ekonomi maupun dari segi manfaatnya sebagai bahan bumbu masakan dan khasiatnya sebagai obat herbal. Permasalahan yang sering dihadapi dalam melakukan budidaya bawang merah adalah penggunaan pupuk anorganik yang berlebih dan terus menerus yang menyebabkan tanah olah menjadi rusak sehingga perkembangan akar dan umbi tanaman menjadi tidak sempurna. Selain itu, kondisi cuaca yang tidak menentu juga menjadikan lingkungan tumbuh tanaman rentan terhadap serangan hama dan penyakit yang menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman kurang maksimal. Kehilangan hasil bawang merah akibat serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) masih tinggi. Penyakit layu fusarium merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang bawang merah. Penyakit layu fusarium disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum L, yang merupakan jamur tular tanah. Layu fusarium mudah dijumpai pada musim hujan, sehingga perlu tindakan preventif pada lahan dan tanaman. Tindakan preventif lebih dianjurkan karena lebih efektif dan biaya lebih murah bila dibandingkan dengan pengendalian setelah serangan. Ada beberapa cara untuk mengendalikan penyakit layu fusarium. Di antaranya dengan menggunakan agens hayati dari jamur Trichoderma sp dan penggunaan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Aktifitas antagonis yang dilakukan agens hayati Trichoderma sp mampu menghambar pertumbuhan jamur patogen lainnya, hal ini karena kemampuannya menghasilkan enzim kitinase yang diproduksi oleh genus Trichoderma sp, lebih efektif daripada enzim kitinase yang dihasilkan organisme lain, untuk menghambat berbagai jamur patogen tanaman. Trichoderma sp juga dapat mengeluarkan zat antibiotik yang dapat mematikan jamur lain yang merugikan, sehingga Trichoderma sp dapat menekan serangan penyakit pada tanaman. Hasil penelitian Latifah, dkk 2011 dalam Rusdiana (2019) melaporkan bahwa cendawan Trichoderma sp mampu menurunkan intensitas penyakit sebesar 43,85 % pada tanaman bawang merah. PGPR adalah bakteri perakaran pemacu pertumbuhan tanaman. PGPR memproduksi fitohormin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, serta kombinasi antara bakteri Bacillus polymixa L dan Pseudomonas flourencens L yang dapat menurunkan perkembangan OPT serta meningkatkan ketersediaan nutrisi tanaman. PGPR merupakan sekelompok bakteri yang aktif dalam mengkolonisasi rhizosfer yang mampu merangsang pertumbuhan tanaman dan dapat meningkatkan hasil panen. Disusun Oleh : Yessi Arza, S.TP (PP Desa Kubang Tangah Kec. Lembah Segar) Sumber : Rusdiana. F.Y, Munambar.S, Sucahyo.A,. 2019. Pengaruh Agens Hayati Terhadap Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonium L.). Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Vol.26, No.2 Desember 2019. Sukmasari. D.M., Minawati. I. 2018. Efektifitas Agen Hayati Trichoderma sp Serta Pengaturan Jarak Tanam Terhadap Infeksi Penyakit, Pertumbuhan dan Hasil Ranaman Bawang Merah Di Luar Musim. Jurnal Ilmu Pertanian dan Peternakan Vo. 6 No.2 Desember 2018